Kasus Cabai China: Impor Benih, Impor Hama Penyakit, Kedaulatan Pangan Terancam

Pemusnahan bibit tanaman mengandung penyakit oleh pihak karantina pertanian (dok. kementerian pertanian)
Pemusnahan bibit tanaman mengandung penyakit oleh pihak karantina pertanian (dok. kementerian pertanian)

Jakarta, Villagerspost.com – Ramainya pemberitaan penemuan penyakit tanaman pada bibit cabai dari China yang ditanam empat WN China di kawasan Kabupaten Bogor, menunjukkan fakta, Indonesia rentan terhadap masuknya penyakit baru lewat impor benih. Kedepan, tantangan ini semakin berat seiring dengan terus belangsungnya impor benih baik melalui program pemerintah maupun perdagangan umum.

Sebenarnya keberadaan penyakit baru tak hanya itu, menurut catatan Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman IPB, dari 1994 sampai dengan saat ini sekurangnya teridentifikiasi 12 jenis organisme pengganggu tanaman baru atau dikenal sebagai organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) golongan A1, yaitu OPT yang belum terdapat di dalam negeri. (lihat tabel)

“Munculnya penyakit penyakit baru yang ditemukan tim klinik tanaman selama ini karena terbawa oleh benih. Benih-benih ini merupakan benih impor,” terang Kepala Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor Dr. Widodo, dalam pernyataan yang diterima Villagerspost.com, Selasa (13/12).

Tabel: 12 OPTK Dari Benih Impor

No. Nama OPTK Tahun Ditemukan
1 Turnip Mosaic Virus  (TuMV) pada tanaman Sawi tahun 2009
2 Bakteri busuk batang (Clavibacter miciganensis) pada tanaman tomat tahun 2007
3 Pantoea stewartii pada tanaman jagung tahun 2003
4 Fusarium oxysporum fsp. cepae pada tanaman bawang merah tahun 1997
5 Bean Common Mosaic Virus  (BCMV) pada tanaman kacang panjang tahun 2009
6 Nematoda sista kentang/globodera sp pada tanaman kentang tahun 2003
7 Kutu putih pepaya/Paracocus marginatus pada tanaman pepaya tahun 2008
8 Lalat daun kentang dan tomat/Liriomyza sp pada tanaman kentang dan tomat tahun 1994
9 Papaya ringspot virus pada tanaman pepaya tahun 2013
10 Bacteria grain rot/Burkholderia glumae pada tanaman padi  ditemukan 2014
11 Nematoda daun putih/Aphelenchoides besseyi pada tanaman padi yang ditemukan tahun 2014
12 Bakteri Erwinia chrysanthemi pada kentang, tahun 2015

Sumber: Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB

Menurut Widodo, benih yang membawa bibit penyakit ketika ditanam akan menular ke tanaman yang lain melalui aliran air,  percikan air, angin, serangga, vektor, alat-alat pertanian maupun perdagangan produk tersebut. “Hal ini sangat berbahaya karena seringkali ketika muncul penyakit baru kita tidak memiliki strategi penanganan yang tepat dan cepat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB Dr. Suryo Wiyono mengatakan, masuknya penyakit lewat benih sangat merugikan. Tidak hanya menurunkan produksi namun merugikan petani karena bisa meningkatkan biaya produksi, dan menurunkan pendapatan petani. Sekali hama atau penyakit masuk ke negara kita, akan sangat sulit menghilangkannya.

“Kita perlu belajar dari kasus bawang merah. Tahun 1997 terjadi impor bawang merah konsumsi yang kemudian disalahgunakan menjadi benih. Bawang tersebut ternyata mengandung penyakit Fusarium oxyporum fsp. cepae panyakit ini pada waktu itu golongan A1. Sampai saat ini, penyakit tersebut terus menyerang dan menjadi musuh utama petani bawang,” kata Suryo.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan, maraknya penyakit baru yang masuk lewat benih harusnya menyadarkan kita untuk segera mewujudkan kedaulatan petani atas benih. “Dengan mengutamakan benih dari petani maka kita bisa terhindar dari risiko ledakan (outbreak) hama penyakit. Selain itu, dengan berdaulat benih maka kita mendorong tumbuhnya ekonomi di tingkat petani,” ujar Said.

Said menuturkan, maraknya impor benih, terutama padi dari 2006 hingga hari ini terutama terkait program peningkatan produksi pangan nasional dapat menjadi ancaman serius bagi pencapaian kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Alasannya, salah satunya adalah ancaman masuknya penyakit baru yang belum tentu disiapkan penanganannya.

Dalam catatan KRKP, impor benih padi dilakukan oleh perusahaan swasta, BUMN dan sedikit oleh lembaga penelitian. Berdasarkan negara asal, China merupakan negara terbesar yang menjadi sumber impor benih. Disusul India sebagai eksportir terbesar kedua. Sementara Filipina, Amerika Serikat, Australia dan Pakistan dalam jumlah yang sedikit.

Impor benih padi khususnya, kedepan masih terus akan terjadi seiring dengan kebijakan peningkatan produksi pangan nasional. Oleh karenanya Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara (GPN) Hermanu Triwidodo menyampaikan, penting bagi pemerintah untuk memperkuat benih lokal dan kelembagaan perbenihan petani.

GPN sendiri, kata Hermanu, telah berkirim surat Presiden Joko Widodo untuk ikut serta menjaga keamanan pertanian Indonesia dari ancaman hama dan penyakit yang berasal dari luar negeri dengan menghentikan impor benih padi. Kekayaan dan keanekaragaman hayati padi serta rakitan varietas unggul oleh petani dan peneliti Indonesia tidak kalah produksinya dibanding yang berasal dari manca negara.

“Kita punya banyak jenis benih lokal yang sudah teruji dan terbukti tahan bahkan bebas penyakit, produksinya juga cukup baik. Jadi tak ada alasan untuk mengimpor benih dari luar apalagi risiko yang menyertainya cukup besar. Para petani perlu difasilitasi, diajak dan diyakinkan bahwa tak selamanya benih impor lebih baik dari benih lokal,” tegas Hermanu.

Banyaknya fakta lapangan yang menunjukan makin tingginya benih impor makin maraknya penyakit tanaman pangan baru harusnya membuat pemerintah berteguh hati untuk menguatkan keberadaan benih lokal. Widodo mengatakan, selama ini data-data yang dihimpun dilapangan menunjukkan produktivitas padi hibrida impor tidak lebih tinggi dibandingkan varietas nasional semisal Mekongga, Ciherang.

“Bahkan lebih rentan terhadap serangan hama penyakit seperti wereng cokelat, blas dan kresek. Oleh karenanya, selain memperkuat karantina, pemerintah harus menghentikan kebijakan impor benih atas nama produktivitas tinggi karena sudah terbukti menambah permasalahan penyakit tanaman di Indonesia,” pungkas Widodo.

Ikuti informasi terkait cabai China >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *