Kebakaran Hutan Gunung Palung Ancam Habitat Orangutan | Villagerspost.com

Kebakaran Hutan Gunung Palung Ancam Habitat Orangutan

Orangutan bergelantungan di sebuah hutan di Riau, Sumatera (dok. greenpeace)

Orangutan bergelantungan di sebuah hutan di Riau, Sumatera (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Rekaman gambar dari drone, didapat oleh para peneliti lapangan Greenpeace Asia tenggara yang secara mengejutkan menunjukkan kebakaran tanah gambut secara masif di Indonesia. Rekaman ini diambil di sekitar tepian Taman Nasional Gunung Palung, sebuah suaka besar keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat, Indonesia.

Rekaman ini menunjukkan api yang berkobar di tanah gambut dalam, di seputar taman nasional dan konsesi kelapa sawit di dekatnya–-akibat dari puluhan tahun pembalakan liar dan penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp.

Pada bulan Juli dan Agustus 2015, api menyebar di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, Sumatera, sebuah wilayah penting dalam habitat harimau, yang sudah rusak oleh pembalakan ilegal termasuk untuk pengembangan kelapa sawit. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

“Tatkala pemerintah bersiap mengikuti pertemuan di Paris untuk menyelamatkan bumi dari bencana pemanasan global, bumi Indonesia sudah terbakar. Perusahaan yang menghancurkan hutan dan tanah gambut telah mengubah Indonesia menjadi sebuah bom karbon besar, dan kekeringan telah melengkapinya dengan ribuan sumbu. Pemerintah Indonesia tidak bisa lagi menutup mata terhadap penghancuran ini, saat separuh dari Asia akan menanggung akibatnya,” ujar Pemimpin Proyek kehutanan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (7/10).

Kebakaran Hutan di Indonesia mengakibatkan ancaman kesehatan yang serius di seluruh Asia Tenggara, dan diperkirakan akan mengakibatkan 110,000 kematian akibat penyakit pernafasan dan penyakit lain. Kebakaran ini juga merupakan sumber signifikan emisi gas rumah kaca, yang akan mengancam iklim dunia.

Data pemerintah Indonesia sendiri menunjukkan bahwa perusakan hutan dan tanah gambut merupakan penyebab dari hampir dua per tiga dari emisi GHG (green house gas–gas rumah kaca) Indonesia. Kebakaran hutan dan tanah gambut yang parah di Indonesia saat El Niño tahun 1997 menghasilkan emisi karbon yang diperkirakan setara dengan 40% dari emisi bahan bakar fossil dunia. Pada tahun 2015 diramalkan El Niño terbesar sejak tahun 1997.

“Kebakaran ini mengingatkan kita tentang warisan kerusakan dari Industri sawit dan pulp. Perusahaan perlu menghadapi tantangan dan bekerja bersama untuk mematahkan kaitan antara produksi komoditas dan penghancuran hutan. Kebijakan anti perusakan hutan yang unilateral ternyata telah gagal. Perusahaan perlu menghapus insentif ekonomi untuk menghancurkan hutan, dengan pelarangan perdagangan dengan siapapun yang memusnahkan hutan,” ujar Bustar Maitar.

Perusakan hutan telah meningkat secara dramatis antara tahun 2010 sampai 2013 meskipun pada tahun 2011 telah dilakukan moratorium penerbitan izin baru pembukaan hutan primer dan tanah gambut. Beberapa tahun terakhir ini, perusahaan-perusahaan yang memperdagangkan ata menggunakan minyak sawit dan komoditi lain telah menyerukan tindakan terhadap perusakan hutan. Namun demikian indikator yang dari World Resources Institute menunjukkan bahwa perusakan hutan tetap cenderung meningkat. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *