Investasi Bank Hana di Sektor PLTU Batubara Jadi Sorotan

PLTU Batubara Labuan 2 yang keberadaannya diprotes nelayan karena merusak lingkungan (dok. greenpeace indonesia)

Jakarta, Villaberspost.com – Bertepatan dengan Hari Bank Sedunia (1/4), koalisi masyarakat sipil Bersihkan Indonesia menyoroti investasi Hana Bank Indonesia pada pembangunan PLTU 9 dan 10 di Suralaya, Banten. Investasi Hana Bank Indonesia terhadap pembangunan kedua PLTU ini dianggap tidak sesuai dengan komitmen Hana Financial Group, perusahaan induk Hana Bank Indonesia, untuk memfokuskan investasinya di ekonomi hijau.

Inkonsistensi Hana Bank Indonesia ditunjukkan koalisi melalui sebuah petisi online di laman Change.org dengan tajuk ‘Tolak Pembangunan PLTU 9 dan 10, Selamatkan Banten dari Ancaman Debu Beracun’.

“Kok Hana Bank Indonesia malah membiayai pembangunan PLTU 9 dan 10 di Banten, yang jelas-jelas bakal merusak lingkungan dan merugikan masyarakat? Jumlah investasi pembangkit listrik energi kotor ini begitu besar, 200 milyar won, atau 2,5 triliun Rupiah!” tulis Andri Prasetiyo, peneliti Trend Asia, perwakilan koalisi di update petisi.

Koalisi menganggap pembangunan PLTU 9 & 10 di Banten hanya akan merugikan masyarakat dan lingkungan. “Pembakaran batu bara menghasilkan polutan berbahaya yang jika dibiarkan bisa memberikan dampak serius bagi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, termasuk munculnya berbagai penyakit pernapasan,” kata Andri.

Sebelumnya, Edi Suriana, keluarga dari korban meninggal karena polusi PLTU di Banten, sempat berkata, dampak yang diberikan oleh banyaknya abu pembakaran batu bara tidak dapat langsung dirasakan. “Debu fly ash (batubara) nggak kayak makan cabai, dimakan langsung pedas. Debu itu waktu dihirup ada waktu satu hingga dua tahun (baru kelihatan dampaknya),” jelasnya.

Sejak diluncurkan 3 bulan yang lalu, petisi ini telah didukung oleh lebih dari 15.000 orang dari berbagai latar belakang dan daerah. Kebanyakan setuju bahwa masyarakat layak mendapatkan udara bersih, dan pemerintah harus ambil andil dalam mewujudkan hak masyarakat tersebut.

“Pembangunan seharusnya memperhatikan kondisi lingkungan sekitar apalagi jika di daerah tersebut memang menjadi daerah berpenghuni,” kata Fetrisia Ischak, salah seorang pendukung petisi.

Pendukung petisi lainnya, Arnold Karauwan, menyebut bahwa penghentian pembangunan ini juga penting untuk masa depan. “Saya menandatangani demi kepentingan kesehatan anak cucu dan warga yang akan mengalami dampaknya pada masa yang akan datang,” katanya.

Di akhir update petisi, koalisi pun kembali meminta agar pembangunan PLTU 9 & 10 dihentikan. Salah satu caranya adalah dengan penghentian pembiayaan pembangunan oleh Hana Bank Indonesia.

“Semoga Hana Bank mau stop prank masyarakat Banten, dan benar-benar melakukan janjinya untuk terus berinvestasi di industri yang hijau dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutup mereka.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *