Hutan dan Gambut Hilang, Sawit Terbilang | Villagerspost.com

Hutan dan Gambut Hilang, Sawit Terbilang

Bibit sawit ditanam di bekas lokasi kebakaran hutan dekat pusat konservasi orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah (dok. greenpeace/Ardiles Rante)

Bibit sawit ditanam di bekas lokasi kebakaran hutan dekat pusat konservasi orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah (dok. greenpeace/Ardiles Rante)

Jakarta, Villagerspost.com – Organisasi pembela lingkungan Greenpeace, hari ini, Kamis (5/11) mengunggah foto-foto dan video yang menunjukkan bibit sawit baru saja ditanam di lahan gambut yang sudah hancur terbakar beberapa kali di pinggir kawasan konservasi orangutan.

Greenpeace telah menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk memastikan tidak ada yang bisa mengambil keuntungan dari deforestasi yang diakibatkan oleh krisis asap dan mengharuskan seluruh hutan dan gambut yang telah terbakar untuk direstorasi.

Peta-peta yang tersedia saat ini namun sudah berusia tiga tahun lalu, menunjukkan tidak adanya konsesi (HGU) perkebunan kelapa sawit yang diberikan di dalam kawasan yang diinvestigasi Greenpeace. Pemerintah menolak merilis peta terbaru untuk dianalisis, sementara bulan lalu Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyatakan bahwa ada royalti dari penebangan hutan yang tidak dilaporkan dengan nilai kerugiannya mencapai US$9 miliar selama satu dekade terakhir.

Minggu lalu, kebakaran yang mencurigakan di bagian keuangan Kantor Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dicurigai telah menghancurkan bukti-bukti yang penting. Kini polisi sedang menyelidiki tindakan kriminal dalam kasus ini.

Seorang penyelidik lingkungan mengamati kawasan yang baru terbakar dan sudah ditanami bibit-bibit sawit di kawasan sebelah barat Palangkaraya, Kalimantan Tengah (dok. greenpeace/Ardiles Rante)

Seorang penyelidik lingkungan mengamati kawasan yang baru terbakar dan sudah ditanami bibit-bibit sawit di kawasan sebelah barat Palangkaraya, Kalimantan Tengah (dok. greenpeace/Ardiles Rante)

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Annisa Rahmawati mengatakan, kebakaran hutan tahun ini menjadi salah satu bencana terburuk yang pernah dialami negara ini. Karena itu, kata dia, sangat tidak masuk akal jika sampai ada yang mengambil keuntungan dari krisis ini.

“Presiden Jokowi telah menginstruksikan restorasi setelah kebakaran selesai–ini berarti merestorasi hutan dan lahan gambut, bukan menanaminya dengan kelapa sawit,” tegas Annisa dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (5/11).

Bersamaan dengan kebakaran yang mendekati kawasan konservasi orangutan di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah akhir bulan lalu, Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyerukan di akun Twitter-nya yang kemudian menjadi viral di media sosial.

“Habis bakar terbitlah sawit,” foto tersebut menunjukkan lahan yang dipenuhi dengan tunggul kayu yang terbakar dengan bibit sawit yang tersusun rapi.

Kawasan hutan bekas terbakar ditanami bibit-bibit sawit di Kalimantan Tengah (dok. greenpeace/Ardiles Rante)

Kawasan hutan bekas terbakar ditanami bibit-bibit sawit di Kalimantan Tengah (dok. greenpeace/Ardiles Rante)

Juru bicara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menanggapinya dengan menegaskan bahwa industri kelapa sawit telah menjadi korban dari kampanye hitam, yang menunjukkan bahwa penanaman bibit sawit tersebut bagian dari upaya menghancurkan citra industri sawit Indonesia.

Bagaimana pun, ketika Greenpeace mengunjungi daerah tersebut pada 27 Oktober lalu, warga lokal mengatakan kepada Greenpeace bahwa kawasan itu telah terbakar dua kali. Kemudian sekitar satu bulan terakhir tampaknya telah dimulai penanam kelapa sawit.

Polisi masih menyelidiki kawasan ini untuk mencari tahu jika terdapat tindak kejahatan. Namun seseorang telah mencoba memanfaatkan kebakaran ini untuk membangun perkebunan sawit.

“Siapa pemilik lahan ini? Apakah api ini untuk tujuan tertentu? Kita tidak tahu sampai pemerintah merealisasikan janjinya untuk mempublikasikan peta konsesi dan meminta pertanggungjawabkan dari pihak-pihak terkait,” kata Annisa. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *