Juananda Kopayona: Bangkitkan Ekonomi NTT Dengan Madu Hutan | Villagerspost.com

Juananda Kopayona: Bangkitkan Ekonomi NTT Dengan Madu Hutan

Muhammad Juananda Kopayona bersama produk madu hutan produksi Mako (dok. juananda kopayona)

Muhammad Juananda Kopayona bersama produk madu hutan produksi Mako (dok. juananda kopayona)

Jakarta, Villagerspost.com – Awalnya adalah sebuah niat baik. Muhammad Juananda Kopayona tergera hatinya untuk membantun petan madu hutan di Palembang, Sumatera Selatan yang kebingungan untuk memasarkan produknya. Maka, pada tahun 2014 lalu, pemuda kelahiran Jakarta, 15 Januari 1991 itu mendirikan “Mako” sebuah badan usaha untuk memasarkan madu hutan.

Lewat Mako, Juananda mulai mengenalkan produk madu hutan ke pasar dan menjualnya. “Dalam perjalanan, pemasaran produk madu hutan bukanlah hal yang mudah. Minimnya pemahan tentang madu hutan dan pertanyaan dari para konsumen mengenai madu asli menjadi sebuah tantangan. Belajar dari buku dan literatul internet rupanya kurang mampu menghapus keingin tahuan saya untuk pengembangan madu hutan,” kata Juananda.

Perjalanan hidup kemudian membawa Juananda bergabung dengan Yayasan Sahabat Cipta pada awal tahun 2015. Yayasan tersebut berfokus pada pengembangan produk spesial di Kabupaten Flores dan Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur. Bak pucuk dicintaulam pun tiba, di yayasan itu, Juananda diberi tugas melakukan pendampingan kepada petani madu hutan di Kabupaten Alor dan Flores.

“Interaksi yang intens dengan para petani membuat kami memahami bagaimana panen madu hutan yang bersih. Kami memberikan pelatihan kepada petani mengenai proses panen, paska panen, pengolahan produk dan pemasaran,” ujarnya.

Dalam satu tahun kelompok dampingan itupun berhasil melakukan beberapa pencapaian positif antara lain, mengelola kelompok dan membangun Unit Pengolahan Hasil Madu Hutan. Mereka juga berhasil membuat brand sendiri, dan memasarkan produk madu hutan itu sampai ke ibukota.

Meski berawal dari upaya membantu petani madu hutan Palembang, Mako justru menemukan jalan pengembangannya di Nusa Tenggara Timur. Di Flores dan Alor, Juananda juga mendorong Kelompok untuk mengukuhkan diri menjadi Koperasi dimana usaha dapat dijalankan bersama demi kesejahteraan bersama. Dia juga kemudian menjalin kerjasama dengan Jaringan Madu Hutan Indonesi (JMHI). “Kami mendapatkan berbagai macam pelatihan perihal pengembangan produk madu hutan,” ujar Juananda.

Kerjasama kami dengan JMHI juga membuahkan hasil yang baik yaitu Madu Hutan Flores di jual dan di pasarkan oleh sebuah brand internasional ternama ORIFLAME. Program pengembangan dan pendampingan oleh Juananda lewat Yayasan Sahabat Cipta berakhir pada awal tahun 2016, sesuai dengan berakhirnya kontrak dengan yayasan. “Saya memutuskan untuk melanjutkan pengembangan ini secara independen,” katanya.

Acara pemecahan rekor minum madu hutan dengan peserta terbanyak (dok. juananda kopayona)

Acara pemecahan rekor minum madu hutan dengan peserta terbanyak (dok. juananda kopayona)

Pendampingan pun dilanjutkan dengan mengembangkan jaringan pasar. Dari sinilah Mako terus berkembang pesat. Memang bukan pekerjaan mudah untuk bisa membangun produk madu hutan menjadi produk yang bisa menyejahterakan para petaninya. Kendala utamanya, umumnya panen madu hutan bukanlah pekerjaan utama dari petani. Sistem panen tradisional mereka yang masih kotor tidak mudah untuk diubah.

“Membutuhkan kinerja extra untuk mengajari para petani pola panen yang bersahabat dengan alam serta proses pengolahan yang higienis. Awalnya masyarakat tidak mengenal, bahkan tidak mengetahui potensi madu hutan diwilayah mereka,” ujar Juananda.

Setelah berhasil menghasilkan madu yang yang bersih dan higienis, perjuangan berlanjut dengan upaya mempopulerkan madu hutan. Salah satunya adalah di Alor dimana lewat kerjasama dengan JMHI, Juananda dan Yayasan Sahabat Cipta menghelat acara memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk rekor “Minum Madu Dengan Peserta Terbanyak” yang diikuti 11.500 peserta.

Berbagai usaha keras Juananda itu tak sia-sia. Mako terus berkembang sebagai unit usaha penjualan madu hutan yang sukses. Sampai saat ini Mako mewadahi Kelompok Madu Hutan Flores dan Koperasi Produksi Madu Hutan Alor dengan jumlah lebih dari 10 Kelompok Tani dengan 120 orang anggota. “Saat ini kami mendorong para pengusaha untuk membuat produk turunan dari Madu Hutan seperti Honey Lemon, Cincau Honey, Madu sebagai bahan dasar Obat dan beberapa produk lainnya. Kami juga bekerjasama dengan pengusaha madu hutan di Provinsi lain seantero Indonesia,” ujarnya.

Juanda pun pelan-pelan berhasil mewujudkan visi pembentukan Mako, yaitu mejadikan madu hutan sebagai produk unggulan “Hasil Hutan Bukan Kayu” guna mendorong perekonomian petani kawasan hutan Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena itulah, Juananda juga mendorong petani untuk panen madu hutan dengan pola lestari dengan pengelolaan yang higienis dan memperluas jaringan pasar dari produk madu hutan di NTT pada khususnya.

Dia berharap seiring berkembangnya bisnis ini, akan tercipta lapangan pekerjaan yang padat karya dibidang pengelolaan madu hutan di wilayah pendampingan. Dia juga ingin mencetak wirausaha produk madu hutan di wilayah dampingan. Selain itu, Juananda juga bermimpi untuk menjadikan wisata panen madu hutan sebagai salah satu andalan ekowisata di wilayah dampingan Mako bergerak dalam pengembangan produk Madu Hutan.

Saat ini produksi Mako perbulannya mencapai 200 kg dan distribusinya pernah mencapai Malaysia dan Brunei. Hal ini dilakukan guna memotivasi petani madu hutan agar terus semangat untuk memproduksi madu hutan, menjaga kawasan hutan, dan mendapatkan penghasilan tambahan. “Harapan kami ialah Mako dapat membuat sebuah Rumah Produksi (Pengelolaan Paska Panen) yang memiliki standar internasional,” ujarnya.

Dengan terus memberikan pengetahuan dan bimbingan kepada para petani, Juananda yakin dapat merubah pola panen menjadi lebih baik dan bersahabat dengan alam. “Untuk menjadikan usaha ini menjadi berkelanjutan dan terus berkembang, kami akan terus menyebarkan ilmu kepada petani madu di dataran Flores. Kami percaya bahwa usaha ini merupakan usaha yang saling menguntungkan dan berkesinambungan,” tegasnya.

Dia mengatakan, untuk menjaga kelestarian alam tidak cukup dengan hanya menyuruh masyarakat untuk tidak memotong kayu yang menjadi mata pencaharian mereka, namun kita juga harus mendorong ekonomi masyarakat kawasan hutan melalui pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). “Namun sangat saya sadari mimpi ini tidaklah mudah untuk dicapai,” pungkasnya.

Ikuti informasi terkait pemilihan Duta Petani Muda >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *