Kembangkan Perikanan Berkelanjutan, Indonesia Galang Dukungan Polandia | Villagerspost.com

Kembangkan Perikanan Berkelanjutan, Indonesia Galang Dukungan Polandia

Penenggelaman kapal dengan cara diledakkan oleh aparat Kementerian Kelautan dan Perikanan (dok. kkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Indonesia mengupayakan dukungan dari Polandia dalam mengembangkan perikanan berkelanjutan (sustainable fisheries) dan pemberantasan penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing/IUUF). Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti dengan Wakil Menteri Ekonomi Maritim dan Navigasi Darat Polandia Anna Moskwa, Sabtu (8/12) waktu setempat.

Dukungan yang digalang di antaranya terkait pelaksanaan Deklarasi Internasional tentang Kejahatan Transnasional Terorganisir dalam Industri Perikanan Global (The International Declaration on Transnational Organized Crime in the Global Fishing Industry). Susi mengatakan, berbagai tindakan kejahatan perikanan telah merugikan negara-negara dunia dan mengancam keberlanjutan perikanan global.

“Indonesia sebagai negara perikanan layaknya Polandia menaruh perhatian khusus pada isu ini. Oleh karena itu, kami mengundang Polandia untuk menyatakan Deklarasi International tentang Kejahatan Transnasional Terorganisir dalam Industri Perikanan Global agar sumber daya perikanan dunia dapat kita selamatkan,” kata Susi dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com.

Selain itu, kata Susi, Indonesia juga tidak akan dapat menjaga terumbu karang seperti yang diinginkan tanpa memberantas IUUF terlebih dahulu. Ajakan Susi ini disambut baik oleh Anna Moskwa. Dia mengatakan, Polandia memang membutuhkan pasokan produk perikanan segar dan olahan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ikan di negaranya.

Anna Moskwa juga menyampaikan undangan kepada Susi untuk berkunjung ke Warsawa dan dua kota besar di Laut Baltik, yaitu Gdansk dan Gydnia. Di sana terdapat pelabuhan-pelabuhan berbasis galangan kapal milik Polandia tempat berlangsungnya aktivitas ekonomi maritim Polandia.

Terakhir, Anna Moskwa menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia atas penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) kelima beberapa waktu lalu. “Selamat Indonesia atas keberhasilannya menyelenggarakan OOO yang berjalan sangat baik. Saya bisa katakan, ini event kelautan terbaik yang pernah saya hadiri,” pujinya.

Mendapat tanggapan positif, enurut Susi, hal ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor perikanan ke negara tersebut, utamanya pada komoditas Tuna/Tongkol/Cakalang (TTC), udang, Ikan mas, nila, lele, patin, dan bandeng. Industri pengolahan perikanan Polandia diperkirakan tumbuh jika ekspor dan investasi berjalan dengan baik.

Impor memainkan peran penting guna memasok bahan mentah dikarenakan keterbatasan produksi dalam negeri Polandia, baik dari perikanan tangkap maupun budidaya. “Setiap bulan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyelenggarakan Marine Fisheries Business Forum. Kami mengundang para pengusaha Polandia untuk turut serta melihat peluang kerja sama atau investasi di Indonesia,” ujar Susi.

“Kami dapat membantu menyediakan bahan baku untuk industri pengolahan Polandia. Sebaliknya Polandia, dapat membantu menyerap hasil tangkapan dan budidaya ikan di Indonesia yang melimpah,” tegas Susi.

Kerja sama perikanan Indonesia-Polandia juga dapat terlihat dari catatan neraca perdagangan kedua negara. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP), neraca perdagangan Indonesia terhadap Polandia tercatat surplus dalam tiga tahun terakhir.

Ekspor perikanan Indonesia terus meningkat dari nilai US$766 ribu pada 2015, menjadi US$866 ribu pada 2016, dan naik menjadi US$1,49 juta pada 2017. Januari-Agustus 2018, bahkan nilai ekspor telah tercatat sebesar US$1,495 juta. Sementara itu, hampir tidak tercatat adanya impor produk perikanan dari Polandia ke Indonesia dalam 3 tahun terakhir, kecuali pada tahun 2017 yang sebesar US$89.375.

Perlu diketahui, The International Declaration on Transnational Organized Crime in the Global Fishing Industry ini telah disetujui oleh menteri dari sembilan negara, yaitu Namibia, Kiribati, Indonesia, Ghana, Sri Lanka, Palau, Faroe Island, Kepulauan Solomon, dan Norwegia. Deklarasi disampaikan pada kegiatan 4th International Symposium on Fisheries Crime di Copenhagen tanggal 15-16 Oktober 2018 lalu.

Dukungan juga telah dinyatakan lima negara nordik, yaitu Denmark, Faroe Island, Finlandia, Greenland, dan Swedia melalui Nordic Minister Statement on Transnational Organized Fisheries Crime yang dibacakan di Alesund, Norwegia pada 28 Juni 2017.

“Deklarasi ini bertujuan mendorong semua negara turut dalam upaya penyehatan laut, menciptakan industri perikanan dengan persaingan yang sehat, dan mengutamakan sustainable use of the ocean,” tegas Susi.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *