Kalimajari Gelar Pelatihan, Perkuat Kemampuan Lobi dan Advokasi Bagi Staf, Mitra dan Koperasi Petani | Villagerspost.com

Kalimajari Gelar Pelatihan, Perkuat Kemampuan Lobi dan Advokasi Bagi Staf, Mitra dan Koperasi Petani

Pelatihan peningkatan kapasitas kemampuan lobi dan advokasi bagi staf Kalimajari, para mitra dan petani (dok. kalimajari)

Samosir, Villagerspost.com – Kalimajari, organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pemberdayaan petani, menggelar pelatihan untuk memperkuat pelatihan dan lobi bagi para staf, lembaga mitra, dan juga koperasi petani. Pelatihan tersebut digelar selama tiga hari sejak tanggal tanggal 9-11 Januari 2019, di Samosir, Sumatera Utara. Pelatihan tersebut diikuti 15 peserta dari lembaga Kalimajari dan BITRA, serta perwakilan pengurus koperasi petani.

Direktur Kalimajari I Gusti Agung Ayu Widiastuti mengatakan, pelatihan yang juga didukung oleh UTZ-Rainfores Aliance itu memiliki dua tujuan. “Pertama, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta tentang proses lobi dan advokasi. Kedua, mengembangkan kerangka kerja dan strategi lobi serta advokasi di masing-masing wilayah,” ujarnya, Sabtu (12/1).

Agung Widi mengungkapkan, selama ini, Kalimajari bersama masyarakat lokal telah mengembangkan berbagai program pemberdayaan petani. Salah satunya progam “Kakao Lestari” yang mendukung penguatan penghidupan petani di Jembrana, Bali Barat. Penguatan penghidupan petani kakao dicapai dengan mengimplementasikan inovasi dan teknik fermentasi kakao.

Dalam mencapai perubahan dan target program, Kalimajari melakukan berbagai aktivitas dan melibatkan banyak pihak. Tidak hanya petani, kelompok tani, swasta, namun juga pemerintah dari berbagai level.

“Keterlibatan para pihak menjadi penting bagi keberhasilan proyek. Namun demikian keterlibatan para pihak yang beragam juga memunculkan tantangan tersendiri. Tidak hanya karena setiap pihak memiliki pandangan tersendiri atas isu pertanian dan bisnis kakao, lebih dari itu setiap pihak juga memiliki kepentingan sendiri-sendiri,” paparnya.

Perbedaan-perbedaan ini, kata dia, kerap kali menjadi faktor pembatas keberhasilan dan perluasan keberhasilan program yang dijalankan. “Keberhasilan yang sudah dicapai dan memberikan perubahan positif pada petani tentu saja sangat penting untuk disebarluaskan ke khalayak. Sayangnya penguatan dan penyebarluasan ini dibutuhkan dukungan dan infrastruktur termasuk didalamnya kebijakan dari para pihak terutama pemerintah,” ujarnya.

Saat ini pemerintah daerah pun belum sepenuhnya memahami pentingnya inisiatif dan program peningkatan pendapatan petani melalui produk kakao fermentasi ini sehingga dukungan belum sepenuhnya lahir. Pun demikian dengan pihak lain, petani misalnya. Petani perlu mendukung dalam bentuk implementasi dan praktik fermentasi kakaonya. Demikian halnya dengan pembeli, perlu juga melakukan dukungan dalam bentuk harga yang fair atas usaha yang dilakukan petani.

Untuk mencapai cita-cita kehidupan petani kakao yang sejahtera upaya advokasi perlu terus dilakukan. “Untuk itulah Kalimajari merasa perlu meningkatkan kapasitas stafnya dalam kerangka melakukan lobi dan advokasi, terutama terkait kebijakan perlindungan dan pemberdayaan petani kakao di Jembrana,” ujarnya.

“Kami membayangkan petani kakao di Jembrana dapat hidup lebih baik, sejahtera di masa yang akan datang. Oleh karenanya dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dan nasional mutlak diperlukan. Salah satunya melalui kebijakan daerah,” tegas Agung Widi.

Kalimajari sendiri saat ini sedang merancang dan akan mengusulkan kepada pemerintah daerah, sebuah peraturan daerah yang melindungi sekaligus memberdayakan petani kakao. Salah satu hal penting adalah adanya dukungan pemda pada praktik peningkatan mutu kakao melalui fermentasi. Dengan penanganan pasca panen ini maka petani akan mendapat keuntungan dua setengah kali lebih banyak dari yang tidak.

“Selama ini kami telah melakukan proses advokasi kebijakan untuk mendorong perlindungan petani kakao, tetapi belum terstruktur dan terencana dengan baik. Dengan pelatihan ini kami berharap Kalimajari dapat melakukan proses lobi dan advokasi yang efektif dan efisisen. Dengan demikian perubahan yang dicita-citakan dapat terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur BITRA Rusdiana mengungkapkan, kegiatan ini merupakan momen penting bagi lembaganya untuk menguatkan kapasitas stafnya. “Kami bekerja di Sumatera Utara, selain penguatan organisasi dan kapasitas petani juga melakukan kerja-kerja advokasi. Salah satunya advokasi kebijakan komoditas kopi. Pelatihan ini menjadi sarana penguatan kemampuan lembaga dan staf,” ujarnya.

Ketut Wiadyana, petani kakao, yang juga Ketua Koperasi Kerta Semaya Samaniya, Jembrana mengatakan, pelatihan ini memberikan banyak manfaat baginya selaku petani sekaligus ketua koperasi. ”

Saya jadi tahu teknik melobi yang baik. Sepulang dari sini saya akan balik ke koperasi dan membagikan pengetahuan yang saya dapat disini,” kata Ketut.

Dia menilai, pengetahuan ini penting bagi koperasi untuk menguatkan peran dan posisi koperasi. “Koperasi harus bisa mengadvokasi dirinya sendiri kedepannya,” tegasnya.

Agung Widi menambahkan, ke depan dengan pelatihan ini, Kalimajari juga diharapkan semakin kuat kemampuannya dalam melakukan lobi dan advokasi di lembaga. “Sehingga kita secara kelembagaan semakin kuat, sementara bagi eksternal para mitra di lembaga bisa mendapatkan manfaat dari kegiatan Kalimajari ini,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *