Indonesia Berupaya Tembus Pasar Ekspor Halal

Stand pameran produk halal Indonesia di Moskow (dok. kementerian luar negeri)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Perdagangan akan terus mendorong ekspor produk halal dengan memanfaatkan keanggotaannya di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Arlinda mengatakan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk ekspor produk halal.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk ekspor produk halal, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, Indonesia akan terus mendorong ekspor produk halal dengan memanfaatkan keanggotaannya di OKI untuk meningkatkan akses pasar ke negara anggota lainnya seperti Turki, Nigeria, Mesir, dan Uni Emirat Arab dengan sebaik-baiknya,” kata Arlinda, saat membuka lokakarya dengan tema ‘Discovering Opportunities to Access Halal Market of the Organisation of Islamic Cooperation (OIC) Member Countries’ di Jakarta, pada hari ini, Senin (2/9).

Arlinda mengungkapkan, terdapat tiga hal yang menjadi isu perdagangan internasional terkait produk halal. Pertama, adanya perbedaan regulasi, standard, dan sistem sertifikasi halal di berbagai negara. Isu yang kedua adalah perbedaan sertifikasi atau tanda halal antarnegara yang terlibat dalam perdagangan produk halal. Terakhir, adanya perbedaan mahzab yang dianut di tiap negara, sehingga terdapat perbedaan intepretasi halal terhadap suatu produk.

Selain itu, ganjalan ekspor Indonesia ke negara OKI adalah tingginya tarif bea masuk. Hal tersebut menyebabkan ekspor kurang bersaing karena harga menjadi tinggi. Hingga saat ini, upaya penurunan tarif masih terus dilakukan Indonesia melalui perjanjian dagang dengan beberapa negara OKI. Perjanjian perdagangan dengan beberapa negara OKI yang saat ini tengah dalamtahap perundingan adalah Indonesia-Iran Preferential Trade Agreement (PTA), Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-Tunisia PTA, Indonesia-Pakistan Trade in Goods Agreement (TIGA), dan Indonesia-Bangladesh PTA.

“Lokakarya ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan mengenai konsep dan peraturan produk halal yang diterapkan di negara-negara OKI. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor produk halal Indonesia ke negaranegara anggota OKI,” tandas Arlinda.

Jumlah muslim di dunia pada tahun 2017 mencapai 1,8 miliar jiwa atau 24 persen dari total penduduk dunia dengan total pengeluaran sebanyak US$2,1 triliun dan terus meningkat setiap tahunnya. Sementara, jumlah populasi muslim di negara anggota OKI mencapai 1,3 miliar jiwa atau 80 persen dari total populasi muslim dunia.

Berdasarkan data yang diterbitkan Statistical, Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries (SESRIC), produk domestik bruto (GDP) negara anggota OKI tercatat sebesar US$15,8 triliun pada 2013. Nilai ini naik menjadi US$19,4 triliun pada 2017, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,1 persen.

Hal ini menunjukkan, perekonomian keseluruhan negara anggota OKI relatif meningkat, walaupun dihadapkan dengan melonjaknya beberapa harga komoditas dan kondisi ekonomi internasional yang kurang stabil. Sementara, ekspor produk halal Indonesia ke negara anggota OKI tahun 2018 tercatat sebesar US$45 miliar atau 12,5 persen dari total perdagangan nasional yang mencapai US$369 miliar.

Arlinda menambahkan, sejalan dengan upaya penurunan tarif bea masuk, peluang ekspor produk halal juga harus ditingkatkan. “Produk halal Indonesia seperti produk pangan, obat-obatan, kosmetik, dan pakaian muslim adalah komoditas yang harus lebih ditingkatkan untuk memasuki pasar halal OKI. Untuk itu, Kemendag terus memastikan produk-produk tersebut siap memenuhi persyaratan halal negara anggota OKI,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *