Indonesia Buka Peluang Ekspor Minyak Sawit ke Pakistan
|
Jakarta, Villagerspost.com – Pakistan akhirnya menghentikan rekomendasi pelarangan produksi Vanaspati Ghee (VG) yang berasal dari minyak sawit. Dengan demikian, peluang ekspor produk minyak sawit Indonesia ke Pakistan semakin terbuka lebar.
Keputusan itu sendiri diambil pada pertemuan Oil Seeds & Their Allied Products Technical Committee ke-117 Pakistan Standards & Quality Control Authority (PSQCA) di Karachi, Pakistan pada 10 April 2019 lalu. VG adalah minyak atau lemak makan dengan tekstur semi solid berupa suspensi yang terbuat dari minyak nabati yang telah mengalami proses penyulingan, pemutihan, deodorisasi, dan hidrogenasi.
Bila bahan bakunya berasal dari minyak sawit, VG tidak melalui proses hidrogenasi, mempunyai titik leleh yang ideal pada suhu di atas suhu ruang, dan bercita rasa lemak hewan melalui penambahan penyedap. “Indonesia menyambut baik berita positif ini, karena Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga kepentingan sawit sebagai salah satu produk andalan ekspor,” ungkap Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo, dalam siaran persnya, Selasa (28/5).
Pada pertemuan tersebut, PSQCA memutuskan untuk mengurangi kadar asam lemak trans dari 10 persen menjadi 5 persen dan meningkatkan titik lebur menjadi 39°C pada produk VG. Pengaplikasiannya sendiri akan dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan dari National Standard Committee of Agriculture & Food (NSCAF). Selain itu, PSQCA mengusulkan untuk menghilangkan lemak trans sesuai mandat organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2023.
Dengan keputusan ini berarti produksi VG tetap diizinkan. Namun, kadar lemak trans harus dikurangi secara bertahap hingga ke tingkat yang aman untuk dikonsumsi. Untuk itu, pengurangan kadar lemak trans dilakukan dengan mengadopsi standar keamanan makanan internasional.
Iman menambahkan, pada pertemuan ketiga Joint Committee Meeting for the Review of Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) tahun 2017, delegasi Indonesia selalu mengangkat isu kelapa sawit agar tidak terjadi kebijakan yang merugikan bagi ekspor Indonesia.
Selain itu, Duta Besar RI di Pakistan juga selalu melakukan upaya pendekatan untuk meyakinkan keberterimaan minyak sawit yang dipakai untuk VG. “Keputusan ini adalah keberhasilan diplomasi dagang yang secara konsisten kita lakukan sejak isu ini mencuat pertama kali tahun 2017,” tegas Iman.
Rekomendasi pelarangan VG dilakukan sejak Oktober 2017 setelah Pemerintah negara bagian Punjab, Pakistan melalui Punjab Food Authority (PFA) mengeluarkan aturan bahwa minyak VG yang berasal dari minyak sawit yang diolah, dilarang dikonsumsi sebagai bahan makanan. Langkah ini diambil karena VG dianggap berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Namun, setelah melalui berbagai pertemuan, baik resmi maupun tidak dan pembahasan antara Pemerintah Pakistan dan pihak swasta di negara tersebut, rekomendasi pelarangan tersebut akhirnya dihentikan. Di lain pihak, Pemerintah negara bagian Punjab juga mengakui kontribusi sawit bagi ekonomi Pakistan, termasuk dalam hal pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Di Pakistan, VG telah menyediakan sumber energi, vitamin, dan asam lemak esensial yang dibutuhkan, terutama untuk masyarakat pedesaan. Selain itu, VG merupakan produk yang telah dikonsumsi masyarakat Pakistan bertahun-tahun lamanya dan telah menciptakan lapangan kerja bagi pekerja terampil maupun tidak terampil, terutama di pedesaan
Editor: M. Agung Riyadi