Jalan Kemandirian Nelayan Bunaken, Lewat Produksi Bakso Ikan

Ibu-ibu anggota kelompok nelayan Cahaya Trans mempersiapkan bahan untuk pelatihan pembuatan bakso ikan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)
Ibu-ibu anggota kelompok nelayan Cahaya Trans mempersiapkan bahan untuk pelatihan pembuatan bakso ikan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Bunaken, Villagerspost.com – Bagi nelayan, untuk mendapatkan penghasilan, tak selalu dengan cara menangkap ikan, tetapi juga bisa lewat memproduksi makanan olahan dari daging ikan seperti pembuatan bakso ikan. Bagi kelompok nelayan “Cahaya Trans”, salah satu kelompok inovator program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP), produksi bakso ikan juga bisa menjadi jalan kemandirian bagi nelayan selain menangkap ikan.

Kelompok Cahaya Trans, sendiri telah menandatangani kontrak terkait PAAP dengan Balai Taman Nasional Bunaken 8 November 2016 lalu. Kini, mereka siap melaksanakan program kerja untuk mengimplementasikan PAAP di desa Poopoh. Kelompok pimpinan Berce Toli ini mengembangkan produk bakso ikan sebagai salah satu program kerjanya. Produksi bakso ikan ini, diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan mendongkak ekonomi keluarga nelayan di Poopoh.

Dalam rangka itu, pada Sabtu (26/11) lalu, kelompok Cahaya Trans menggelar acara pelatihan sederhana pembuatan bakso ikan yang dilaksanakan di markas Kelompok Cahaya Trans. Acara pelatihan itu mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari anggota. Arif Tinungki sekretaris kelompok Cahaya Trans yang didaulat menjadi panitia acara mengatakan, pelatihan ini murni diinisiasi oleh anggota kelompok yang tersusun dalam agenda rencana kerja yang disusun saat tim building bulan agustus 2016 dari Rare Indonesia dan Balai TN Bunaken.

“Tajuk utama yang diharapkan dapat mempererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan antar anggota,” katanya kepada Villagerspost.com.

Kaum ibu memulai pelatihan produksi bakso ikan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)
Kaum ibu memulai pelatihan produksi bakso ikan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Pelatihan ini diikuti oleh ibu-ibu anggota kelompok nelayan Cahaya Trans sendiri. Pelatihnya juga berasal dari ibu-ibu anggota yang memiliki keterampilan membuat bakso ikan. “Jelas kegiatan ini dari kita anggota kelompok, kemudian dilaksanakan oleh anggota selanjutnya juga untuk anggota kelompok, dengan pelatihan ini diharapkan kedepan akan ada divisi pengembangan usaha dari sektor perikanan dalam pengelolaan wilayah tangkapan,” ujar Arif.

Berce Toli, sang nakhoda Cahaya Trans, dalam kesempatan yang mengaku sangat bersyukur bisa melakukan kegiatan ini. Apalagi bertepatan dengan diselenggarakannya pelatihan pembuatan bakso ikan, ada kunjungan Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir (P2KPL) dan Laut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan(KLHK) Heru Waluyo.

Heru ikut menyaksikan aktivitas kelompok Cahaya Trans dalam mengembangkan usaha bakso ikan itu. “Kami senang karena setelah rombongan melakukan aktivitas snorkelling di Poopoh dapat menikmati hasil kreativitas kami, semoga hal ini akan mendapatkan perhatian dari pemerintah dan pihak lainnya sehingga usaha kami dapat berkembang dengan baik, seiiring usaha kami pula yang membantu pengelolaan Taman Nasional Bunaken dalam PAAP,” kata Berce.

Menikmati bakso ikan hasil produksi kaum ibu anggota kelompok nelayn Cahaya Trans (dok. villagerspost.com/eko handoyo)
Menikmati bakso ikan hasil produksi kaum ibu anggota kelompok nelayn Cahaya Trans (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Direktur P2KPL KLHK Heru Waluyo, mengaku bangga bisa menyaksikan sekelompok masyarakat yang bersedia untuk merawat wilayah pesisir. “Hal unik dan jarang kita temui seperti ini bisa menjadi percontohan, apalagi diinisiasi oleh masyarakat sendiri,” ujarnya.

Bakso ikan menjadi bagian pengembangan usaha yang bagus buat ibu-ibu rumah tangga istri anggota kelompok. “Kami akan terus mencoba dan mencoba lagi serta memperbaiki mutu dan kualitas produk, kami berharap akan mendapatkan respons dan kemudahan dalam prosedur administrasi jika kedepan usaha ini berkembang,” tambah Arif Tinungki.

Dia berharap, dengan baksoikan, masyarakat bisa mendiversifikasi tambahan pendapatan “Apalagi yang diolah saat ini adalah ikan Cakalang, pada saat musim tertentu yang ikan ini melimpah, sehingga saat melimpah kita mencoba untuk tidak menangkap ikan di lokasi PAAP dan menangkap ikan di luar, adapun hasilnya dicobakan untuk diolah lagi supaya lebih baik,” pungkas Arif.

Ikuti informasi terkait prorgram PAAP Bunaken >> di sini <<

Laporan/Foto: Eko Handoyo, Manajer Kampanye Pride Bogor 6 di Balai Taman Nasional Bunaken

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *