Impor dan Operasi Pasar Upaya Stabilkan Harga Pangan

Pedagang barang kebutuhan pokok menjajakan dagangannya (dok. jabarprov.go.id)
Pedagang barang kebutuhan pokok menjajakan dagangannya (dok. jabarprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah akan mengimpor ribuan ton daging sapi dan melakukan operasi pasar besar-besaran untuk menstabilkan harga pangan pokok, khususnya daging pada bulan puasa dan lebaran ini. Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan, untuk daging sapi, pemerintah sudah mengeluarkan izin impor daging sapi puluhan ribu ton, termasuk 10.000 ton kepada Bulog, yang sampai 6 Juni realisasinya sudah mencapai 1.800 ton.

Selain itu ada penugasan kepada Berdikari 5.000 ton, namun realisasinya masih belum mulai. “Kami juga ada kerja sama dengan PD Dharma Jaya, BUMD dari Pemda DKI dan tidak kalah penting dengan penugasan-penugasan kepada BUMN. Kami juga menerbitkan izin impor kepada pihak swasta, importir swasta daging sapi. Sejauh ini sejumlah 23.200 ton kira-kira,” kata Tom Lembong, di Jakarta, Selasa (7/6) sore.

Dengan gelontoran daging impor ribuan ton itu, Mendag menyakini, akan mampu meningkatkan pasokan daging sapi dalam pekan-pekan mendatang. Selain daging, Tom Lembong mengatakan, pemerintah juga akan mengimpor komoditas lainnya seperti gula, bawang merah dan beras.

(Baca juga: DPR Minta Bulog Jadi Penyangga Pangan)

Untuk gula pasir, Tom mengatakan, harganya memang tak bisa diturunkan secara maksimal katena harga gula di dunia memang sedang tinggi. “Ini fenomena global, harga gula di Brazil, harga gula di Australia, di mana-mana lagi harga tinggi jadi tentunya punya dampak kepada harga gula di pasar domestik Indonesia,” ujarnya.

Meski begitu, pemerintah tetap menugaskan BUMN PT PPI untuk mengimpot sebanyak 152 ribu ton yang sudah disalurkan ke pasar melalui mekanisme operasi pasar. “Penyalurannya sudah mencapai 102 ribu ton ke daerah-daerah termasuk Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi, Sumatera Utara, dan beberapa yang lain,” ujarnya.

Dua BUMN lain yaitu PTPN dan RNI juga sudah ditugaskan melakukan impor gula mentah sebesar 381 ribu ton untuk diolah menjadi gula konsumsi. “Penyalurannya terus melalui mekanisme operasi pasar dengan tingkat harga Rp11.500-12.000 di titik lokasi yang harganya mengalami gejolak yang paling tinggi,” ujarnya.

Untuk bawang merah, kata Tom Lembong, pemerintah telah menerbitkan izin impor bawang merah sebesar 5.000 ton dan penugasan itu kepada Bulog. Bulog juga sudah menyerap kira-kira 1.000 ton bawang merah petani di beberapa sentra produksi.

Selain itu, pemerintah juga menambah izin impor dan penugasan untuk impor bibit bawang karena kekhawatiran dengan gejolak harga bawang kemarin, bibit-bibit petani pun dilepas ke pasar. “Kami memastikan bahwa setelah panen raya bulan Juli itu sudah gilirannya untuk tanam lagi, bibit itu sudah pasti tersedia. Jadi kesiapan bukan hanya untuk lebaran tapi juga pasca lebaran dan pasca panen raya bawang merah di bulan Juli,” papar Lembong.

Meski mengimpor, pemerintah, kata dia, tetap menjamin harga di tingkat petani. Pemerintah telah menetapkan harga acuan di tingkat petani seharga Rp15 ribu/kg sementara di tingkat konsumen Rp25 ribu/kg.

Untuk beras medium yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, menurut Mendag, HPP di tingkat petani masih Rp7.300/kg, sementara target di konsumen adalah Rp9.500/kg. “Jadi khusus di bulan Ramadan, kami memperbesar operasi pasar yang biasanya sekitar 150.000 ton per bulan, ditingkatkan menjadi 390.000 ton per bulan,” jelas Lembong.

Menurut Mendag, niat pemerintah untuk melakukan operasi pasar ini sangat terbantu dengan cadangan stok beras di Bulog yang sangat mencukupi, yaitu sebanyak 2,1 juta-2,2 juta ton beras. Selain itu, lanjut Mendag, keputusan pemerintah tahun lalu untuk mengimpor 1,5 juta ton beras di kuartal IV/2015 dan kuartal I/2015 ikut membantu memperkuat stok beras di Bulog.

“Dengan demikian sekarang memungkinkan untuk melakukan operasi pasar yang agak besar-besaran dalam rangka menurunkan harga beras di masyarakat,” jelasnya. (*)

Ikuti informasi terkait impor pangan >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *