Kacang Hijau Meroket, Petani Tauge Menjerit

Tauge hasil budidaya petani. Kenaikan harga kacang hijau membuat petani tauge menjerit (dok. 1001budidaya.com)
Tauge hasil budidaya petani. Kenaikan harga kacang hijau membuat petani tauge menjerit (dok. 1001budidaya.com)

 
Parung, Villagerspost.com – Kelangkaan kacang hijau yang diiringi kenaikan harga yang luar biasa membuat para petani pembudidaya tauge di wilayah Kabupaten Bogor menjerit. Seperti diketahui, harga kacang hijau yang menjadi bahan baku bibit tauge melejit dari kisaran harga Rp12.000 per kilogram hingga ke angka Rp25.000 perkilogram saat ini.

Ketua Paguyuban petani tauge Kabupaten Bogor yang berpusat di Kecamatan Parung, Amar (32) mengaku kecewa dengan kebijakan pertanian pemerintahan Jokowi-JK yang tidak mampu menjaga pasokan dan harga komoditas pertanian ini. Dia menilai, seharusnya pemerintah menjaga stabilitas harga komoditas tauge.

“Sebelum puasa harga kacang hijau bisa Rp17 ribu per kilogramnya, itu pun barangnya susah didapat. Sekarang sudah naik menjadi Rp25 ribu perkilo, mau dijual berapa ke pasar?” keluh Amar kepada Villagerspost.com, Sabtu (22/8).

Amar menjelaskan, setiap harinya biaya operasional yang harus ditanggung para petani membengkak akibat kelangkaan dan kenaikan harga kacang hijau. “Kami kan mempekerjakan minimal satu orang pekerja, kalau naik terus harganya kami kesulitan membayar pekerja,” keluh Amar.

Tak hanya Amar yang mengeluhkan masalah ini. Salah satu pedagang bakso di Cibinong, Rahmat (43) mengaku kesulitan membeli tauge di pasar karena kelangkaan komoditas akibat kenaikan harga kacang hijau. “Sekarang makin susah cari tauge di pasar, kalau pun ada harganya mahal. Nggak enak kan makan bakso tanpa tauge,” ujarnya.

Komoditas tauge selama ini memang kurang mendapat perhatian pemerintah karena harga kacang hijau yang tidak diproteksi pemerintah. Dengan harga kacang hijau Rp17 ribu perkilogram, para petani biasa menjual tauge antara Rp5.500 hingga Rp6.000 per bungkus.

Tetapi kini, dengan harga kacang hijau per kilogram mencapai Rp25 ribu, mereka terpaksa menjual ke pasar dengan harga Rp7.000 hingga Rp8.000 per bungkusnya. (Herry Setiawan)

Facebook Comments
5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *