Kekayaan 8 Orang Ini Setara dengan Separuh Penduduk Miskin Dunia

Pekerja garmen di negara Asia, yang kebanyakan perempuan dan diupah murah (dok. oxfam)
Pekerja garmen di negara Asia, yang kebanyakan perempuan dan diupah murah (dok. oxfam)

Jakarta, Villagerspost.com – Laporan terbaru Oxfam mengungkapkan, delapan orang terkaya di dunia menguasai kekayaan yang nilainya setara dengan kekayaan 3,6 miliar orang termiskin di dunia. Laporan itu diterbitkan hari ini, Senin (16/1) menjelang pertemuan tahunan pemimpin politik dan binis dunia di Davos, Swiss.

Oxfam sebelumnya menghitung, kekayaan setengah penduduk dunia termiskin setara dengan kekayaan 62 orang terkaya dunia. Namun data terbaru dan lebih baik tentang distribusi kekayaan global–terutama di India dan China–menunjukkan, setengah penduduk termiskin di dunia memiliki kekayaan kurang dari yang telah diperkirakan sebelumnya.

Tabel: Nilai Kekayaan 8 Orang Terkaya Dunia

Peringkat Nama/Warga Negara/Bisnis Jumlah Kekayaan
1 Bill Gates,  Amerika Serikat, Pendiri Microsoft US$75 miliar
2 Amancio Ortega, Spanyol, Pendiri Index, pemilik jaringan fashion Zara US$67 miliar
3 Warren Buffett, Amerika Serikat, CEO  Berkshire Hathaway US$60,8 miliar
4 Carlos Slim Helu, Meksiko, pemilik Grup Carso US$50 miliar
5 Jeff Bezos, Amerika Serikat, Chief Executive Amazon US$45,2 miliar
6 Mark Zuckerberg, Amerika Serikat, CEO Facebook US$44,6 miliar
7 Larry Ellison, Amerika Serikat, CEO Oracle US$43,6 miliar
8 Michael Bloomberg, Amerika serikat, CEO Bloomberg LP US$40 miliar

Sumber: Oxfam

Pada tahun 2015, 1 persen penduduk terkaya Asia menguasai 41 persen dari kekayaan di Asia. Di Bangladesh, 100 CEO Financial Times Stock Exchange menghasilkan kekayaan setara dengan 10.000 orang yang bekerja di pabrik-pabrik garmen per tahun. Di Vietnam, orang termiskin harus bekerja selama satu dekade untuk mendapatkan harta setara orang terkaya di negara itu dalam sehari.

Laporan Oxfam bertajuk “An Economics for 99 Percents”, menunjukkan bahwa kesenjangan antara kaya dan miskin jauh lebih besar dari yang selama ini dikhawatirkan. Laporan itu merinci bagaimana bisnis besar dan orang super kaya memicu terjadinya krisis ketimpangan dengan cara menghindari pajak, menurunkan nilai upah, dan menggunakan kekuasaan mereka untuk mempengaruhi politik.

Tabel 2: Kekayaan 8 Orang Terkaya di Asia

Peringkat Nama/Warga Negara/Bisnis Jumlah Kekayaan
1 Jianlin Wan, China, Chairman Dalian Wanda Group US$28,7 miliar
2 Ka-Shing Li, Hong Kong, US$ 27,1 miliar
3 Shau Kee Lee,  Hong Kong, taipan property US$21,5 miliar
4 Jack Ma, China, Executive Chairman Alibaba Group US$20,5 miliar
5 Mukesh Ambani, India, Chairman Reliance Industries, Ltd. US$19,3 miliar
6 Dilip Shangvi, India, pendiri Sun Pharmaceuticals US$16,7 miliar
7  Huateng Ma,  China, CEO Tencent Inc. US$16,6 miliar
8 Azim Premji, India,  Chairman Wipro, Ltd. US$15 miliar

Sumber: Oxfam

Situasi ini menjadi panggilan bagi kita untuk melakukan perubahan mendasar dalam cara kita mengelola ekonomi sehingga mereka bekerja untuk semua orang, dan bukan hanya beberapa orang yang beruntung.

“Sungguh tak pantas, ada sedemikian banyak kekayaan yang dikuasai oleh hanya sedikit orang, sementara 1 dari 10 orang harus bertahan hidup dengan penghasilan US$2 per hari. Ketidaksetaraan menjebak ratusan juta dalam kemiskinan, itu menghancurkan masyarakat kita dan merusak demokrasi,” kata Direktur Eksekutif Oxfam International, Winnie Byanyima, dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com.

“Di seluruh dunia, orang-orang yang tertinggal. Upah mereka stagnan, sementara bos perusahaan multinasional membawa pulang bonus bernilai jutaan dolar. Pelayanan kesehatan dan pendidikan mereka dipotong sementara perusahaan dan orang super-kaya menghindar dari pajak. Suara mereka diabaikan karena pemerintah menyanyi untuk lagu bisnis besar dan orang elit kaya,” tambahnya

Laporan Oxfam tersebut menunjukkan bagaimana ekonomi kita rusak, karena sistem membuat kekayaan tersalurkan ke kaum elit dengan mengorbankan penduduk termiskin dalam masyarakat dimana mayoritas dari mereka adalah perempuan. Kaum terkaya mengumpulkan kekayaan pada tingkat yang mengagumkan sehingga dunia bisa melihat triliuner pertama hanya dalam 25 tahun.

Untuk menempatkan angka ini dalam perspektif–Anda akan perlu dana sebesar US$1 juta setiap hari selama 2.738 tahun untuk menghabiskan US$1 triliun.

Tujuh dari 10 orang hidup di negara yang telah melihat peningkatan ketidaksetaraan dalam 30 tahun terakhir. Antara 1988 dan 2011 pendapatan dari 10 persen penduduk termiskin meningkat hanya sebesar US$65, sedangkan pendapatan dari 1 persen penduduk terkaya dunia tumbuh sebesar US$11.800 atau 182 kali lebih banyak.

Perempuan adalah pihak yang seringkali bekerja di sektor dengan upah rendah, menghadapi tingginya tingkat diskriminasi di tempat kerja, dan sering menemukan diri mereka berada di bagian bawah tumpukan. Perempuan juga, mengambil jumlah yang tidak proporsional dari pekerjaan perawatan yang tak dibayar.

Melihat tren saat ini, Oxfam melihat, akan memakan waktu 170 tahun untuk perempuan untuk bisa dibayar setara dengan laki-laki dalam pekerjaan. Oxfam mewawancarai perempuan yang bekerja di pabrik garmen di Vietnam yang bekerja 12 jam sehari, 6 hari seminggu dan masih berjuang untuk mendapatkan upah sebesar US$1 per jam.

Upah itu mereka peroleh dari memproduksi pakaian untuk beberapa merek fashion terbesar di dunia. CEO perusahaan ini adalah beberapa dari orang-orang dengan bayaran tertinggi di dunia.

Laporan “An Economy for the 99 percent” juga menguraikan bagaimana orang-orang super kaya menggunakan jaringan mereka di negara-negara surga pajak untuk menghindari membayar pajak dengan adil. Berlawanan dengan kepercayaan populer, banyak dari super-kaya bukan lahir dari jerih payah sendiri. Analisis Oxfam menunjukkan, setengah dari miliarder dunia telah mewarisi kekayaan mereka atau akumulasi melalui penggunaan kroni dan koneksi dengan pemerintah.

Hal ini juga menunjukkan bagaimana orang-orang super kaya menggunakan uang dan koneksi mereka untuk memastikan kebijakan pemerintah bekerja untuk mereka. Misalnya, pemerintah di seluruh dunia telah memotong pajak korporasi dan orang kaya raya. Pada tahun 2014, dalam kompetisi untuk investasi Samsung, Indonesia menawarkan pembebasan pajak penghasilan badan selama 10 tahun, sementara Vietnam menawarkan 15 tahun.

Byanyima mengatakan: “Jutaan orang yang telah ditinggalkan oleh ekonomi kita yang rusak membutuhkan solusi, bukan kambing hitam. Itulah sebabnya Oxfam menetapkan pendekatan akal sehat baru untuk mengelola ekonomi kita sehingga mereka bekerja untuk mayoritas dan bukan hanya beberapa orang yang beruntung.”

“Pemerintah tidak berdaya dalam menghadapi perubahan dan kekuatan pasar teknologi. Jika politisi berhenti terobsesi dengan GDP (Pendapatan Domestik Bersih-PDB), dan fokus pada memberikan bagi semua warga negara mereka dan bukan hanya beberapa orang kaya, masa depan yang lebih baik adalah mungkin bagi setiap orang,” tambahnya.

Cetak biru Oxfam untuk perekonomian yang lebih manusiawi mendesak pemerintah untuk: Pertama, meningkatkan pajak bagi mereka yang kaya dan berpenghasilan tinggi untuk menghasilkan dana yang dibutuhkan untuk berinvestasi dalam kesehatan, pendidikan dan penciptaan lapangan kerja.

Kedua, bekerja sama untuk memastikan pekerja dibayar dengan upah yang layak, dan untuk menghentikan penghindaran pajak dan perlombaan pemberian pajak murah kepada perusahaan. Ketiga, perusahaan memberikan dukungan yang bermanfaat bagi pekerja dan masyarakat mereka bukan hanya pemegang saham. Keempat, membantu untuk membongkar hambatan untuk kemajuan ekonomi perempuan seperti akses pendidikan dan beban yang tidak adil dari pekerjaan perawatan yang tidak dibayar.

Oxfam juga menyerukan para pemimpin bisnis untuk memainkan peran mereka dalam membangun ekonomi manusia. Forum Ekonomi Dunia memiliki kepemimpinan responsif dan bertanggung jawab sebagai tema utama tahun ini. “Mereka bisa membuat memulai dengan melakukan untuk membayar pajak mereka secara adil dan dengan memastikan bisnis mereka membayar upah layak,” tegas Byanyima.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *