Kekeringan, Desa Besur Tetap Bisa Panen Raya, Ini Rahasianya

Prosesi panen raya di Desa Besur, Lamongan, Jawa Timur (dok. villagerspost.com/wahyu ridwan nanta)

Lamongan, Villagerspost.com – Di saat para petani di banyak daerah mengalami gagal panen akibat kekeringan, Desa Besur, Kabupaten Lamongan justru berhasil melakukan panen raya dengan hasil melimpah. Pada musim ini rata-rata produksi padi Desa Besur mencapai 8,4 ton per hektare.

Kepala Desa Besur Abdul Haris menyampaikan dalam kegiatan wiwit panen, hasil ini telah melampaui target yaitu hasil minimal sama dengan musim sebelumnya di angka 7 ton per hektare. “Hasil ini sesuai dengan target kami, bahkan lebih,” ujarnya kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Kualitas gabah yang dihasilkan pun tak kalah bagus. Hal ini disampaikan oleh POPT-PHP wilayah tersebut, Khamim Asyari. “Rendemen gabah Desa Besur sekitar 7,4 jauh dari rata-rata nasional yang hanya 6,5,” kata Khamim. Dia menambahkan, kualitas gabah tak lepas dari cara budidaya yang baik yaitu Manajemen Tanaman Sehat (MTS) yang termasuk Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di dalamnya.

Melaksanakan pertanian organik, jerami menjadi elemen penting bagi petani untuk dikembalikan ke sawah untuk menyuburkan tanah dan menangkal serangan hama (dok. villagerspost.com/wahyu ridwan nanta)

Sungai Bengawan Solo menjadi salah satu kunci keberhasilan panen Desa Besur. Air yang mengalir sepanjang tahun dapat mencukupi kebutuhan ratusan hektare lahan pertanian Desa Besur. Kebutuhan air yang cukup membuat petani bisa menanam sepanjang tahun.

Tahun 2018 ini, Camat Sekaran Yuli Wahyuono menargetkan aliran Sungai Bengawan Solo bisa menjangkau 12 desa di wilayahnya bahkan bisa berdampak pada 19 Desa lain. Upaya ini dilakukan dengan melakukan normalisasi saluran air dengan biaya Rp158 juta dari hasil swadaya para pemerintah desa terkait.

“Dengan upaya ini saya berharap para petani bisa menanam padi sebanyak tiga kali. Saat panen berhasil, harga gabah saat itu akan tinggi karena hanya beberapa daerah saja yang bisa panen,” ujar Yuli.

Upaya tanam padi tiga kali ini telah melewati perencanaan yang matang dan kordinasi yang intensif antar stakeholder terkait. Pada kegiatan sosialisasi program demonstrasi area pengendalian OPT di Kecamatan Sekaran, Khamim menyampaikan, keputusan untuk menanam padi pada musim tanam kemarau ke-2 ini tidak lepas dari kajian ramalan OPT yang menyatakan akan ada serangan ulat pengorok daun dan kutu kebul pada tanaman kacang hijau.

“Ada ancaman serangan Lyriomiza Sp. (ulat pengorok daun) dan kutu kebul sehingga akan sangat rawan gagal panen saat petani menanam kacang hijau di musim tanam kemarau ke-2 saat ini,” terangnya.

Penggunaan agen hayati untuk menjaga kesuburan tanah menjadi kunci sukses panen raya Desa Besur (dok. villagerspost.com/wahyu ridwan nant)

Sebelumnya pola budidaya petani Sekaran memang padi, padi, palawija. Selain pertimbangan ramalan hama dan ketersediaan air, Khamim sebagai pemandu Sekolah Lapang PHT di beberapa wilayah, mensyaratkan petani untuk melaksanakan budidaya ramah lingkungan yang bernafaskan PHT. “Tanpa didukung dengan manajemen tanaman sehat yang memperkuat agroekosistem, tanam padi tiga kali dalam setahun sama saja dengan mengundang musibah,” ungkap Khamim.

Dalam dua tahun terakhir, Desa Besur memang sudah menerapkan praktik budidaya PHT dengan pemanfaatan agen hayati, pengolahan tanah yang baik, dan tanaman refugia untuk memperkuat agroekosistem. Bahkan sekitar 95% petani sudah tidak menggunakan pestisida kimia sama sekali.

Hal ini tidak lepas dengan diadakannya Sekolah Lapang PHT seminggu sekali yang merupakan inisiasi pemerintah desa. Selain menambah pengetahuan bertani, Sekolah Lapang ini juga membantu petani untuk menentukan rencana tindak lanjut tiap minggunya karena telah ada petani pengamat yang melakukan pengamatan rutin lalu mempresentasikannya di Sekolah Lapang ini.

Laporan/Foto: Wahyu Ridwan Nanta, peneliti pada Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *