Indonesia Nyaris Kecolongan Buah Impor Selundupan Pembawa Penyakit | Villagerspost.com

Indonesia Nyaris Kecolongan Buah Impor Selundupan Pembawa Penyakit

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menunjukkan buah impor ilegal yang diduga membawa penyakit tanaman (dok. dpr.go id)

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menunjukkan buah impor ilegal yang diduga membawa penyakit tanaman (dok. dpr.go id)

Jakarta, Villagerspost.com – Indonesia nyaris kecolongan dengan masuknya buah impor asal China yang berupaya dimasukkan secara illegal melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Buah ilegal sebanyak 34 kontainer atau setara 609.986 kilogram buah berbagai jenis seperti pear, jeruk dan apel tanpa jaminan kesehatan itu, jika berhasil diselundupkan akan membahayakan kesehatan para konsumennya.

Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron mengatakan, buah ilegal tanpa jaminan kesehatan asal China berpotensi membawa lalat buah yang sangat menyukai buah jeruk sebagai medianya. “Lalat buah ini sangat berbahaya untuk hortikultura kita, karena bisa menyebabkan gagal panen terutama tanaman jeruk dalam negeri pada skala besar. Hal ini tentunya akan sangat merugikan para petani, untuk itu perlu tindakan yang tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar,” kata Herman saat memimpin kunjungan kerja di Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Surabaya, Jumat (4/3).

(Baca Juga: Jokowi Kibarkan Revolusi Orange, Genjot Ekspor Buah Nusantara)

Selama ini, tambah Herman, proses karantina pertanian dilakukan setelah proses di Bea Cukai selesai, padahal seharusnya diletakkan di depan untuk mencegah impor buah ilegal seperti ini bisa masuk. “Kami menempatkan proses karantina pertanian (impor) pada Revisi  UU Karantina di garda paling depan dan juga kelembagaanya kita perkuat menjadi badan yang langsung bertanggung jawab pada presiden,” kata Herman.

Politisi asal F-Demokrat ini menegaskan, Badan Karantina nasional harus segera diwujudkan. “Mudah-mudahan dapat disambut baik oleh pemerintah, karena saat ini baru masuk sebagai usul inisiatif  DPR dan segera akan diparipurnakan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, akibat dari impor buah ilegal ini bisa menyebabkan potensi kerugian besar bagi petani. Menurutnya, jika telur dan larva lalat buah yang terbawa didalam buah jeruk ilegal ini menjangkiti tanaman jeruk dalam negeri, petani bisa merugi hingga sebesar Rp2,2 triliun,

Amran menerangkan, Jepang pernah terkena wabah penyakit lalat jenis ini, dan menyebabkan gagal panen hingga mencapai 50 persen. Untuk itu, kasus ini perlu ditindak secara tegas. “Kita akan segera membawa kasus ini ke ranah hukum,” ujarnya.

Amran mengatakan pihak yang terlibat telah Pasal 5 Undang-undang  Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Ancaman pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp150.000.000.- (seratus lima puluh juta rupiah). Para pelaku juga bisa dikenakan Pasal 31 UU Karantina dengan ancaman pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

Berdasarkan Permentan No. 42 Tahun 2012, spesies lalat buah yang berasal dari China adalah Bactrocera tsuneonis/Japanese Orange Fly/Cytrus Fruit Fly. Lalat ini merupakan organisme pengganggu tumbuhan yang belum terdapat di Indonesia, sehingga diperlukan kewaspadaan yang tinggi.

Isu keamanan pangan (food safety) menjadi sangat penting di dunia internasional dan telah diakomodir melalui peraturan Codex sebagai rujukan untuk seluruh negara. Hal ini sangat penting karena menyangkut kesehatan dan keselamatan manusia berkenaan dengan cemaran kimia, biologi, residu pestisida dan menjadi hak masyarakat untuk mendapatkan pangan yang aman dan layak dikonsumsi.

Berkenaan dengan hal tersebut, karantina pertanian yang memiliki tupoksi mencegah masuk dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dan mengawasi keamanan hayati hewani/ nabati (keamanan pangan/food safety) senantiasa melakukan pengawasan setiap pemasukan pangan segar yang masuk ke dalam wilayah Indonesia.

Badan Karantina Pertanian sangat concern melindungi konsumen dari cemaran sebagaimana tersebut di atas. Oleh karena itu, importasi harus dipastikan aman dan layak dikonsumsi bagi rakyat Indonesia.

Terkait masalah ini, Amran mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia lebih mencintai dan mengkonsumsi buah nusantara yang lebih sehat dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. “Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia lebih mencintai dan menkonsumsi buah nusantara yang lebih sehat dan juga demi meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia” pungkasnya. (*)

Ikuti informasi terkait buah impor >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *