Kelompok Cahaya Tatapaan: Membangun Perikanan Berkelanjutan dari Akar Rumput

Para anggota kelompok Cahaya Tatapaan berpose bersama Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut Ditjen PRL Kementerian Kelautan dan Perikanan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)
Para anggota kelompok Cahaya Tatapaan berpose bersama Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut Ditjen PRL Kementerian Kelautan dan Perikanan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Manado, Villagerspost.com – Isu-isu kelautan dan perikanan seperti adanya penurunan hasil tangkapan ikan neayan dan rusaknya sumber daya perikanan akibat dampak perubahan iklim secara global akan sangat mempengaruhi ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya perikanan dan kelautan. Karena itu, Cahaya Tatapaan beserta konsorsiumnya sebagai kelompok nelayan kecil dan tradisional berkomitmen untuk berusaha mempertahankan kondisi wilayah tangkapnya dengan mengelola secara mandiri.

“Kelompok nelayan Cahaya Tatapaan juga siap untuk berkolaborasi dalam mendapatkan pendampingan dan penguatan kapasitas kelembangaan serta insentif sains untuk inovasi pengelolaan perikanan berkelanjutan,” kata Ketua kelompok Cahaya Tatapaan Sem Sambur, kepada Villagerspost.com, Rabu (1/3).

Stand kelompok Cahaya Tatapaan untuk melakukan ekspose kegiatan kelompok membangun perikanan berkelanjutan berbasis akar rumput (dok. villagerspost.com/eko handoyo)
Stand kelompok Cahaya Tatapaan untuk melakukan ekspose kegiatan kelompok membangun perikanan berkelanjutan berbasis akar rumput (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Karena itulah, pada sejak Selasa (28/2) hingga hari ini, Kelompok Cahaya Tatapaan yang mengelola wilayah tangkap di area zona tradisional Taman Nasional Bunaken, ikut berpartisipasi dalam acara The 1st meeting Coral Triangle Initiative (CTI)-CFF University Partnership for Capacity Building Research Colaboration. Aacara itu digelar di Kantor Regional CTI-CFF, di Manado, Sulawesi Utara.

Dalam kesempatan itu, Kelompok Cahaya Tatapaan melakukan ekspose aktivitas kelompok Cahaya Tatapaan dalam mengelola perikanan dan wilayah tangkapnya. Sem Sambur mengatakan, sejauh ini Cahaya Tatapaan menerapkan teknik pengukuran hasil tangkapan ikan dan ditimbang untuk melihat kesehatan karang dan produktivitas ikan. Kelompok ini juga tidak menggunakan alat tangkap yang merusak seperti penggunaan sianida, serta mengatur waktu tangkapnya dimana dalam wilayah kelola terdapat kawasan larang ambil untuk perlindungan ikan bertelur.

Mendapatkan kunjungan dari pejabat di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)
Mendapatkan kunjungan dari pejabat di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

“Kelompok konsorsiumnya adalah Tuama Bahari yang sedang mengembangkan budidaya kepiting bakau serta Betlehem sebagai nelayan tangkap jauh/pelagis (tuna),” terang Sem.

Dia optimis, membangun perikanan berkelanjutan yang mengakar dan berasal dari bawah (akar rumput) sebagaimana yang dilakukan kelompok nelayan Cahaya Tatapaan akan berhasil membangun perikanan yang lebih baik. “Selain itu, cara tersebut akan sejalan dengan pengembangan kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yakni pelestarian terumbu karang, ketahanan pangan, dan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan,” pungkas Sem.

Laporan/Foto: Eko Handoyo, Manajer Kampanye Pride Bogor 6 di Balai Taman Nasional Bunaken

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *