Inovasi Hidroponik “Tadah Hujan” Ala Anak-Anak Gubug

Instalasi hidroponik milik anak-anak GUBUG, Desa Sidamulya, Brebes, kembali berproduksi setelah berinovasi dengan memanfaatkan air hujan (villagerspost.com/suharjo)

Brebes, Villagerspost.com – Hidroponik adalah budidaya tanaman dengan media air, namun tak sembarang air bisa dijadikan media tumbuh bagi tanaman dalam sistem hidroponik. Air yang diperuntukkan bagi media tanam memiliki syarat kadar zat terlarut yang diukur dengan alat TDS meter dengan satuan ppm. Air yang layak untuk media hidroponik adalah jika diukur dengan TDS menunjukan ppm di bawah 100 ppm.

Kesulitan mendapatkan sumber air inilah yang kini tengah dihadapi para pemuda Brebes yang tergabung dalam Generasi Muda Bergerak untuk Gemilang (GUBUG), yang mengembangkan budidaya tanaman hidroponik di Desa Sidamulya. “Mulanya kami menggunakan air dari PDAM, GUBUG membeli air dari pelanggan PDAM, di dekat instalasi hidroponik kami,” kata Ketua GUBUG Sukiswo, kepada Villagerspost.com, Jumat (25/1).

Untuk pembayaran tagihan, beban tagihan di bagi dua 50:50 antara GUBUG dengan si pelanggan PDAM. Namun, sebulan berjalan, para anggota GUBUG mulai kerepotan. Selain harus bekerja keras setiap hari memasang dan menggulung selang, hanya untuk mengalirkan air ke bak penampungan, jerigen, dan styrofoam tempat media tanam.

“Selain itu kami juga terkendala air PDAM tidak mengalir karena menurut informasi, debit airnya kurang sehingga sering mati bergilir air PDAM-nya,” tambah Sukiswo.

Didera kesulitan air, anak-anak GUBUG pun mulai mencoba berbagai ragam inovasi untuk mengatasi kesulitan air. Mula-mula, anak-anak GUBUG mencoba memanfaatkan air sumur. Namun ternyata kualitas air sumur yang dipakai tidak memenuhi syarat. Ketika diukur dengan TDS meter, ternyata angkanya menyentuh 520 ppm. “Meski tahu tidak layak, tetapi tetap dicoba untuk media tanam, dan hasilnya tanaman hidup, tetapi tidak tumbuh besar, tidak berkembang,” kata Sukiswo.

Kemudian anggota GUBUG pun mengadakan diskusi bersama, dan diputuskan agar GUBUG bisa berlangganan air PDAM. Para anggota GUBUG pun kemudian mencoba mendaftar untuk bisa mendapatkan sambungan air PDAM.

“Namun pada waktu anggota kami Rokhim, ke kantor cabang PDAM Wanasari untuk mendaftar menjadi langganan, namun ternyata menurut petugas yang di sana, PDAM tengah menghentikan pemasangan langganan baru dengan alasan debit air sedikit dan adanya perbaikan embung-embung penampung,” tambah Sukiswo.

Dengan tingkat kejernihan yang baik, air hujan sangat baik untuk pertumbuhan sayuran (villagerspost.com/suharjo)

Karena tidak ada air yang layak untuk media dan ingin berlangganan PDAM tidak bisa, maka budidaya hidroponik sempat terhenti selama satu bulan. “Budidaya terhenti tetapi banyak pelanggan yang order,” kata Sukiswo.

Anak-anak GUBUG pun kemudian kembali berdiskusi, dan akhirnya diputuskan untuk sementara, uang kas hasil penjualan sayuran hidroponik selama ini, dipakai untuk membangun greenhouse, meski sadar bahwa belum bisa menanam karena terkendala air.

“Ada alasan kenapa memilih membuat greenhouse terlebih dahulu, ini karena sebulan kedepan akan memasuki musim penghujan, belajar dari pengalaman sebelumya air hujan dengan intensitas tinggi dapat merusak tanaman hidroponik, pada awalnya hanya berfikir seperti itu,” kata Sukiswo.

Namun kemudian, muncul ide dari Wakil Ketua GUBUG Aji, untuk memanfaatkan air hujan untuk media tanam hidroponik. Aji sebelumnya, punya pengalaman memanfaatkan air hujan untuk hidroponik karena air hujan diukur dengan TDS menunjukan angka 10 sampe 14 ppm. “Ini sangat bagus untuk budidaya karena kita bisa mengetahui nutrisi yang tepat untuk tanaman dan sesuai takaran,” kata Aji.

Maka akhirnya jadilah, anak-anak GUBUG berinovasi melaksanakan budidaya sayuran hidroponik “tadah hujan” alias memanfaatkan air hujan untuk media tanam. Pada awalnya ketika ada hujan, anak-anak GUBUG menampung air hujan yang jatuh lewat talang menggunakan ember, bak dan lainnya agar bisa tertampung.

Sayuran hidroponik “tadah hujan” ini, sudah siap dipanen (villagerspost.com/suharjo)

Berjalan beberapa minggu dengan sistem seperti itu, anak-anak GUBUG kembali merasa kelelahan karena harus bolak-balik mengangkut air yang telah ditampung kemudian dikumpulkan jadi satu. Kemudian, kembali muncul ide untuk membuat bak penampung yang besar agar awet untuk menampung air hujan.

“Tapi agar biar tidak repot maka bak penampung air hujan diposisikan di ujung greenhouse pas di tempat air hujan jatuh dari atap greenhouse,” kata Aji.

Akhirnya GUBUG membuat tampungan air di tempat jatuhnya air dari atas ujung greenhouse dengan ukuran 5m x 1m x 1m. Akhirnya kebutuhan air untuk budidaya terpenuhi.¬†“Namun muncul masalah baru yaitu adanya jentik-jentik nyamuk yang banyak akhirnya kita carikan ikan kecil dari sawah yaitu ikan betik dan ikan sepat agar mengendalikan jentik-jentik nyamuk,” ujar Aji.

Namun masalah ternyata belum selesai. Ketika hujan besar dan bak penampung penuh, karena sifatnya yang agresif, ikan betik ketika airnya penuh cenderung melompat keluar bak, sehingga akhirnya semua ikan betik hilang. “Karena ikannya semua hilang maka munculah jentik-jentik nyamuk lagi,” kata Aji.

“Kemudian kita coba tebar ikan nila merah, Alhamdulillah meski bak penampung penuh dan sampai tumpah-tumpah, ikan nila tidak hilang, meski jumlah ikan hanya sebanyak empat ekor dan masih kecil, namun jentik-jentik nyamuk lenyap. Sekarang budidaya Alhamdulillah lancar dan sudah panen di kloter pertama,” pungkas Aji.

Laporan/Foto: Suharjo, Petani Muda Desa Sidamulya, Brebes, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *