Jokowi Minta Modi Perhatikan Tarif masuk Sawit Indonesia ke India

Industri pengolahan minyak sawit nasional (dok.agro.kemenperin.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Narendra Modi menyelipkan satu agenda pembahasan penting terkait komoditas kelapa sawit. Dalam pertemuan yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/5), Jokowi meminta Modi untuk memperhatikan tingginya tarif bea masuk atas produk kelapa sawit di Indonesia.

Modi sendiri, kata Jokowi, menyambut positif permintaan itu. “Beliau tadi menyanggupi untuk melihat dari masalah-masalah yang tadi kita sampaikan,” kata Jokowi.

Seperti diketahui, pada November 2017, India menaikkan tarif impor menjadi 30 persen dari sebelumnya hanya 15 persen. Lantas, pada awal Maret 2018, India menaikkan tarif impor CPO hingga 44 persen dan produk turunannya sebesar 54 persen. Angka ini sebenarnya masih dalam batas bound tariff World Trade Organization (WTO) yang mengizinkan pemerintah menaikkan tarif impor hingga 300 persen.

Namun, penerapan kebijakan itu dinilai Indonesia perlu dikaji ulang karena bukan hanya akan menurunkan pendapatan para pengusaha sawit Indonesia, tetapi juga merugikan masyarakat India sendiri. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi menggarisbawahi, kedua pemimpin setuju peran penting minyak sawit bagi ekspor Indonesia ke India dan bagi pilihan dan bertumbuhnya konsumsi konsumen India.

“Kedua pemimpin sepakat untuk menyelesaikan berbagai isu terkait halangan perdagangan dan investasi di produk dan industri minyak sawit,” tambah Jokowi.

India adalah negara importir terbesar CPO asal Indonesia dengan permintaan yang terus meningkat. Pada 2017 ekspor CPO Indonesia ke India mencapai 7,6 juta ton, atau meningkat 1,84 juta ton dibanding tahun 2016 sebesar 5,7 juta ton. Rata-rata, India membutuhkan hingga 27 juta ton minyak nabati per tahun dari seluruh dunia.

Presiden Jokowi juga menyampaikan, bahwa India adalah mitra strategis Indonesia di bidang ekonomi. India, ujar Jokowi, adalah mitra dagang ekspor terbesar Indonesia di Asia Selatan dan Tengah dengan nilai hampir US$15 miliar. Wisatawan India juga meningkat tajam naik 28 persen dengan jumlah hampir 500.000 wisatawan di tahun 2017.

Sementara penerbangan Indonesia-India dalam kurun 2 tahun ini meningkat, dari tidak ada menjadi 28 kali per minggu. “Saya menyambut baik penerbangan langsung Garuda Indonesia dari Bali ke Mumbai yang dimulai April 2018,” ujar Jokowi.

Menurut Presiden, potensi konektivitas udara sangatlah besar, karenanya ia berharap dapat dipertimbangkan kembali penambahan jumlah hak angkut sehingga mencerminkan perkembangan interaksi ekonomi. Jokowi menambahkan, Indonesia dan India sepakat untuk terus menjadikan ekonomi kedua negara terbuka.

Untuk itu, Jokowi berharap negoisasi regional Comprehensive Economic Partnership dapat diselesaikan pada tahun ini, tahun 2018. Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengundang investasi India di bidang infrastruktur, seperti pelabuhan, dan bandara, serta industri farmasi, khususnya obat yang belum dapat diproduksi di Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pemerintah India akan mempertimbangkan untuk menurunkan bea masuk minyak kelapa sawit Indonesia ke negara itu. “Disampaikan mengenai kenaikan bea sawit itu. Yang tiga kali dan yang akan di-consider-lah oleh India,” kata Enggartiasto usai mendampingi Jokowi menerima kunjungan Modi.

Enggartiasto Lukita berpendapat pemberlakuan tarif itu cukup memukul perekonomian India karena biaya pemenuhan bahan pokok yang berasal dari minyak sawit seperti minyak goreng dan sabun dipastikan ikut naik.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *