Kampanye Gemarikan, Susi Sambangi Tasikmalaya | Villagerspost.com

Kampanye Gemarikan, Susi Sambangi Tasikmalaya

Usaha perikanan budidaya (dok kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Safari kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) dan Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina (Gemasatukata) di Provinsi Jawa Barat terus berlanjut. Rabu (10/4) Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyambangi tiga pesantren di Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya. Di Kota Tasikmalaya, Susi menyambangi Ponpes An Nur Jarnauziyyah.

Dalam kesempatan itu, Susi beserta rombongan juga menyerahkan bantuan berupa 1 ton ikan konsumsi, 12 lubang budidaya sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, dan 1 ton pakan mandiri. Dalam sambutannya, Susi mengatakan, selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, diharapkan, hasil budidaya yang ditekuni dapat berlebih untuk dijual.

Menurutnya, manajemen budidaya ikan di Ponpes ini dapat menjadi pelajaran wirausaha bagi para santri yang ingin menekuni usaha budidaya. “Jika dikelola dengan baik, 1 lubang bioflok ini bisa menghasilkan 1 ton ikan dengan pemeliharaan selama 100 hari,” ujar Susi.

Susi berpendapat, selain untuk mencegah gangguan pertumbuhan (stunting), mengonsumsi ikan juga membantu membangun sumber daya manusia (SDM) yang cerdas dan berkualitas. “Apa yang sudah dilakukan orang Jawa Barat, (mengonsumsi) pepes, sop ikan, kebiasaan makan ikan sehari-hari diteruskan,” lanjutnya.

Susi menjelaskan, populasi penduduk dunia yang terus mengalami peningkatan membuat seluruh bangsa menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan pangan. Bukan tidak mungkin akan terjadi krisis atau rawan pangan di masa mendatang.

Ikan sebagai salah satu sumber pangan yang kaya kandungan gizi dan relatif lebih mudah didapatkan diprediksi akan menjadi rebutan. Sebagaimana hasil penelitian organisasi pangan dunia FAO, satu dari lima ikan yang dikonsumsi di dunia saat ini berasal dari kegiatan illegal fishing.

Sementara itu, negara penghasil ikan mulai menggunakan kekuatan militer untuk mengamankan sumber daya ikan mereka. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2017 untuk memenuhi kebutuhan pangan 265 juta warga negaranya dibutuhkan 12,6 juta ton ikan. Dengan asumsi laju pertumbuhan penduduk 0,6 persen dan angka konsumsi ikan 50 kg per kapita, diproyeksikan pada 2045 mendatang, untuk memenuhi kebutuhan 318 juta warga negara Indonesia dibutuhkan 15,9 juta ton ikan.

Oleh karena itu, tak hanya di laut, penangkapan ikan yang bertanggung jawab juga harus dilakukan di semua perairan, baik danau, sungai, embung, dan sebagainya. Untuk itu, Menteri Susi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan yang merusak dengan bom, portas, dinamit, setrum, dan sebagainya.

“Ibu dapat kabar, banyak masyarakat yang menangkap ikan di sungai dengan menggunakan setruman. Itu tidak boleh karena bisa bikin ikannya semua mati. Tuhan menganugerahi kita sumber daya ikan yang tidak usah susah-susah pelihara kok dirusak, diambil semena-mena?” ujar Susi.

Dalam kesempatan itu, Susi juga mengajak masyarakat untuk tidak menangkap kepiting, rajungan, dan lobster bertelur dan di bawah ukuran (undersize) agar dapat berkembang biak di alam.

Sementara itu, dalam kesempatan kunjungan ke Ponpes Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Susi menyerahkan bantuan 1 ton ikan konsumsi, 24 lubang budidaya sistem bioflok, 100.000 ekor benih ikan nila, dan 1 ton pakan mandiri secara simbolik kepada Pimpinan Pesantren, KH. Zainal Abidin Anwar.

Terakhir, rombongan mengunjungi Ponpes KH. Zainal Musthafa Sukamanah, Kabupaten Tasikmalaya dan disambut oleh Pimpinan Pesantren, KH. Acep Thohir Fuad. Di sana diserahkan 1 ton ikan konsumsi, 12 lubang budidaya sistem bioflok, 100.000 ekor benih ikan nila, dan 1 ton pakan mandiri.

Susi menyebutkan, ikan mackarel konsumsi sengaja diberikan agar para santri dan masyarakat dapat menikmati ikan laut yang jarang mereka konsumsi. Pasalnya, Kota dan Kabupaten Tasikmalaya tidak memiliki laut/pantai, sehingga biasanya mereka hanya mengonsumsi ikan air tawar hasil budidaya.

Kendati demikian, Susi menegaskan bahwa ikan air laut maupun ikan air tawar memiliki kandungan gizi yang sama-sama baik bagi tubuh. “Kandungan gizi ikan laut dan ikan air tawar sama saja. Tidak ada bedanya,” tegasnya.

Sementara itu, bantuan sarana budidaya lengkap dengan bibit dan pakan sengaja diberikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi santri di masing-masing Ponpes. Sebagaimana diketahui, Ponpes An Nur Jarnauziyyah memiliki 125 santri mondok, Ponpes Suryalaya 6.000 santri mondok, dan Ponpes KH. Zainal Musthafa Sukamanah 5.000 santri mondok.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *