Jokowi Janjikan Kajian Lingkungan Strategis ke Masyarakat Kendeng

Masyarakat Kendeng, Pati, Jawa Tengah, menolak pabrik semen dan eksploitasi karst Kendeng. (dok. omahkendeng.org)
Masyarakat Kendeng, Pati, Jawa Tengah, menolak pabrik semen dan eksploitasi karst Kendeng. (dok. omahkendeng.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Keinginan masyarakat Kendeng untuk bertemu Presiden Joko Widodo untuk membahas masalah penolakan mereka terhadap pendirian pabrik semen dan eksploitasi kawasan karst Kendeng, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terpenuhi juga. Jokowi akhirnya mau meluangkan waktu bertemu dengan perwakilan masyarakat Kendeng di sela-sela acara pembukaan Forum Ekonomi Islam Dunia atau World Islamic Economic Forum (WIEF), Selasa (2/8).

Dalam pertemuan yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta itu, sejumlah 17 orang perwakilan masyarakat langsung menyampaikan keluhan dan alasan mereka menentang proyek tersebut. Mendengar keluhan masyarakat Kendeng, Jokowi pun menjanjikan solusi berupa dilakukannya kajian lingkungan strategis terkait kelayakan eksploitasi kawasan tersebut.

“Tadi Bapak Presiden sudah menyepakati akan dilakukan kajian lingkungan strategis supaya bisa diketahui di kawasan Gunung Kapur ini mana yang bisa dieksploitasi, mana yang tidak,” kata Kepala Staf Presiden Teten Masduki, usai acara itu.

(Baca juga: Long March Petani Kendeng Lawan Pabrik Semen)

Masyarakat Kendeng memang terus melancaran aksi menentang pendirian satu pabrik semen milik PT Semen Indonesia. Teten menyebutkan, pendirian pabrik itu sendiri sudah mendapat izin dan kini sudah mencapai tahap 95 persen. Sementara jarak antara pabrik dan tambang mencapai 10 kilometer.

“Jadi kalau di pabriknya ini memang sudah dapat izin, begitu pula pabriknya sudah berdiri. Tapi kawasan tambangnya itu masuk dalam kategori yang perlu dilihat kembali lewat kajian lingkungan hidup strategis,” kata Teten.

Karena itu Presiden Joko Widodo menugaskan Kantor Staf Kepresidenan untuk memimpin jalannya kajian lingkungan strategis tersebut. Teten menegaskan, selama proses kajian berlangsung, eksploitasi tambang belum bisa dilakukan.

“Pak Presiden sudah meminta KSP yang akan mengkoordinir studi ini. Karena ini bukan hanya lintas kementerian, tapi juga lintas daerah. Diperlukan kira-kira 1 tahun studi itu,” ujar Teten.

Teten menambahkan, studi tersebut nantinya akan melibatkan berbagai pihak. Salah satunya ialah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan bebeberapa universitas di Indonesia.

Teten berharap solusi yang ditawarkan Presiden tersebut dapat menjadi jalan keluar terbaik bagi semua pihak. “Jadi nanti hasil studi itu yang akan jadi rujukan kita semua. Bagi pemerintah daerah, pemerintah pusat, investor, termasuk masyarakat. Saya kira itu jalan keluar terbaik bagi kemelut persoalan pabrik semen,” pungkas Teten.

Terkait tawaran dilakukannya kajian lingkungan strategis itu, Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Gunretno mengaku menyepakatinya. Dia menegaskan, warga Kendeng siap untuk dilibatkan dan diajak berdiskusi bersama.

“Karena sudah ada kesepahaman dengan Pak Jokowi, saya berharap agar hal tersebut ditindaklanjuti secepatnya. Warga siap diajak rembukan, karena selama ini warga tidak pernah diajak berembuk. Budaya rembukan harus kita pikirkan bersama-sama,” tegas Gunretno. (*)

Ikuti informasi terkait semen >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *