Hasil Perikanan Indonesia Jadi Primadona Ekspor | Villagerspost.com

Hasil Perikanan Indonesia Jadi Primadona Ekspor

Nelayan membawa ikan hasil tangkapannya (dok. wwf)

Jakarta, Villagerspost.com – Hasil perikanan Indonesia berupa ikan dan udang saat ini tengah menjadi primadona ekspor, khususnya ke sesama negara Asia seperti Jepang dan China. Hal itu terlihat dari meningkatnya nilai ekspor perikanan dari beberapa wilayah di Indonesia ke negara-negara tersebut. Ekspor ikan cakalang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya tercatat mengalami kenaikan sebanyak 13 ton di sepanjang bulan Mei lalu.

Jika pada bula April ekspor cakalang dari NTT tercatat sebesar 24 ton, pada Mei tercatat mengalami kenaikan menjadi sebesar 37 ton. Ikan cakalang yang diekspor terdiri dari cakalang asap 12 ton dan cakalang beku 25 ton lebih, dengan nilai ekspor sebesar US$92.465.

Komoditi cakalang, lanjutnya, lebih banyak diekspor ke negara tujuan Jepang, bahkan tercatat dari awal 2018, permintaan dari negara tersebut tetap ada. “Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang sejauh ini lebih banyak meminati komoditi ikan cakalang dari NTT,” kata Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Kupang Jimmy Yonathan Elwaren, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (19/6).

Jimmy menilai, ikan cakalang merupakan salah satu komoditi hasil perikanan yang paling diunggulkan dari provinsi dengan luas wilayah laut mencapai 200.000 kilometer persegi. Adapun jumlah ikan cakalang terbanyak yang diminta Jepang mencapai 74 ton pada Januari 2018 lalu.

Selain cakalang, NTT juga mengekspor komoditis ikan tuna loin beku ke Jepang pada Mei 2018, sebanyak 12,5 ton. Adapun beberapa komoditi lain perikanan yang dominan diekspor dari NTT yakni ikan cakalang asap dan beku, tuna loin, ikan kering, dan lencam beku.

Permintaan ikan cakalang NTT juga datang dari China namun masih dalam jumlah kecil, yakni sekitar 30 kilogram. “Biasanya permintaan yang sedikit itu hanya untuk sampel. Kalau sesuai kebutuhan maka selanjutnya bisa dalam jumlah banyak,” lanjut Jimmy.

Selain Cakalang, ekspor komoditi tuna dari NTT ke China juga mengalami kenaikan sebesar 10 ton lebih. SKIPM Kupang mencatat nilai ekspor ikan tuna loin ke negeri Tirai Bambu tersebut mencapai sebesar US$50.902. Sebelumnya permintaan tuna loin dari Tiongkok hanya dalam jumlah kecil sekitar 10 kilogram yang diekspor pada Maret 2018.

“Biasanya yang sedikit itu untuk sampel, jika sesuai kebutuhan negara pembeli maka selanjutnya yang diminta lebih banyak,” ujar Jimmy.

Pihaknya juga mencatat komoditi perikanan yang sebelumnya diminati China yakni gurita beku dengan jumlah yang diekspor pada Februari lalu sebanyak 15,8 ton. Ia menjelaskan, selain China, permintaan ekspor tuna loin juga datang dari Jepang sebanyak 12,5 ton dan Brunai Darussalam 200 kilogram. Tuna loin, merupakan salah satu komoditi perikanan yang dominan diekspor pada Mei 2018, selain cakalang beku dan asap, ikan kering, dan lencam beku.

Sejumlah negara tujuan ekspor di antaranya, China, Jepang, Brunei Darussalam, Timor Leste dan Filipina. “Semuanya diekspor melalui jalur laut dengan transit di Surabaya, kecuali ke Timor Leste yang melewati jalur darat karena hanya berbatasan wilayah langsung dengan NTT,” tuturnya,

Dari Jawa Tengah, komoditas perikanan yang menjadi primadona ekspor adalah udang dan cumi-cumi. Hal ini ditunjukkan dengan tren positif ekspor udang mencapai 22% dan cumi-cumi 18% dari total hasil perikanan di Jawa Tengah.

Kepala Balai Karantina Ikan Kelas II Tanjung Emas Semarang Raden Gatot Perdana menyebut komoditas udang dan cumi-cumi saat ini menjadi andalan ekspor perikanan Jawa Tengah. Pasalnya kedua komoditas tersebut amat digemari masyarakat, terutama di luar negeri.

“Ekspor hasil perikanan di Jateng terus alami kenaikan namun kami belum mengetahui secara pasti berapa kenaikkan ekspor ikan karena masih dalam proses perhitungan, yang jelas udang dan cumi masih mendominasi,” ujar Gatot.

Meningkatnya ekspor udang dan cumi-cumi dapat dilihat dari total ekspor ikan selama Februari 2018, yakni mencapai 1.823 ton dan menghasilkan pendapatan sebesar Rp165 miliar. Jumlah ini terhitung cukup banyak, meskipun selama Februari banyak nelayan yang tidak melaut akibat cuaca buruk.

Sementara itu, Amerika Serikat, Jepang, dan China masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar hasil perikanan Jawa Tengah. Masing-masing negara menjadi tujuan ekspor hasil perikanan yakni udang dan cumi-cumi dalam jumlah besar untuk dikonsumsi. “Amerika, Jepang, dan China masih jadi tujuan ekspor kami kebanyakan dari mereka menyukai udang dan cumi Indonesia untuk dijadikan beberapa olahan makanan,” ujar Gatot.

Komoditas udang dan cumi-cumi didapat dari beberapa nelayan di Pantura Jateng dan Kawasan Indonesia Timur. Khusus Indonesia Bagian Timur, udang dan cumi-cumi dikirim ke Semarang, kemudian dilanjutkan dikirim ke luar negeri. “Permintaan yang banyak dari dalam maupun luar negeri menjadi penyebab naiknya nilai jual udang dan cumi-cumi. Selain itu, pengiriman udang dan cumi-cumi juga dipengaruhi oleh cuaca yang seringkali berubah akhir-akhir ini,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *