Kampung Darim: “Kampung Terbelah” dengan Semangat Gotong Royong yang Besar

Anak-anak muda Kampung Darim, Indramayu, memperbaiki jalan utama menuju kawasan kampung (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqin)

Indramayu, Villagerspost.com – Namanya Kampung Darim, atau orang bisa juga menyebutnya Blok Darim. Kawasan ini, merupakan salah satu kawasan yang unik di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pasalnya, blok ini, terletak di antara dua desa dan dua kecamatan, yaitu Desa Kendayakan di Kecamatan Terisi dan Desa Puntang di Kecamatan Losarang.

Penduduknya pun tinggal terpencar di antara dua wilayah administratif itu. Sejumlah 410 jiwa dari 41 KK secara administratif adalah warga Desa Puntang. Sementara 97 KK lainnya merupakan warga Desa Kendayakan. Tak heran jika Kampung Darim, bisa juga juga dijuluki sebagai “Kampung Terbelah” karena terpisah oleh dua wilayah administratif desa. Meski begitu, warganya justru sangat kompak dan memiliki rasa gotong royong yang tinggi.

Ruskiyah tokoh masyarakat Kampung Darim mengatakan, secara ekonomi penduduk Kampung Darim bisa dikatakan sebagai kawasan yang cukup tertinggal di Indramayu jika dibandingkan dengan desa-desa lainnya dari sisi infrastruktur. “Penduduk sini kebanyakan bekerja sebagai petani,” kata Ruskiyah kepada Villagerspost.com, Minggu (26/11).

Anak-anak Kampung Darim harus menempuh jalan yang buruk sejauh dua kilometer untuk menuju sekolah dasar terdekat (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqin)

Dari sisi produksi pertanian, sebenarnya produktivitas pertanian Kampung Darim bisa dibilang lumayan. Dengan luasan lahan mencapai 62 hektare (gabungan dari lahan dua desa) areal persawahan di Kampung Darim bisa menghasilkan 868 ton padi setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan pangan di Kabupaten Indramayu. “Hanya saja, infrastruktur di kawasan ini memang sangat tertinggal dan butuh sentuhan pemerintah daerah,” kata Ruskiyah.

Hal itu bisa terlihat dari akses jalan masuk untuk mencapai Kampung Darim yang bisa dari Jalan Manggungan-Lungsemut belok arah Utara. “Ini merupakan jalan utama untuk mencapai kampung,” ujar Ruskiyah.

Kondisi jalan tersebut sangat mengenaskan karena masih berupa jalan tanah, yang saban musim hujan, akan sangat sulit dilewati berbagai jenis kendaraan, termasuk kendaraan untuk pengangkut hasil panen padi. Maklum, kampung Darim itu sendiri masih dipergunakan sebagai tempat untuk mengepul hasil padi bagi petani-petani dari desa sekitar yang memiliki lahan sawah (garap) di sekeliling Kampung Blok Darim saat panen tiba.

Tak adafasilitas puskesmas apalagi dokter, jika ada yang sakit, warga urunan untukmenyewa mobil untuk membawa si sakit berobat ke luar desa (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqin)

“Karena itu, sangat aneh jika kawasan yang dikategorikan sebagai salah satu lumbung padi nasional, masih saja kampung blok Darim tertinggal pembangunannya oleh desa-desa lainnya yang memprioritaskan akses untuk mengangkut hasil panen itu sendiri,” kata Ruskiyah.

Selain jalan, sarana dan prasarana lainnya pun masih tertinggal. Di kampung ini hanya terdapat dua musala yang satu terdapat di wilayah RT12/RW 03 Desa Kendayakan Blok Darim yang juga difungsikan saat kegiatan-kegiatan peribadatan besar semisal salat ied, salat Jum’at, sarana pendidikan madrasah dan lain-lain. Yang satu lagi terdapat di wilayah RT 17 RW 04 Desa Puntang blok Darim dengan aula kecilnya kerap dipergunakan tempat untuk bermusyawarah.

Fasilitas seperti sekolah formal bagi anak-anak Kampung Darim juga sangat minim. Untuk bersekolah, anak-anak Kampung Darim harus pergi keluar ke desa lain dengan menempuh jarak dua kilometer untuk jenjang Sekolah Dasar. Meski jaraknya jauh dan dengan jalan yang seadanya, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak Kampung Darim untuk menggapai cita-cita.

Meski dalam kondisi yang serba tertinggal, ada satu hal yang membuat kampung ini layak dicontoh, yaitu semangat gotong-royong warganya yang sangat tinggi. “Puskesmas atau dokter tidak ada, ketika ada masyarakat yang sakit mereka guyub bersama menyewa mobil bak terbuka untuk membawa si pasien berobat,” kata Ruskiyah.

Kegiatan penanaman pepaya sebagai batas zona hijau dan gagasan dari masyarakat sebagai produk unggulan Kampung Darim (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqin)

Nilai gotong royong masyarakat Kampung Darim memang begitu kental terasa. Suasana kekeluargaan yang hangat sebagai masyarakat perkampungan begitu dijunjung tidak saja oleh orang tua, tetapi anak-anak muda di kampung. Mereka bakal begitu antusias ketika ada kegiatan gotong-royong, baik itu hanya sekadar menambal akses jalan masuk ke kampung, maupun membuat suatu aturan zona hijau pada tepian jalan, agar ke depan jalan tersebut tidak hilang .

Kaum mudanya pun memiliki kreatifitas yang cukup tinggi. Amero, salah satu tokoh pemuda setempat mengatakan, kaum muda petani Kampung Darim ke depan sedang mengagas produk unggulan, salah satunya pepaya merah delima, serta agrowisata bernama “Kampung Darim, Eksotis di Negeri Agraris”. “Untuk bisa menunjukan kepada masyarakat luas bahwa mereka mampu bangkit dengan semangat gotong royong dimana akses jalan masuk yang rusak bukan menjadi penghalang bagi masyarakat agar bisa memenuhi kebutuhan gizi negeri, memenuhi kebutuhan pangan negara,” kata Amero.

Dia berharap, ke depan, kekurangan Kampung Darim dari sisi infrastruktur yang menjadi hak warga masyarakatnya bisa direalisasikan oleh negara. “Kami akan tetap memberikan kesadaran kepada seluruh masyarakat Kampung Darim untuk terus semangat membangun suasana kekeluargaan untuk Kampung Blok Darim yang Harmonis Damai Pintar dan Bersahaja. Kalau di singkat HADAPI SAJA,” kata Amero menutup pembicaraan.

Laporan/Foto: Zaenal Mutaqin, Petani Muda Desa Muntur, Indramayu, Jawa Barat; Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *