Jokowi Optimis Indonesia Mampu Bangun Pabrik Katalis Sawit

Industri pengolahan minyak sawit nasional (dok.agro.kemenperin.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Presiden Joko Widodo mengaku optimis Indonesia mampu membangun pabrik katalis untuk minyak sawit, untuk mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar minyak seperti solar, bensin dan avtur. Optimisme tersebut disampaikan Jokowi di acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Tahun 2020, di Graha Widya Bhakti Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Kamis (30/1).

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi berdialog dengan Prof. Subagjo, pakar kimia dari ITB yang selama ini melakukan berbagai riset terkait katalis untuk minyak sawit. “Sudah tiga tahun saya memerintahkan agar industri menggunakan B20 namun hingga kini belum dapat dilaksanakan,” kata Jokowi kepada Prof. Subagjo.

Menanggapi hal itu, Subagjo mengatakan, dirinya sudah sejak tahun 1982, berpikir untuk menemukan katalis untuk mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar minyak. Menurut Subagjo, minyak sawit juga sebetulnya hidro karbon, seperti minyak bumi, hanya saja di ujung rantai karbonnya terdapat CO2. Prof. Subagjo menambahkan jika CO2 ini bisa diputus, maka minyak sawit langsung menjadi seperti minyak bumi.

“Karena saya belajar katalis, saya mencari katalis yang cocok untuk memutus itu. Kami lakukan dan memang kami sangat gembira waktu itu reaksinya waktu itu kadang-kadang baunya seperti solar tergantung kondisi. Dalam temperatur tinggi hasilnya gas LPG kalau temperatur lebih rendah nanti diperoleh bensin, lebih rendah lagi kerosin itu bahan baku avtur, lebih rendah lagi bisa solar, lebih rendah lagi enggak jadi apa-apa,” cerita Subagjo.

Untuk menghasilkan yang seperti ini, menurut Subagjo, dirinya mulai mencari pihak ketiga sebagai mitra industri untuk bisa memproduksi hal tersebut, namun ternyata tidak mudah. “Tahun 2009 kemudian mulai mendengar ada proses untuk menghasilkan yang disebut oleh orang-orang dari luar negeri green diesel, tapi sebetulnya saya tidak ingin membiasakan untuk green diesel, tapi saya menyebut diesel biohidrokarbon artinya diesel yang seperti minyak bumi jadi hidro karbon tapi dari bahan nabati,” ujarnya.

Subagjo mengaku sejak saat itu menjalin kerja sama dengan Pertamina serta mendapat bantuan dua kali yakni Rp8 miliar dan Rp46 miliar. Saat ditanya oleh Presiden apakah perlu kerja sama dengan negara lain, Prof. Subagjo menyampaikan, untuk proses melibatkan katalis tidak perlu dengan negara lain cukup dengan ITB saja. Prof. Subagjo juga menjelaskan, bantuan dari Pertamina sebesar Rp 46 miliar akan digunakan untuk membangun pabrik katalis.

“Jadi sejak dua tahun saya sudah menginginkan ada pabrik katalis. Dan resep-resep katalis yang kami pergunakan tidak akan lepas ke luar negeri. Saat ini resep-resep itu terpaksa dijahitkan ke pabrik milik multi nasional. Jadi diharapkan nanti ada perjanjian walaupun nanti sudah di kepala akan bisa pindah,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi berjanji akan memberikan bantuan dana untuk penelitian katalis kepala Subagjo dan tim. “Ini berbeda ya nanti yang saya berikan dengan dana sawit maupun Pertamina, di sana juga akan saya perintahkan untuk memperbesar apa yang tadi sudah saya sampaikan. Saya pastikan sokongan terus kita berikan kepada ITB untuk hal ini,” tegas Jokowi.

Subagjo juga berharap industri katalis ini segera bisa didirikan. “Saya ingin memberikan peluit agar ditiup oleh Pak Jokowi dan seluruh potensi bangsa yang bisa mendirikan pabrik katalis dan pabrik biohidrokarbon tadi segera bergerak dengan cepat,” ujarnya.

Subagjo mengaku lebih senang bekerja senyap karena negara lain seperti Malaysia lebih cepat bergerak. Jokowi pun berjanji akan segera menggelar rapat dengan Tim khusus berbicara mengenai katalis.

Menurut Jokowi, Pertamina saat ini membutuhkan 50 katalis dan nyaris semuanya impor karena hanya 3 katalis yang mampu diproduksi sendiri, padahal Indonesia punya kemampuan untuk produksi katalis. “Nanti yang disampaikan Prof akan kita tindak lanjuti dalam Rapat Terbatas khusus. Dengan menggunakan bahan dalam negeri, dengan teknologi sendiri dan dengan SDM kita sendiri ini yang kita inginkan seperti tadi yang sudah disampaikan ibu Megawati Soekarnoputri, arahnya semuanya memang harus seperti itu,” ujarnya.

Dengan membangun industri katalis nasional, menurut Presiden, akan menjamin harga sawit. “Kemarin waktu B20 kita pakai harga sawit langsung naik, begitu B30 kita pakai lagi harga otomatis semuanya yang berkaitan dengan sawit naik semuanya. Petani kita mendapatkan keuntungan dari itu, impor minyak kita menjadi turun, neraca transaksi berjalan kita menjadi lebih baik, defisit neraca perdagangan kita juga semakin baik,” jelas Jokowi.

Dengan membangun industri katalis nasional, lanjut Jokowi, akan menjamin harga sawit dan Indonesia tidak akan ‘dipermainkan’ oleh negara lain seperti diskriminasi dalam hal jual beli kelapa sawit. “Sekali lagi meningkatkan kesejahteraan petani sawit swadaya yang saat ini menguasai kurang lebih 42-45% dari perkebunan sawit nasional. Apalagi jika industri katalis tersebut bisa dibuat dalam skala menengah bisa dioperasikan oleh kelompok-kelompok petani sawit,” jelasnya.

Jokoi juga menegaskan agar BUMN seperti pertamina harus berperan besar untuk mendukung pengembangan industri katalis dan Badan Pengelola Dana Sawit juga harus aktif mendukung riset-riset yang sangat berdampak besar seperti ini. “Nah di sinilah peran BRIN, harus bisa mengorkestrasi pengembangan proyek-proyek riset yang sangat strategis seperti ini. Yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memecahkan permasalahan bangsa, dan memanfaatkan peluang global bagi kemajuan negara kita Indonesia,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *