Impor Benih Jadi Pemicu Kemunculan Penyakit Baru Tanaman Pangan

Pemusnahan bibit impor berpenyakit (dok. kementerian pertanian)
Pemusnahan bibit impor berpenyakit (dok. kementerian pertanian)

Bogor, Villagerspost.com – Kemuculan bibit penyakit baru pada tanaman banyak dipicu oleh masuknya bibit-bibit atau benih tanaman impor. Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) menegaskan, emerging desease atau penyebaran patogen (penyakit) dari satu daerah ke daerah lain atau masuknya penyakit eksotis dari satu negara ke negara lain terjadi antara lain melalui kegiatan importasi benih.

Guru Besar Ilmu Penyakit Tumbuhan UGM yang juga Sekretaris Jenderal PFI Prof. Achmadi Priyatmojo mengatakan, penyebaran sejumlah penyakit baru tanaman di Indonesia belakangan ini, memang dipicu berbagai faktor seperti iklim, penyebaran patogen antar daerah/negara, perubahan teknik budidaya, dan perubahan genetik patogen.

“Namun, faktor dominan munculnya emerging disease adalah penyebaran patogen dari satu daerah ke daerah lain atau masuknya penyakit eksotis dari satu negara ke negara lain lewat kegiatan impor benih,” ujar Prof. Achmadi dalam acara Simposium Nasional Fitopatologi yang dihelat Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB dan PFI, di Bogor, Selasa (17/1).

Dalam simposium dengan tema “Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih” juga diungkap, adanya kejadian baru penyakit busuk bulir padi yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae dan mematoda pucuk putih atau Aphelenchoides besseyi yang menyerang tanaman padi. “Kedua patogen ini diketahui sebagai patogen yang bersifat tular benih,” terang Achmadi.

Temuan itu menambah panjang daftar penyakit tanaman yang masuk dari luar yang muncul pada berbagai tanaman pertanian di Indonesia. Misalnya Pantoea stewartii pada jagung, Erwinia chrysantemi pada kentang, Nematoda Sista Kentang Globodera sp. (kentang), dan Bean Common Mosaic Virus (kacang panjang).

Kemudian ada juga bakteri Burkholderia glumae (padi), nematoda Aphelenchoides besseyi (padi), dan Papaya Ringspot Virus (pepaya). Di sisi lain patogen lama ada yang meningkat kejadiannya sehingga juga menjadi emerging diseases seperti Pyricularia oryzae penyebab penyakit blas pada padi.

Emerging disesases menjadi perhatian khusus kalangan akademisi, praktisi dan pengambil kebijakan, terutama bila terkait tanaman bernilai strategis dan menyangkut hajat hidup orang banyak seperti padi.

Hal-hal tersebut di atas yang mendasari diselenggarakannya Simposium Nasional Fitopatologi tersebut oleh PFI dan IPB. PFI sendiri merupakan organisasi profesi tempat bergabungnya ahli limu penyakit tumbuhan di Indonesia.

Simposium tersebut dihadiri oleh 80 orang, terdiri fdari anggota PFI dari berbagai Komisariat Daerah (Komda) yaitu Bandung, Jakarta, Jogja-Solo-Semarang, Pacet Segunung, Surabaya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, dan Bogor. Hadir pula Senat Fakultas Pertanian, Dewan Guru Besar IPB, serta dosen dan mahasiswa pascasarjana Fakutas Pertanian IPB.

Undangan terdiri dari dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi). Simposium menampilkan enam orang narasumber sekaligus.

Mereka adalah Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc. Agr. (Institut Pertanian Bogor), Hermawan SP., MSc (Pusat Karantina Tumbuhan , Badan Karantina Pertanian) dan Dr. Tri Joko, SP., MSc. (Univ. Gadja Mada, Yogyakarta). Kemudian, Prof. Dr. Baharuddin (Univ. Hasanuddin, Makassar), Dr. Lisnawita, SP., MP. (Univ. Sumatra Utara, Medan), dan Dr. Ir. Supramana, MSi. (Institut Pertanian Bogor )

Simposium dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr. “Pemerintah perlu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam impor benih,” kata Agus Purwito dalam sambutannya. Sementara itu, Dr. Ir. Giyanto, MSi selaku ketua panitia menyampaikan perlunya dibangun kesadaran bersama mengenai bahaya emerging diseases khususnya pada tanaman penting dan strategis di Indonesia.

Simposium sebagai forum para ahli fitopatologi (penyakit tanaman) Indonesia juga bertujuan mentradisikan dan mendorong pengambilan keputusan berdasarkan pengetahuan ilmiah (science-based policy). Pada akhirnya, setelah melewati proses berbagi informasi dan diskusi ilmiah di kalangan para ahli, diharapkan berhasil disusun butir-butir rekomendasi pengendalian di lapangan dan opsi kebijakan guna menangani kejadian emerging diseases.

Keenam narasumber mengkonfirmasi penyakit busuk bulir bakteri (disebabkan oleh bakteri Burkholderiaglumae) dan penyakit pucuk putih (disebabkan oleh nematoda Aphelenchoides  besseyi) sebagai emerging diseases pada padi yang harus diwaspadai dan tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Perlu respons cepat dan upaya khusus agar kedua patogen tersebut tidak menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.

Peserta simposium juga sepakat agar status kedua patogen tersebut dipertahankan sebagai organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A2. Diskusi juga menyepakati impor benih sebar sangat berisiko menjadi sarana masuknya penyakit baru pada padi karena faktor volume  yang  besar dan frekuensi yang tinggi. Selanjutnya, direkomendasikan pula untuk memasukkan syarat kesehatan benih/bebas patogen tertentu sebagai bagian dari sertifikasi benih.

Simposium juga mendorong perhimpunan profesi ilmiah, lembaga pendidikan tinggi, dan lembaga penelitian untuk bersinergi dan lebih berperan aktif dalam menjawab permasalahan aktual. “Jika ada permasalahan, harus segera dicarikan solusinya. Pendekatan intelektual digunakan untuk bisa menarik kesimpulan yang komprehensif, termasuk aspek edukasi dan sosialisasi ke praktisi pertanian dan pengambil kebijakan,” tegas Prof. Achmadi.

Sementara, Ketua Dewan Pengarah simposium, Prof. Sri Hendrastuti Hidayat (Guru Besar Ilmu Penyakit Tumbuhan IPB, ketua PFI komda Bogor) menjelaskan Simposium Fitopatologi tersebut akan menghasilkan luaran prosiding agar dapat diketahui juga oleh selain peserta simposium. “Ini penting, agar hasil kegiatan hari ini bisa dijadikan rujukan ilmiah di masa mendatang,” pungkas Prof. Asti. (*)

Ikuti informasi terkait impor benih >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *