Kampung Mendali, Kelola Dana Desa Kembangkan Perikanan | Villagerspost.com

Kampung Mendali, Kelola Dana Desa Kembangkan Perikanan

Budidaya ikan dalam keramba apung di Danau Sentani, Papua (dok. kkp.go.id)

Budidaya ikan dalam keramba apung di Danau Sentani, Papua (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Keindahan Danau Sentani, Papua tak hanya membawa keuntungan bagi sektor pariwisata semata, namun juga bagi para penduduk yang tinggal di sekitarnya. Salah satunya adalah para penduduk Kampung Mendali, Distrik Sentani Timur, Jayapura yang meraup “berkah” dari Danau Sentani dengan mengembangkan perikanan budidaya.

Pengelolaan perikanan budidaya itu ditangani secara profesional melalui Badan Usaha Milik Desa yang dibangun dengan modal dari kucuran dana desa yang mengucur ke sana sejak tahun 2015 lalu. Lewat BUMDes ini, warga Kampung Mendali tak hanya mengembangkan budidaya ikan tetapi juga mendirikan pabrik pengolahan pakan ikan.

Kampung Mendali merupakan sebuah desa di Distrik (Kecamatan) Sentani Timur, Jayapura. Kampung ini dihuni 277 kepala keluarga yang sebagian besar mengais rejeki sebagai nelayan di Danau Sentani dan sebagian lagi bertani. Berkat usaha perikanan ini, kini masyarakat pun merasakan adanya perbaikan secara ekonomi.

“Sejak turun temurun kami di Kampung Mendali hanya memancing ikan secara perorangan dengan penghasilan yang pas-pasan. Sekarang arahnya mulai lebih baik dengan adanya usaha budidaya ikan yang dikelola desa bersama masyarakat,” tutur Kepala Kampung Mendali, Wenfred Wally kepada Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo yang mengunjungi wilaayh itu beberapa waktu lalu.

Kampung Mendali tahun 2016 mendapatkan total dana sebesar Rp1,76 miliar. Dana tersebut meliputi dana desa yang bersumber dari APBN sebesar Rp857 juta, kemudian Alokasi Dana Desa (ADD) dari Kabupaten Rp779 juta, serta dana prospek dari Provinsi Papua sebesar Rp112 juta.

Sebagian dari dana tersebut dipakai untuk membangun keramba ikan yang dipasang di Danau Sentani. Sebagain lagi digunakan untuk membeli mesin pembuat pakan ikan. Kesepakatan membuat usaha budidaya ikan air tawar ini diambil melalui musyawarah kampung, dan terbukti mampu membawa perubahan signifikan bagi masyarakat.

Dari keramba ikan, Kampung Mendali kini sudah mulai menuai hasil. Modal awal sebesar Rp13,5 juta yang ditanam tahun 2015 kini sudah balik modal. Selanjutnya, warga sudah menabur benih untuk masa panen ketigakalinya. Masyarakat juga berencana mengembangkan produksi ikan dengan menambah jumlah keramba serta penaburan benih baru.

“Kami juga mulai mengembangkan produksi pakan ikan. Selama ini kami mendatangkan pakan ikan dari Surabaya dengan harga Rp300 ribu sekarung. Dengan mesin yang ada, kami akan memproduksi pakan ikan,” imbuh Wenfred.

Jika produk pakan ikan ini berhasil, Kampung Mendali sudah punya rencana lebih besar, yakni menjadi penyuplai pakan ikan se-Kabupaten Jayapura. Apalagi bahan baku pakan ikan sangat melimpah di Jayapura. Misalnya dari daun ubi, daun eceng gondok, serta ketela dan bahan-bahan alami lainnya.

“Kami sudah mulai menanam bahan baku buat pakan. Sekarang tinggal jalankan saja. Kita akan ambil dari sebagian dana desa,” terang Winfred.

Selain untuk mengembangkan usaha, Dana Desa yang diterima dari APBN juga dipakai membuat aneka program. Selain pengembangan ekonomi, juga membangun jalan desa, serta membuat rumah huni kepada sejumlah warga yang belum punya rumah. “Dari 277 KK, ada 66 KK yang numpang tinggal karena tidak punya rumah. Nah, kita fasilitasi mereka membuat rumah tinggal sederhana,” tandas Wenfred Wally.

Eko Sandjojo pun mengapresiasi kinerja kepala kampung bersama masyarakat Mendali yang berhasil mengembangkan bisnis berbasis potensi lokal. Eko mengingatkan, pengembangan bisnis harus memegang tiga prinsip, yakni fokus pada satu komoditas, kemudian bangun produk dengan skala ekonomi yang mencukupi, lantas membuat sarana pasca panen.

“Kalau Kampung Mendali mengembangkan bisnis budidaya ikan, maka buatlah skala produksi yang besar agar bisa memasok ke seluruh kabupaten ataupun provinsi. Sarana pasca panen juga dibangun sehingga harga harga tidak jatuh saat panen melimpah. Orang kalau mau merasakan ikan Danau Sentani, ya pasti akan ke Kampung Mendali,” kata Eko.

Untuk bisnis pakan ikan, Eko juga berharap, Kampung Mendali membuatnya dengan skala yang besar. Masyarakat pun perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan bagaimana membuat pakan ikan yang bermutu dan dikemas dengan baik.

“Kita di Kemendesa kan ada juga pelatihan-pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Termasuk pelatihan manajemen. Kalau bisa, beberapa kader desa ikut pelatihan manajemen karena ini penting untuk mengembangkan usaha masyarakat desa,” tegas Eko. (*)

Ikuti informasi terkait dana desa >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *