Hindari Lahan Sawah Fiktif, CPCL dan Desain Harus Siap

Prajurit TNI ikut mengawasi jalannya program pencetakan sawah baru (dok. kodam wirabuana)
Prajurit TNI ikut mengawasi jalannya program pencetakan sawah baru (dok. kodam wirabuana)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah berencana untuk mencetak sawah baru seluas satu juta hektare. Namun program ini dinilai akan banyak mengalami kendala. Pasalnya untuk bisa mewujudkan program itu, pemerintah harus menyiapkan Calon Petani Calon Lahan (CPCL) dan desain lokasi. Tujuannya agar tidak terjadi pencetakan lahan sawah fiktif.

“Saya tidak menginginkan tanpa desain dalam cetak sawah baru, karena itu menyalahi teknis pelaksanaan perluasan sawah,” kata anggota Komisi IV DPR RI M. Nasyit Umar, dalam kunjungan kerja di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (22/3).

(Baca juga: Kementan Percepat Program Cetak Sawah dan Penyaluran Pupuk Subsidi)

Politisi Partai Demokrat itu, menyatakan, perlu koordinasi yang baik antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk merealisasikan target cetak sawah baru. Sebagai mantan Kepala Dinas PU di Sulawesi Selatan, Nasyit mengaku, tahu betul teknis bagaimana memperluas areal persawahan.

Cetak sawah, kata dia, harus dibarengi dengan pembangunan irigasi atau mencetak sawah pada areal irigasi yang sudah ada untuk dikembangkan. “Perluasan areal sawah harus mengutamakan areal yang memang sudah beririgasi. Harapannya, kelak masa panen yang tadinya satu kali, bisa dua kali dalam setahun. Hasil produksi tentu jadi meningkat,” katanya.

Apalagi, target pemerintah dari satu juta hektare sawah baru yang dicetak, setiap hektarenya bisa menghasilkan 6 ton gabah dan melakukan panen dua kali setahu. “Berarti pula 2×6 juta ton sama dengan 12 juta ton setahun. Ini akan membantu pemerintah untuk mempercepat swasembada beras ke depan,” ungkap Nasyit.

Dijelaskan Nasyit, pada 2015 program cetak sawah baru yang terealisasi mencapai sebanyak 23 ribu hektare yang pengerjaannya dilakukan bersama dengan TNI AD. Kemudian pada 2016 ditargetkan kurang lebih 200 ribu hektare, atau sepuluh kali lipat dari target 2015.

Anggaran yang disiapkan untuk itu mencapai Rp3,8 triliun. “Selama ini petani memang tak sanggup mencetak sawah baru dengan biaya sendiri. Oleh karena itu, pemerintah menganggarkan biaya cetak sawah di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Mengingat besaran target dan biaya yang dikeluarkan, Nasyit mengaku sudah mengingatkan Mentan untuk perogram pencetakan sawah baru tahun 2016 harus diawasi, disurvei, diukur, kemudian didesain sebelum dikerjakan. “Berdasarkan itulah cetak sawah dilakukan,” tegasnya.

Dengan begitu, kata dia, akan menghindari adanya lahan fiktif. Ia mengaku punya data lengkap seberapa banyak areal yang perlu dan potensial untuk dikembangkan menjadi areal persawahan. “Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian PUPR pasti juga punya data itu,” pungkasnya. (*)

Ikuti informasi terkait program pencetakan sawah baru >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *