Ini Dia Penyebab Anjloknya Harga Bawang Merah Brebes

Bawang merah asal Brebes siap diekspor ke Thailand (dok. kemendag.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Harga bawang hasil panen petani Brebes anjlok. Bawang merah kualitas super hanya dihargai sebesar Rp7.000 sampai Rp8.000 per kilogram, sementara bawang merah kualitas standar dihargai Rp4.000 per kilogram. Petani bawang di Brebes pun menjerit. Mereka bahkan sempat melakukan aksi melempari kantor Bupati Brebes dengan bawang merah menuntut pemerintah bertindak mengatasi masalah itu.

Terkait anjloknya harga bawang di Brebes ini, Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono menjelaskan anjloknya harga bawang merah disebabkan karena wilayah yang biasa menjadi pelanggan bawang merah dari Brebes, sudah memiliki sentra bawang merahnya masing-masing. “Daerah yang biasa ambil bawang merah ke Brebes, sekarang punya sentra sendiri. Misalnya kawasan Nusa Tenggara (Timur, dan Barat). Mereka nggak menyerap (bawang merah) ke sana (Brebes) lagi,” ujar Spudnik, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (5/1).

Kementan, kata dia telah berupaya menjaga kestabilan harga bawang merah sejak libur Natal dan Tahun Baru. Hal ini lah yang membuat pemerintah menumbuhkan sentra-sentra bawang merah baru di wilayah Sumatera, dan Kalimantan. Akibat pertumbuhan sentra baru, maka sentra bawang merah di Jawa Tengah seperti di Brebes tak lagi menjadi andalan daerah lain.

“Kami memang menjaga benar harga pasokan (bawang merah). Dari Brebes memang kerap mengirim ke Surabaya, dan luar Jawa. Tapi kami membuat program (sentra bawang merah) bukan hanya untuk di Jawa, jadi Sumatera, dan Kalimantan aliran (pasokan bawang merah) tidak jalan dulu,” jelas Spudnik.

Untuk mengantisipasi hal ini, Spudnik mengatakan Bulog juga bisa menyerap bawang merah agar harga kembali normal. Cara ini juga bisa menjaga kestabilan pasokan pada Februari nanti. “Kami waspadai pasokan, jika Februari hujan, Bulog juga harus berperan (menyerap hasil panen),” tandasnya.

Sebelumnya, para petani bawang di Brebes, Jawa Tengah dibikin pusing kepala alias mumet lantaran hasil panen bawang merah mereka yang melimpah ternyata tidak dihargai secara memadai. Harga bawang merah yang anjlok membuat petani malah mengalami kerugian. “Mumet harga bawang murah,” kata Kasad, salah seorang petani bawang merah di Brebes, kepada Villagerspost.com, Rabu (5/12), sambil menempuk dahi.

Kasad mengaku, sebenarnya, hasil panen bawang merah rata-rata bagus. “Per petak hasilnya 8 kuintal,” ujarnya. Hanya saja, kata dia, hasil yang bagus itu tidak juga menyejahterakan petani jika harganya anjlok. Pasalnya biaya menanam hingga panen cukup tinggi.

Untuk harga tebas, per petak, kata Kasad, mencapai Rp7 juta. Namun, jika dihitung antara harga yang diterima petani itu, dengan biaya bertani bawang, dari pengolahan lahan, bibit, tanam, pupuk, pengendalian hama, dan panen maka harga per petak senilai Rp7 juta tidak cukup. “Pasalnya biaya produksi sudah di atas itu,” ujar Kasad.

Dia mengaku, sudah tiga musim ini harga bawang merah tidak bersahabat dengan petani bawang. Sehingga banyak petani yang tidak menjual bawang merahnya atau di panen sendiri dan nantinya akan disimpan terlebih dahulu, jika harga sudah baik maka akan di jual. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *