Kembangkan Wisata, Desa Bilebante Dapat Apresiasi Kemendesa PDTT

Track bersepeda di Desa Bilebante, NTB (dok. bpmpd ntb)

Jakarta, Villagerspost.com – Desa Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mendapat apresiasi dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), karena keberhasilannya membangun dan mengembangkan desa wisata. Desa tesebut berhasil menyulap kawasan desa menjadi asri, memiliki lahan persawahan yang luas, dan menyuguhkan beberapa fasilitas bagi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam khas perdesaan.

“Sehingga, Desa Bilebante ini dinamakan juga sebagai desa wisata hijau,” kata Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT) Kementerian Desa PDTT Samsul Widodo yang melakukan kunjungan kerja ke Desa Bilebante, Rabu (6/2).

Bagi pengunjung yang ingin menginap, Desa Wisata Hijau Bilebante sudah tersedia fasilitas homestay. Selain itu, terdapat fasilitas lainnya sepeti bumi perkemahan, kolam renang, pasar pancingan, jalur sepeda, serta sentra pelatihan UMKM pengolahan rumput laut.

Desa Wisata Hijau Bilebante pada tahun 2017 mendapatkan penghargaan dari Kemendes PDTT sebagai Desa Wisata terbaik dalam ajang Desa Wisata Award 2017. “Terpilihnya Desa Bilebante karena dinilai telah mampu menjalankan roda perekonomian melalui Desa Wisata,” ujar Samsul.

Bukan hanya berhasil mengembangkan desa wisata, Desa Bilebante juga telah berhasil mengembangkan usaha pengolahan rumput laut yang dijalankan di Desa Bilebante yang dinilainya berhasil dalam pengembangan produk olahan rumput laut.

“Produk olahan rumput laut ini termasuk yang berhasil, biasanya rumput laut diolah menjadi karagenan sehingga masyarakat akan susah masuk ke sana, karena masuknya ke pabrik-pabrik besar. Saya berharap desa ini bisa menjadi contoh desa-desa lainnya untuk mengolah rumput laut,” katanya.

Koperasi Putri Rinjani yang menjadi pusat pengolahan rumput laut di Desa Bilebante telah mengolah rumput laut menjadi keripik, dodol dan wajik. Ketua Koperasi Putri Rinjani Zaenab mengatakan, proses coba-coba untuk bisa menghasilkan olahan rumput laut seperti ini membutuhkan waktu satu tahun.

“Tahun 2015, saya ikut dalam Komite Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk urusan standarisasi rumput laut. Saya dan tim memberikan pendampingan kepada masyarakat tentang standar waktu panen rumput laut. Awal mulanya seperti itu sampai sekarang saya dan masyarakat mengolah rumput laut ini,” kata Zaenab.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *