Impor Jagung Jelang Panen, Bulog Tegaskan Siap Serap Jagung Petani

Mentan Amran Sulaiman melaksanakan panen jagung (dok. kementerian pertanian)

Jakarta, Villagerspost.com – Ketetapan pemerintah untuk mengimpor jagung sebanyak 30 ribu ton, membuat petani khawatir. Pasalnya, jagung impor itu akan datang bersamaan dengan musim panen jagung, pada bulan Februari. Para petani pun khawatir jagung mereka tidak terserap dan harga jatuh.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk menyerap jagung di panen raya waktu ini. Adapun Bulog telah memetakan daerah-daerah produksi yang siap untuk diserap.

Bulog, kata Buwas, siap untuk menyerap jagung sesuai dengan permintaan pemerintah. Pihaknya pun masih mengkaji jumlahnya. “Sesuai kebutuhan untuk cadangan peternak nanti yang dibutuhkan berapa,” kata dia di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/1).

Adapun, daerah yang dipetakan untuk penyerapan awal jagung adalah Garut, Tasikmalaya, Ciamis hingga daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Juga jadi kita mengikuti pola-pola panen akan kita serap sesuai wilayah. Sekarang sudah kita petakan beberapa peta termasuk Garut, Tasik, Ciamis, dan Jawa Timur, Jawa Tengah itu akan kita serap,” ungkapnya.

Buwas mengatakan penyerapan tersebut dilakukan sebagai cadangan pasokan di kala panen berkurang. Dengan begitu, paternak tidak perlu khawatir. “Kalau kelangkaan harga naik kita siapkan untuk cadangannya,” jelas dia.

Selain siap menyerap jagung petani, Buwas juga mengatakan, izin impor jagung sebesar 30 ribu ton tidak wajib dijalankan jika kebutuhan tersebut bisa dipenuhi oleh jagung produksi dalam negeri. “Belum pasti harus dilaksanakan. Kalau ternyata bisa dipenuhi dalam negeri, kenapa harus impor,” kata Buwas.

Buwas mencatat Bulog mendapat impor jagung 99 ribu ton dari total yang dipesan 100 ribu ton, yakni sesuai izin impor jagung yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan pada Desember 2018. Seluruh jagung yang sudah masuk sebesar 99 ribu ton tersebut sudah didistribusikan langsung sesuai kebutuhan peternak yang sebelumnya telah diputuskan dalam rakortas. Hal itu karena Bulog tidak memiliki gudang khusus untuk jagung.

Kemudian, sesuai keputusan rakortas awal Januari 2019, Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali mengeluarkan izin impor jagung tambahan sebesar 30 ribu ton. Buwas mengakui persebaran distribusi jagung impor tidak merata. Menurut dia, masalah distribusi ini wajar karena pemerintah memutuskan kuota impor jagung sesuai kebutuhan yang dilaporkan pada rakortas.

“Kita ini mengimpor berdasarkan kebutuhan kelompok peternak yang dilaporkan pada kita, maka kita angkat dalam rakortas. Setelah kita putuskan, ternyata banyak peternak lain yang minta,” katanya.

Namun demikian, Buwas menjelaskan Bulog belum membuka lelang untuk impor jagung tambahan sebesar 30.000 ton. Dengan kondisi lahan jagung Indonesia yang memasuki panen raya mulai Februari, Maret hingga April mendatang, Buwas mempertimbangkan kebutuhan jagung pakan ternak tersebut bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Kita lihat perkembangannya, ini kan harus dilihat soal panen, kita akan hitung ulang. Kalau nanti ternyata bisa dipenuhi dalam negeri, kita tidak perlu (impor),” kata Buwas.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *