Janji Susi Pudjiastuti Ditagih Petambak Dipasena

Petambak eks Dipasena kepung MA tuntut keadilan (dok. P3UW Lampung)
Petambak eks Dipasena kepung MA tuntut keadilan. Para petambak juga menagih janji Menteri KKP Susi Pudjiastuti (dok. P3UW Lampung)

Jakarta, Villagerspost.com – Janji Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat berkunjung ke pertambakan udang milik petambak mandiri eks Dipasena di Rawajitu Timur Lampung, ditagih para petambak. Dalam kunjungannya ke petambak eks Dipasena, Susi berjanji membantu penyelesaian konflik antara petambak dan PT Centra Proteina Prima.

Selain itu, Susi juga berjanji memberikan bantuan teknis budidaya. Puluhan wakil petambak yang terdiri dari kepala kampung dan tokoh masyarakat di Bumi Dipasena ini pun mendorong pihak KKP untuk berupaya lebih keras dalam menanggulangi penyakit WFD dan menstabilkan harga udang.

Hanya saja menurut Apriyanto, salah seorang petambak, tiga bulan pasca kunjungan Susi ternyata belum juga menunjukkan tanda-tanda perubahan bagi kehidupan ribuan keluarga petambak. Dia mengatakan, kehidupan para petambak, saat ini, justru sedang terpuruk karena penyakit WFD (White Feces Disease) yang merajalela dan rendahnya harga jual udang.

“Nasib malang ribuan keluarga di Kecamatan Rawajitu Timur ini makin diperparah dengan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang menolak Kasasi 185 orang petambak atas gugatan oleh PT Central Proteina Prima,” kata Apriyanto dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (15/6).

Apriyanto yang juga merupakan kepala kampung Rawajitu mengatakan, pemerintah seharusnya dapat membuat aturan terhadap perusahaan-perusahaan, seperti PT Central Proteina Prima agar tidak diperbolehkan menjual udangnya di pasaran lokal. Dengan demikian harga dan pasokan di pasaran lokal dapat lebih stabil.

“Sekarang tempat penyimpanan berpendingin (cold storage) lokal dipenuhi oleh udang PT Central Proteina Prima, seharusnya perusahaan licik seperti mereka ditutup saja kalau tidak mampu menjual udangnya keluar negeri secara langsung,” jelas Apriyanto.

Apriyanto pun menambahkan bahwa pemerintah seharusnya melakukan upaya-upaya nyata agar para petambak skala kecil dapat memasarkan udang keluar negeri secara langsung agar tidak ada penumpukan stok di pasaran lokal dan harga udang dapat lebih stabil.

“Mengingat udang adalah komoditas ekspor unggulan di sektor perikanan yang jumlah produksinya melebihi konsumsi domestik, maka sudah sepatutnya usaha budidaya udang mendapat perhatian serius dari pemerintah,” katanya.

Dari sekian banyak komoditas yang berkontribusi besar pada devisa negara hanya udang yang saat ini nilai jualnya menurun, maka tidak mengherankan jika saat ini hampir seluruh petambak di Indonesia mengeluhkan merosot drastisnya harga udang.

“Pasalnya selain semakin sulitnya usaha budidaya karena merebaknya penyakit WFD, harga udang di pasar negara importir saat ini cenderung stabil,” pungkas Apriyanto. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *