Jakarta Bisa Jadi Kota Maju Dengan Energi Surya

Jakarta, Villagerspost.com – Laporan terbaru Greenpeace Indonesia bekerja sama dengan Tropical Renewable Energy Center (TREC) Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan, Jakarta bisa menjadi kota yang maju dan berkelanjutan dengan mengembangkan energi surya. Laporan yang dirilis, Selasa (26/1) ini, mengkaji potensi pengembangan energi surya melalui sistem PLTS atap dengan menganalisis potensi pasar dari rumah tangga, bisnis, dan industri di Jakarta.

Dalam laporan bertajuk: “Jakarta Solar City” itu disebutkan, pengembangan energi surya di Jakarta tidak semata-mata hanya untuk pemenuhan kebutuhan energi namun juga sebagai upaya penurunan emisi serta polusi dari gas buang PLTU batu bara yang menjadi sumber utama pasokan listrik di Jakarta. Selain itu, aspek yang tidak kalah penting adalah penyerapan tenaga kerja, terutama di tengah kondisi pandemi yang menyebabkan banyak orang kehilangan mata pencaharian.

Direktur TREC UI Eko Adhi Setiawan mengatakan, Jakarta yang saat ini sedang berusaha memperbaiki kualitas udaranya, memiliki banyak potensi untuk merealisasikannya dari sektor energi. Selain potensi teknis, potensi pasarnya juga ada.

“Dari hasil survei yang dilakukan dalam riset ini, keinginan masyarakat Jakarta untuk memasang surya atap cukup tinggi. Diproyeksikan dengan skema ‘pesimis’ saja jumlah pelanggan yang ingin memasang mencapai 1,15 juta pelanggan rumah tangga. Dengan skema ‘optimis’, angka tersebut mencapai 2,4 juta,” ujar Eko.

Potensi pasar menjadi fokus dalam riset yang dilakukan oleh TREC UI dan Greenpeace Indonesia. Proyeksi pasar, penurunan emisi serta penyerapan tenaga kerja dibuat dalam tiga skenario utama, yaitu ‘pesimis’, ‘realistis’ dan ‘optimis’. Sektor rumah tangga, bisnis dan industri menjadi sektor yang disasar karena besarnya demand listrik dari ketiga sektor tersebut.

Eko memaparkan, berdasarkan proyeksi, potensi kapasitas terpasang dari ketiga sektor mencapai 3,65GW, 4,8GW dan 8,4GW untuk ketiga skenario secara berurutan. “Angka yang tinggi, mengingat potensi ini baru diambil dari satu provinsi saja. Beranjak dari kapasitas terpasang, kita dapat menghitung pula potensi pengurangan emisi gas rumah kaca yang mencapai 4,7 juta, 6,25 juta dan 11 juta Ton CO2eq dalam setahun,” jelasnya.

Hal ini akan membantu Jakarta dalam mewujudkan target pengurangan emisi sebesar 30% hingga 2030. “Bahkan dengan skenario ‘optimis’, pengurangan emisinya mencapai 31,1%, sedikit di atas target Pemerintah Daerah,” lanjut Eko.

Dalam laporan tersebut juga diproyeksikan peluang penyerapan tenaga kerja dari produksi PLTS atap. Dengan skenario realistis, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan mencapai 52.723 orang. Berdasarkan data dari PT Quint Solar Indonesia, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk EPC (Engineering- Procurement- Construction) pada pemasangan Panel Surya 10 MW sebanyak 98 orang selama 1 tahun.

Pekerja dengan keahlian mekanikal mendapatkan porsi terbesar yaitu 40 orang, disusul keahlian electrical 20 orang, bidang sipil 15 orang. Dari data ini dapat diasumsikan bahwa 1 MW per tahun dibutuhkan 9,8 orang (10 orang) tenaga kerja.

Pandemi COVID- 19 memberi kita banyak sekali pelajaran. Salah satunya adalah tentang kemandirian masyarakat dalam memperoleh kebutuhan mendasar seperti pangan dan energi. “Dengan kemampuan masyarakat untuk memproduksi listrik sendiri, baik secara komunal maupun individual melalui PLTS atap, akan membantu terciptanya ketahanan energi yang berkelanjutan, serta minim emisi dan bebas polusi,” tegas Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Satrio S. Prilianto.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.