Kemendag Integrasikan Sistem Resi Gudang dengan Pasar Lelang Komoditas

pelatihan teknis calon pengelola SRG (dok. bappebti)
pelatihan teknis calon pengelola SRG (dok. bappebti)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengintegrasikan Sistem Resi Gudang (SRG) dan Sistem Pasar Lelang Komoditas (SPLK) untuk menjaga pasokan pangan nasional. Jika diterapkan secara nasional, sistem ini dapat membantu pemerintah dalam menjaga pasokan pangan komoditas.

“Implikasinya dapat menekan tingkat inflasi,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam peluncuran integrasi SRG dan SPLK di Pendopo Kabupaten Cianjur, hari ini, Senin (5/12)

Enggar mengatakan, sistem lelang online yang didukung dengan integrasi Sistem Informasi Resi Gudang dan Sistem Informasi Harga akan menghilangkan batasan-batasan dalam perdagangan komoditas. “Cakupan pasar lelang menjadi lebih luas dan bersifat nasional dapat memunculkan pembentukan harga yang lebih baik dan transparan serta menciptakan efisiensi mata rantai perdagangan,” imbuhnya.

Integrasi SRG dan PLK pada dasarnya dapat membangun jaringan di seluruh gudang SRG, memperpendek mata rantai pemasaran yang panjang, dan mengatasi kendala jarak maupun waktu. “Hal ini akan mengefisiensikan pemasaran dan membuka akses pemasaran bagi petani, dari yang semula lokal menjadi nasional,” ungkap Mendag.

Enggar menegaskan, integrasi ini dapat meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di pasar lokal ataupun global, mencukupi kebutuhan pangan antar daerah, serta mengoptimalkan nilai jual komoditas yang ditransaksikan sehingga pendapatan petani/produsen akan lebih meningkat.

Sementara itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution terintegrasinya SRG dan PLK dapat memperlancar distribusi pangan dan menekan inflasi. “Implementasi SRG dan PLK secara nasional dapat membantu pemerintah dalam mengendalikan ketersediaan dan kelancaran distribusi komoditas pangan, sehingga inflasi dapat ditekan,” ujarnya.

Pemerintah berperan mengembangkan SRG dan SPLK di daerah karena fluktuasi harga komoditas pangan berkontribusi signifikan terhadap tingkat inflasi daerah. Tingkat inflasi daerah ini akan menentukan seberapa besar tingkat inflasi nasional.

Darmin juga sangat mendukung dan mengapresiasi upaya yang dilakukan Kemendag. Ia meyakini Sistem Aplikasi Pasar Lelang Terpadu. Inetgrasi SRG ke dalam kegiatan PLK dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Peluncuran ini dihadiri 150 orang undangan, terdiri atas Gubernur Jawa Barat, perwakilan Bank Indonesia (BI), Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian BUMN, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bappenas. Tidak ketinggalan, Bupati dan Kadisperindag di wilayah Jawa Barat, serta pelaku usaha SRG dan PLK turut hadir.

Proyek percontohan integrasi SRG dan SPLK telah dilakukan di Jawa Barat, pada gudang-gudang SRG yang terletak di Indramayu, Subang, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, Majalengka, dan Bogor. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kemendag juga telah memberikan persetujuan kepada PT Pos Indonesia (Persero) sebagai Pengelola Gudang SRG dan Penyelenggara Pasar Lelang Online.

Bekerja sama dengan PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), PT Pos Indonesia bertugas sebagai lembaga kliring dan penjaminan. Sistem Pos2Pay PT Pos Indonesia dapat digunakan sebagai sarana transaksi keuangan dan jaringan logistiknya sebagai sarana pengiriman komoditas. Selain itu, terdapat beberapa lembaga lain yang terlibat aktif dalam penyiapan dan pelaksanaan integrasi SRG dan SPLK di Jawa Barat, seperti BI, Kantor Perwakilan BI Jabar, Dinas Perindag Jabar, Dinas Perindag Kab. Cianjur, Dinas Koperindag Kab. Tasikmalaya, Bank BJB, dan Perum Jamkrindo.

SRG merupakan instrumen perdagangan dan keuangan baru di Indonesia untuk membantu komoditas pertanian memperoleh pembiayaan tanpa diperlukan agunan lainnya. Instrumen ini dapat menjadi sarana tunda jual saat panen raya ketika harga komoditas berada pada titik terendah dan membuka akses pembiayaan bagi para petani yang umumnya memiliki keterbatasan aset untuk dijadikan agunan. SRG tidak hanya sekedar penyimpanan, namun juga pemberian nilai tambah karena komoditas yang disimpan dapat diolah sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Sedangkan SPLK merupakan sarana pemasaran komoditas yang transparan sehingga dapat memotong mata rantai perdagangan menjadi lebih ekonomis dan efisien, serta menjadi sumber pasokan kebutuhan komoditas nasional.

Pada saat yang bersamaan, diluncurkan pula aplikasi SRG Mobile berbasis android. Aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan kegiatan SRG yang telah terintegrasi dengan kegiatan SPLK. “SRG Mobile dirancang untuk memudahkan petani pemilik barang/resi gudang. SRG Mobile bisa digunakan untuk simulasi biaya, mengajukan penyimpanan dan pengeluaran komoditas, memperoleh referensi harga komoditas, dan membuat rencana pemasaran melalui PLK,” ujar Mendag Enggar.

Pada saat yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman didampingi oleh Gubernur Jawa Barat dan Bupati Cianjur meluncurkan Beras Menak produksi KUD Sukamulya Cianjur. Beras Menak ini memiliki tagline “Pandan Wangi: Jagonya Beras Asli Cianjur”. Beras Menak merupakan salah satu produk pilot project Kemendag 2016 di Kab. Cianjur dalam program rebranding. Program tersebut merupakan langkah nyata pemerintah dalam menerapkan Gudang SRG sebagai sarana penambahan nilai komoditas dari hulu ke hilir.

Ikuti informasi terkait sistem resi gudang >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.