Hari Pangan Sedunia: Sistem Pangan Masa Depan Harus Libatkan Orang Muda

Poster ajang Pemilihan Duta Petani Muda 2018 (dok. krkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 masih dihantui oleh krisis berupa semakin menuanya usia petani, sebagai produsen pangan skala kecil yang menjadi jantung dalam mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik 2015 menyebutkan, petani usia di bawah 35 tahun hanya berjumlah 12% dari jumlah petani yang ada. Regenerasi petani berjalan lambat karena orang muda pedesaan tidak berminat menjadi petani dan lebih memilik mencari pekerjaan di kota.

Disaster Risk Management Campaign and Advocacy Oxfam Indonesia Pertrasa Wacana mengatakan, kondisi tersebut menjadi semakin ironis karena orang muda perkotaan tidak lagi mengenali asal-usul pangannya, dari mana dan dihasilkan dengan cara apa. Karena itu, kata Petra, perubahan sistem pangan yang lebih baik dapat dimulai dengan mendorong partisipasi orang muda baik di perkotaan maupun di pedesaan.

“Orang muda adalah kunci perubahan sektor pertanian-pangan. mereka memiliki energi besar, daya juang, kreativitas, pemikiran kritis dan inovatif,” ujarnya, di acara Media Talk Partisipasi Orang Muda Perkotaan dalam Membangun Kedaulatan Pangan melalui Petani Muda, di Jakarta, Kamis (18/10).

Riset Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) tahun 2018 di kota Bogor mengungkapkan, sebagian besar orang muda menganggap pertanian adalah sektor penting. Tidak hanya untuk menyelesaikan persoalan kelaparan, namun juga memperbaiki kehidupan petani dan masyarakat pedesaan.

“Orang muda Bogor setuju pentingnya pertanian, bahkan 86 persen orang muda ini menganggap pertanian menjadi sektor yang menjanjikan di masa depan,” kata Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah.

Para orang muda ini, kata Said, beranggapan bahwa mendukung sektor pertanian adalah tindakan penting. “Salah satunya dengan mengonsumsi pangan lokal yang dihasilkan petani secara langsung,” ujarnya.

Dari Indonesia Bagian Timur, Perumpulan PIKUL mengungkap geliat orang muda pedesaan di wirausaha kreatif pertanian-pangan semakin menguat. Namun geliat ini masih didominasi laki-laki muda petani.

Riset PIKUL tahun 2017 menunjukkan rendahnya minat perempuan pedesaan menjadi petani. Lemahnya akses perempuan muda terhadap tanah, pengetahuan, teknologi, dan manfaat pertanian mendorong perempuan meninggalkan dunia pertanian.

“Jika perempuan muda di pedesaan tidak mendapat dukungan dan akses untuk menjadi sejahtera dari pertanian, mereka akan terpuruk dalam kemiskinan,” kata Direktur Perkumpulan PIKUL Torry Kuswardono.

“Menciptakan iklim bagi perempuan muda desa untuk kembali bertan, bukan hanya akan memperkuat ketahanan pangan tetapi juga menyejahterakan perempuan desa,” tegasnya.

Di Bandung, Perkumpulan Kuncup Pada Ilalang (KAIL) memberi ruang bagi generasi muda belajar pertanian dan sistem pangan berkelanjutan. KAIL menggelar workshop dan praktik di kebun yang dikelola KAIL. “Aktivitas seperti ini mendorong terbangunnya pola hidup sehat dan pebaikan ekosistem pertanian jangka panjang,” kata Koordinator KAIL Chatarina Any Sulistyowati.

Sementara itu, M. Maulana, founder co-working space pertaian workout.id mengatakan, orang muda memiliki potensi memperbaiki sistem pangan yang lebih efektif dengan cara inovatif. Insentif usaha berbasis teknologi seperti apps dengan berbagai model bisnis telah mendisrupsi praktik perdagangan pangan maupun relasi antar pelaku.

“Selain mendorong produksi pangan secara lokal berbagai apps yang ada saat ini dapat menjadi alat untuk menghubungkan produsen pangan dan konsumen di lokasi yang berjauhan sehingga keterhubungan desa dan kota dapat terjadi,” ujarnya.

Pentingnya keterhubungan antara orang muda di desa dan kota inilah yang melatari kampanye Duta Petani Muda 2018 oleh koalisi jaringan AgriProFocus Indonesia yang terdiri dari Oxfam di Indonesia, KAIL, KRKP, Perkumpulan PIKUL dan workout.id. “Inisiatif ini bertujuan mengangkat citra pertanian di kalangan orang muda dengan memilih petani muda inovatif sebagai inspirator sekaligus memperkuat kapasitas mereka dalam hal bisnis, perluasan jaringan dan pengembangan diri,” kta Country Network Coordinator AgriProFocus Indonesia Dedi Triadi.

Ajang Duta Petani Muda memilih 10 finalis untuk diundang mengikuti pelatihan bisnis inovatif dan pengembangan diri pada 26-30 November 2018. Satu peserta pelatihan terbaik berhak mendapatkan kesempatan kunjungan belajar sektor pertanian di Australia.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *