Keberlangsungan Hidup Orangutan Tapanuli Terancam

Orangutan Tapanuli yang baru diumumkan penemuannya, langsung terancam keberlangsungan hidupnya (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Peneliti mengumumkan penemuan sebuah spesies baru orangutan di Sumatera Utara. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) adalah sebuah tambahan spesies baru di kelompok kecil “great apes” dalam kurun waktu satu abad terakhir, bergabung bersama orangutan Sumatera, orangutan Kalimantan, manusia, gorila, bonobo, dan simpanse.

Populasi orangutan Tapanuli secara genetik dan morfologi diperkirakan kurang dari 800 individu yang tersisa, terkonsentrasi di sejumlah kecil fragmen hutan dengan luas sekitar 1.000 kilometer persegi di kabupaten Tapanuli Tengah, Utara, dan Selatan. Habitat perbukitan orangutan Tapanuli kini terancam oleh pembangunan industri dan pertanian, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air yang dapat berdampak hingga delapan persen dari habitat mereka yang tersisa, demikian kata peneliti.

“Sayangnya deforestasi dan kebakaran hutan bisa mengancam setiap spesies baru yang ditemukan di hutan Indonesia untuk bertahan hidup. Ketika keanekaragaman habitat di Indonesia terus memberikan kejutan kepada kita, begitu pula dengan kurangnya proteksi dari pemerintah,” ujar Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia Ratri Kusumohartono, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (3/11).

Bulan Agustus lalu, KLHK menerbitkan sebuah laporan orangutan Sumatera dan Kalimantan yang menyebutkan populasi orangutan menyusut dari survei sebelumnya yang dilakukan tahun 2004 dan mengatakan kerusakan habitat sebagai salah satu penyebab utama. Jumlah orangutan ditaksir kini sebanyak 0,13 hingga 0,47 individu per kilometer persegi. Menurun dari 0,45 hingga 0,76 individu per kilometer persegi.

“Perusahaan terus melakukan ekspansi bisnis sawit dan kertasnya di hutan dan lahan gambut di mana beberapa wilayah merupakan habitat terakhir orangutan. Sejumlah orangutan yang tersisa seperti di hutan di Batang Toru-Sumatera Utara dan Sungai Putri-Kalimantan Barat seharusnya bebas dari industri apa pun bila kita ingin menyelamatkan satwa Indonesia yang paling ikonik ini,” tambah Ratri.

Orangutan Tapanuli baru ditemukan para peneliti di akhir 1990-an. Dalam publikasi mereka mengenai deskripsi spesies baru ini, peneliti menggunakan perbandingan genetik untuk memperkirakan bahwa orangutan Tapanuli terpisah dari orangutan Sumatera sekitar 3,38 juta tahun silam.

Orangutan Tapanuli memiliki perbedaan dalam pola makan, suara, ukuran dan bentuk tengkorak, dan warna dan model rambut, diantara aspek unik dalam hal perilaku dan penampilan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *