Impor Bawang Merah “Palsu” dari India, Lima Importir Masuk Daftar Hitam | Villagerspost.com

Impor Bawang Merah “Palsu” dari India, Lima Importir Masuk Daftar Hitam

Bawang bombai ukuran kecil yang dijual sebagai bawang merah oleh impor nakal yang sudah diblacklist oleh Kementerian Pertanian (dok. kementerian perdagangan)

Jakarta, Villagerspost.com – Memasuki hari pertama aktivitas kerjanya pada Jumat (22/6), Kementerian Pertanian langsung tancap gas dengan memasukkan lima perusahaan importir komoditas pangan ke dalam daftar hitam (blacklist) karena kedapatan mengimpor bawang merah “palsu” dari India. Kelima perusahaan tersebut, PT TAU, PT SMA, PT KAS, PT FMP, dan PT JS mengimpor bawang bombai dari India yang dijual sebagai bawang merah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan, sebenarnya ada 10 importir nakal yang melakukan hal serupa. Namun baru lima perusahaan yang masuk daftar hitam. Amran menegaskan, bawang bombai yang diimpor adalah bawang dengan diameter kurang dari cm, dan bentuknya memang mirip bawang merah. Bawang bombai impor yang dijual sebagai bawang merah ini, kata dia akan sangat merugikan negara dan petani.

“Karena begitu masuk pasar. bawang bombai mini ini dijual sebagai bawang merah dengan harga jauh lebih murah. Akibatnya harga bawang merah lokal anjlok drastis,” jelas Amran.

Dia pun mengimbau kepada pedagang dan konsumen agar lebih teliti baik dalam memasarkan dan membeli bawang merah. “Jika menemukan bawang bombai merah berukuran kecil, segera laporkan kepada Satgas Pangan atau instansi berwajib untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.

Kementan, kata Amran, sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 105 Tahun 2017 telah menutup impor bawang bombai berukuran diameter kurang dari 5 cm. Alasannya karena secara morfologis bentuknya menyerupai bawang merah lokal sehingga berpotensi mengelabui konsumen dan merugikan petani lokal.

Menurut catatan Kementerian Pertanian, kelima importir tersebut hingga Juni 2018 memegang Surat Persetujuan Impor (SPI) sebanyak 73 ribu ton. Harga kulakan bawang bombai mini dari India ini hanya sekitar Rp2.500 per kg. Jika ditambah biaya-biaya pengiriman, clearance dan sebagainya, biaya pokok di Indonesia menjadi sekitar Rp6.000 per kg.

Setelah sampai ke tingkat distributor, harga tersebut menjadi sekitar Rp10.000 per kg dan harga di tingkat eceran sekitar Rp14.000 per kg. Sementara itu, harga bawang merah lokal di petani saat ini berkisar Rp18.000 dan di pasar retail rata rata sekitar Rp25.000 per kg.

“Keuntungan yang diraup importir bawang bombai mencapai Rp1,24 triliun, dan apabila 50% bawang bombai merah mini penetrasi ke pasar bawang merah lokal ada tambahan keuntungan lagi sebesar Rp455 miliar, sedangkan potensi dirugikan bagi petani bawang merah lokal bisa mencapai Rp5,8 triliun,” ungkap Amran.

Amran mengungkapkan, produksi bawang merah di dalam negeri per tahun sudah mencapai lebih dari 1,45 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi berkisar 1,2 juta ton, sehingga terjadi surplus. Bahkan, tambahnya, pada tahun 2017 Indonesia telah mengekspor lebih dari 7.750 ton bawang merah ke berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, Filipina, Singapura, Timor Leste dan Taiwan

Amran menjelaskan, modus penyelundupan bawang bombai ukuran kecil ini, biasanya dengan menyelipkan karung-karung berisi bawang bombai mini di kontainer sisi dalam sehingga menyulitkan pemeriksaan petugas. Pihaknya mensinyalir bawang bombai mini ini masuk melalui pintu pelabuhan Tanjung Perak dan Belawan.

Kementan, kata Amran, telah melakukan koordinasi intensif dengan Satgas Pangan dan instansi berwenang lainnya untuk mengusut tuntas kasus ini termasuk terhadap lembaga pengawas dan sertifikasi yang terlibat. Dia juga mengimbau kepada para pedagang agar tidak ikut memperjual-belikan bawang bombai mini tersebut.

Konsumen juga diminta lebih teliti membeli bawang merah agar jangan terkecoh hanya karena iming-iming harga murah. “Jika menemukan bawang bombai merah berukuran kecil, segera laporkan kepada Satgas Pangan atau instansi berwajib untuk ditindaklanjuti,” tegas Amran.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan Yasid Taufik menjelaskan, dari kasus ini, negara juga dirugikan hingga mencapai Rp1,6 triliun, dari dari hilangnya potensi tarif bea masuk. Untuk diketahui, tarif bea masuk bawang merah ditetapkan sebesar 20%, sedangkan bawang bombai 5%.

“Seharusnya kalau dibranding sebagai bawang merah, tarif masuknya 20% tetapi dia membayar 5% karena masuknya sebagai onion (bawang bombai) bukan shallot (bawang merah), tetapi dijualnya shallot bukan onion,” terang Yasid.

Yasid Taufik mengatakan, dia telah bertemu dengan perusahaan eksportir asal India untuk tidak mengekspor kembali ke Indonesia. Bila tidak, pihaknya akan melakukan tindakan tegas.

“Kemarin perusahaannya sudah ke kita, dan kita peringatkan kalau terus dilakukan seperti itu, artinya eksportir dari India yang yang mengekspor bawang dengan ukuran kecil, maka kita akan teruskan untuk selalu menyita bombay yang masuk ke kita,” terangnya.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi mengimbau agar masyarakat berhati-hati sebelum membeli bawang merah. Ia memaparkan, ciri-ciri bawang merah “palsu” tersebut tidak memiliki siung. Hal tersebut berbeda dengan bawang merah yang asli.

“Itu ada ciri-cirinya, bombai mini itu nggak ada siungnya, jadi satu buletan isinya lapis-lapis saja gitu, kalau bawang merah itu ada siungnya, ada dua, ada tiga,” terangnya.

Dari sisi rasa, bawang merah palsu ini pun berbeda dari bawang merah asli. “Terus rasanya juga beda. Ruginya ya bawang bombay itu dijual jadi bawang merah, padahal harga bawang bombay lebih murah dari itu harusnya,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *