Indra Petani Muda Indramayu, Penemu Bahan Organik Cair Anti Hama dan Penyakit Padi

Indra, si petani muda Indramayu, penemu bahan organik cair (BOC) untuk menghadapi hama dan penyakit padi (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Indramayu, Villagerspost.com – Namanya Indra, usianya baru menginjak 25 tahun. Dia hanya berpendidikan sampai tingkat sekolah menengah pertama. Tetapi, jangan anggap remeh petani muda asal Desa Kedokan Gabus, Kecamatan Gabuswetan, Indramayu ini. Indra adalah seorang petani muda penemu yang berhasil menciptakan bahan organik cair (BOC) untuk menghadapi hama dan penyakit padi.

Indra memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, untuk membuat pestisida, insektisida dan fungisida. Dia menamai tiap-tiap formula yang diciptakan berdasarkan warna formula dan peruntukannya. Misalnya BOC Hijau khusus untuk hama wereng, BOC Coklat untuk fungisida dan insektisida lambung (insektisida yang membunuh serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang mereka makan), dan BOC Kuning untuk insektisida kontak (insektisida yang masuk kedalam tubuh serangga melalui kulit, celah/lubang alami pada tubuh/trachea).

“Aplikasinya mudah, cairan cukup dilarutkan dengan air dan kemudian disemprotkan pada tanaman padi, untuk satu tangki 14 liter cukup menggunakan 200 mililiter BOC,” kata Indra kepada Villagerspost.com, Minggu (24/6).

Petani mencampurkan BOC Coklat ciptaan Indra untuk membasmi hama serangga (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Dia mengaku, sudah menciptakan BOC ini sejak lima tahun belakangan. “Saya terinspirasi dari kakek dan ayah saya,” katanya. Indra mengaku, sang kakek yang juga petani, hidupnya sangat sehat dan usianya bisa mencapai 100 tahun. Ternyata, rahasia sehat sang kakek adalah ada pada makanan yang dimakan.

“Kakek dan ayah serta keluarga saya makan makanan yang tidak terpapar racun kima,” ujarnya. Ternyata sang kakek punya rahasia agar tanaman padinya tidak terserang hama, yaitu dengan membuat sendiri insektisida dan pestisida alami dari bahan-bahan sekitar. “Waktu itu memang belum ada bahan-bahan kimia, semua masih serba organis,” katanya.

Tradisi bertanam secara organis ini diteruskan oleh sang ayah dan kemudian oleh Indra. Sebagai petani, Indra berpikir jika mampu memanfaatkan bahan-bahan yang ada di alam untuk meningkatkan produksi tanaman padinya, tentu selain lebih sehat, juga usaha taninya semakin ekonomis.

Maka sejak 5 tahun lalu, Indra memulai serangkaian uji coba untuk membuat sendiri bahan-bahan organis untuk melawan hama penyakit tanaman sehingga akhirnya dia mampu menciptakan formula BOC-nya sendiri.

Petani mengaplikasikan BOC ciptaan Indra pada sawahnya (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Indra sendiri berbagi sedikit ilmu untuk membuat salah satu jenis BOC. Untuk membuat BOC Coklat, untuk kontak lambung insektisida, kata dia, membutuhkan 20 bahan. Bahan utamany adalah tanaman brotowali, buah berenuk (Crescentia cujete), daun sirsak dan mahoni. Bahan pengiringnya adalah daun kipahit, mimba, bawang putih, bawang merah, dan air perasan tembakau. “Untuk air tembakau bisa memanfaatkan tembakau bekas rokok yang dibuang,” kata Indra.

Kemudian air rendaman cengkeh, kunyit, jahe, kemiri, cabai, sereh, air kelapa, air gula, daun mengkudu dan pisang. “Semua bahan itu dicampur dan diblender hingga halus, kemudian difermentasi antara 2 minggu hingga 2 bulan,” terang Indra.

Kemudian agar cairan bisa melekat baik pada tanaman dan tak mudah terhapus air, dicampurkan pula dengan bahan pelekat berupa putih telur, lidah buaya, air gula dan air kelapa. “Kalau cuaca ekstreme, hujan terus bisa ditambah tepung boled (tepung ubi),” tambah Indra. Setelah difermetasi, bahan-bahan itu siap digunakan sebagai insektisida alami.

Hama kupu-kupu putih, mati setelah disemprot dengan BOC Coklat ciptaan Indra (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Indra mengaku formula yang diciptakannya ini cukup ampuh menghalau hama padi sehingga hasil panennya lumayan bagus. Dia sendiri memiliki lahan seluas 1 bahu atau setara 0,7 hektare. “Waktu MT1 kemarin (musim tanam kesatu-red) hasil gabahnya bisa mencapai 7 ton 1 kuintal,” kata Indra.

Hasil yang sangat baik itu, kata dia, masih ditambah lagi dengan penghematan biaya kebutuhan tanam untuk insektisida dan sebagainya hingga 50 persen lebih. “Kalau menggunakan bahan kima, mulai dari pupuk, insektisida, pestisida, fungisida dan sebagainya, full kimia, biaya per hektare bisa mencapai 7 juta rupiah lebih, dengan membuat sendiri obat-obatan anti hama dan penyakit dengan bahan organis, biaya bisa ditekan hanya sebesar 3 juta rupiah,” ujar Indra.

Satu hal yang dia keluhkan saat ini adalah temuannya ini belum diuji laboratorium sehingga dia belum berani memproduksi massal dan mempatenkan temuannya. Padahal, kata Indra, satu temuannya yaitu BOC coklat sudah sempat diproduksi petani lain yang mencuri ide dari dia. “Saya izinkan pakai, eh ternyata sudah dia produksi,” kata Indra.

Karena itu dia berharap, instansi terkait dan lembaga pendidikan tinggi pertanian seperti IPB mau membantunya menguji temuannya ini dan mempatenkannya. “Kalau bisa dipatenkan, saya bisa memproduksi massal dan juga menjualnya, jadi dengan temuan ini, saya bisa menjadi petani berdasi,” pungkas Indra.

Laporan/Foto: Zaenal Mutaqien, Petani Muda dari Desa Muntur, Losarang, Indramayu, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *