Indonesia Sukses Dorong Komunike Bersama Sektor Kopi Berkelanjutan | Villagerspost.com

Indonesia Sukses Dorong Komunike Bersama Sektor Kopi Berkelanjutan

Berbagai jenis kopi Indonesia tersaji di lapak kedai Tukang Kopi Bali. (rizaldi abror/balisoulmate)

Jakarta, Villagerspost.com – Indonesia berhasil mendorong disepakatinya secara prinsipil Komunike Bersama untuk mencapai keberlanjutan ekonomi bagi sektor kopi global yang inklusif dan berketahanan. Komunike Bersama disepakati Dewan Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO), industri kopi global, dan organisasi internasional di sektor kopi dan pangan pada sidang ke-127 ICO yang diselenggarakan secara virtual pada 10-11 September kemarin.

Dalam pidato pembukaannya, Ketua Dewan Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization/ICO) periode 2019/2020 sekaligus Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo menyampaikan, pencapaian sektor kopi yang berkelanjutan dan berdaya saing menjadi prioritas ICO. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan kerja sama dan peran aktif antara sektor pemerintah dan sektor swasta kopi global.

Iman mengajak seluruh negara anggota ICO, yang juga merupakan bagian dari komunitas kopi global, untuk mendukung pelaksanaan tugas ICO mewujudkan sektor kopi yang berkelanjutan, inklusif, dan berketahanan. “Tidak hanya untuk menjamin peningkatan konsumsi kopi global, namun juga kesejahteraan hidup dari 25 juta petani kopi di seluruh dunia,” kata Iman dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (14/9).

Saat ini, keketuaan Indonesia di ICO dihadapkan pada berbagai tantangan besar, yaitu krisis harga kopi, krisis keuangan organisasi, dan krisis ekonomi global akibat pandemi COVID-19. Untuk itu, ICO berhasil menyepakati pembentukan Gugus Tugas Sektor Pemerintah dan Swasta (Coffee Public-Private Task Force/CPPTF).

CPPTF merupakan forum multi-stakeholder pertama di bawah ICO yang berfungsi untuk memberikan rekomendasi aksi kepada ICO (sektor pemerintah) dan Forum CEO dan Pemimpin Kopi Global (CEO and Global Leaders Forum/CGLF) (sektor industri). Caranya, dengan membentuk aksi bersama dan peta jalan untuk mencapai sektor kopi yang berkelanjutan.

Menurut Iman, gugus tugas yang dibentuk ICO di tengah berbagai krisis yang dihadapi sektor kopi global menjadi solusi terbaik untuk menyatukan suara dari berbagai pemangku kepentingan. “Melalui gugus tugas ini, ICO tidak hanya mendorong peran dan tanggung jawab negara dalam menyelesaikan berbagai tantangan di sektor kopi global, tapi juga melibatkan industri, organisasi internasional, dan bahkan petani,” tegas Iman.

Selain itu, lanjut Iman, gugus tugas juga menjadi forum bagi ICO untuk mendorong mobilisasi sumber daya dari industri kopi global sebagai bentuk peran dan tanggung jawab dalam menghadapi krisis kopi yang terjadi. “Indonesia yakin, inisiatif pembentukan gugus tugas akan menjadikan ICO sebagai organisasi yang modern dan dinamis dalam memberikan solusi nyata untuk menjawab berbagai tantangan dan krisis sektor kopi global,” jelas Iman.

Partisipasi aktif Indonesia di ICO juga dibuktikan dengan terpilihnya Plh. Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Antonius Yudi Triantoro sebagai salah satu sherpa/anggota gugus tugas. Gugus tugas tersebut terdiri atas 15 negara anggota ICO (mewakili 49 negara) dan 16 sektor swasta (termasuk industry champions seperti ECOM Agroindustrial, Nestle, Illy, Olam, Jacobs Douwe Egberts (JDE), Starbucks Coffee, Lavazza, Sucafina, Mercon Coffee Group, Tchibo, Neumann Kaffee Gruppe, dan Volacafe).

“Selain aktif sebagai anggota gugus tugas, Indonesia juga akan terlibat aktif dalam technical workstreams, yaitu komite teknis yang merupakan think-tank dari gugus tugas,” papar Yudi.

Komite teknis ini terdiri atas tenaga ahli yang mendiskusikan dan mengidentifikasi berbagai permasalahan dan solusi praktis untuk kepentingan sektor kopi global. Komite Teknis Indonesia terdiri dari tenaga ahli Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), dan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI).

Para tenaga ahli di komite teknis, akan bekerja sama menyelesaikan berbagai tantangan di tujuh area tematis, yaitu pendapatan hidup; transparansi pasar; konsumsi kopi yang bertanggungjawab; produksi dan sumber kopi yang berkelanjutan; kebijakan dan kelembagaan pasar; mekanisme pendanaan global; serta koordinasi sektor.

Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar ke-4 dunia dengan total produksi mencapai lebih dari 700 ribu ton per tahun dan 10 besar negara konsumen kopi global. “Untuk itu, kami optimistis, partisipasi aktif Indonesia di ICO akan memberikan kontribusi positif untuk mencari solusi terbaik bagi pemulihan sektor kopi global,” pungkas Yudi.

Konsumsi Kopi di Indonesia

Berdasarkan data ICO, tingkat konsumsi Indonesia tumbuh 44 persen dalam periode sepuluh tahun kopi (Oktober 2008-September 2019). Sementara itu, konsumsi kopi Indonesia per kapita pada periode tahun kopi Oktober 2018-September 2019 mencapai 1,13 kg/tahun.

Pada periode tahun kopi September 2019, pangsa tingkat konsumsi Indonesia di antara negara produsen di kawasan Asia dan Oseania merupakan yang tertinggi, yaitu 13,5 persen. Sementara itu, pangsa tingkat konsumsi Indonesia di dunia pada tahun yang sama merupakan yang tertinggi ke-5, yaitu sebesar 2,9 persen. Tahun kopi adalah periode 12 bulan yang terhitung mulai Oktober tahun tersebut hingga September tahun berikutnya.

Untuk mendongkrak konsumsi domestik, Indonesia meningkatkan kapasitas melalui pemanfaatan dana khusus dari ICO, termasuk untuk kegiatan peningkatan manajerial dan pemasaran bagi wiraswasta muda di sektor kopi (youth coffeepreneur) serta mendorong pengenalan konsumsi kopi usia dini.

Proyek ini akan dimulai pada 2021 melalui kerja sama antarkementerian dan kolaborasi dengan pemangku sektor kopi lainnya. Di tengah berbagai tantangan sektor kopi global, peningkatan konsumsi domestik merupakan solusi terbaik saat ini untuk mewujudkan sektor kopi nasional yang berketahanan dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Tidak saja dalam masa pandemi, namun juga di masa depan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *