Kebijakan Biodiesel 20 Persen Harus Mampu Dongkrak Harga TBS

Pekerja perkebunan sawit mengangkut hasil panen (dok. bumn.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Anggota Komisi VI DPR RI Hamdhani mengatakan, kebijakan program biodiesel 20 persen (B20) yang dijalankan oleh pemerintah harus berjalan baik, salah satunya dengan ikut mendongkrak harga Tandan Buah Segar (TBS) yang saat ini tengah mengalami penurunan tajam. Dia berharap dengan program B20, harga TBS bisa kembali normal

“Program B20 ini harus terealisasi dengan baik dan berdampak terhadap kenaikan harga kelapa sawit, karena harga kelapa sawit sekarang ini sedang mengalami penurunan yang signifikan. Kalau pemerintah merealisasikan dengan baik, maka harga-harga kelapa sawit yang tadinya rendah akan terangkat kembali,” kata Hamdani dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Deputi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Direktur Pertamina, dan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (26/9).

Hamdani mengatakan, pemerintah juga harus memberikan jaminan kepada petani-petani kelapa sawit agar hak-hak dan keuntungan dapat tercapai dengan baik. Karena terdapat 2 juta petani Indonesia yang mengalami dampak dari harga kelapa sawit yang turun terutama di Riau, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

“Pemerintah harus memberikan jaminan juga dengan petani kelapa sawit. Jangan hanya pihak-pihak tertentu saja yang mendapatkan keuntungan karena petani di Indonesia tepatnya di Riau, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Terdapat 2 juta bahkan lebih petani yang mengalami dampak dari harga yang begitu pesat,” kata politikus Partai Nasdem itu.

Seperti yang diketahui, program B20 ini diharapkan bisa menimbulkan multiplier effect bagi produsen minyak sawit mentah atawa Crude Palm Oil (CPO) maupun harga Tandan Buah Segar (TBS) di pasar domestik. Program B20 diharapkan akan meningkatkan pembelian CPO di pasar domestik oleh perusahaan penjual bahan bakar minyak (BBM), sehingga pasokan ekspor CPO di pasar global berkurang dan bisa memicu kenaikan harga CPO.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengungkapkan, harga TBS saat ini berada di kisaran Rp500 hingga Rp600 per kg. Padahal usia produktif TBS baru bisa dipetik setelah berumur 10 tahun. “Merawat sepuluh tahun hanya dihargai Rp500 sampai dengan Rp600 per kg. Nasib petani sawit semakin terjepit,” kata Fadli Zon.

Parahnya lagi, pengepul tidak mau membeli hasil tani sawit, karena pabrik pun membatasi. Harga TBS di tingkat petani kian hari kian merosot. Jika dibiarkan, petani sawit bakal gulung tikar karena tak dapat keuntungan lagi.

“Saya kira semestinya pabrik bisa menampung, karena pabrik-pabrik itu juga membutuhkan bahan material, bahan mentah untuk diolah menjadi CPO. Mestinya ada mekanismenya. Jangan sampai mereka dipersulit, sehingga pabrik mendapatkan harga yang murah, ini yang perlu dikontrol,” jelas Fadli.

Akar permasalahannya karena suplai TBS banyak, ditambah lagi kebun sedang panen raya. Akibatnya pabriknya tidak dapat menampung buah TBS yang ada, sehingga harga sawit dipermainkan. Seiring bertambahnya jumlah kebun petani non plasma atau petani tradisional, hendaknya diiringi penambahan jumlah pabrik pengolahan.

Anjloknya harga TBS sawit ini, kata Fadli, memerlukan intervensi pemerintah. Dia menyarankan pemerintah mengintervensi kebijakan pasar. “Saya kira ini perlu ada intervensi dari pemerintah, terutama menyangkut petani kelapa sawit. Kalau korporasi saya kira mereka sudah punya mekanisme, karena mereka pasti mendapatkan untung, karena size-nya kan besar. Kalau petani size-nya kecil, sehingga economic skill-nya pun kecil,” papar Fadli.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *