Kementan Ajak Dialog Peternak Terkait Anjloknya Harga Ayam | Villagerspost.com

Kementan Ajak Dialog Peternak Terkait Anjloknya Harga Ayam

Ilustrasi peternakan ayam potong (dok. komisi pengawas persaingan usaha)

Jakarta, Villagerspost.com – Para peternak ayam kembali resah akibat anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak. Data dari Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengungkapkan, harga ayam hidup dari peternak saat ini rata-rata hanya dihargai Rp12 ribu per kilogram (kg). Padahal, biaya produksi ayam di kisaran Rp 18 ribu per kg.

Berbeda dengan perusahaan integrator yang bisa menekan biaya produksi hingga Rp 14 ribu per kg karena memproduksi ayam dalam skala besar. Adapun, harga acuan ayam di tingkat peternak sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 sebesar Rp18 ribu-Rp19 ribu per kg

Anjloknya harga ayam hidup ini membuat para peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) berencana bakal menggelar demonstrasi di Kementerian Pertanian dan Istana Negara, Selasa (28/7). Mengantisipasi aksi, Kementerian Pertanian pun mengajak para peternak untuk kembali berdialog guna menemukan solusi bersama.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan Sugiono mengatakan, aksi unjuk rasa para peternak itu kemudian dialihkan menjadi dialog di ruang rapat utama lantai 6 Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH). Dialog dihadiri 25 orang utusan perwakilan dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Akan ada audensi lanjutan yang nantinya dilakukan antara Pengurus PPRN dengan Menteri Pertanian, yang waktunya diperkirakan paling lambat pada minggu ke 2 bulan Agustus 2020,” kata Sugiono, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/7).
.
Sebelumnya, dia mengakui telah ada kesepakatan digelarnya dialog setelah pertemuan antara perwakilan PPRN dan Ditjen PKH Kementan, pada Senin (27/7) kemarin. Sugiono mengatakan, audiensi terbuka untuk diwakili oleh para pengurus dari berbagai wilayah di Indonesia.

PPRN, kata dia, dipersilakan untuk menyiapkan konsep opsi perlindungan terhadap keberlangsungan budidaya ayam broiler dan disampaikan langsung kepada Menteri Pertanian.

Pada 24 Juli 2020 lalu, Sugiono menjelaskan sudah ada kesepahaman antara peternak dan Ditjen PKH Kementan. Terutama dalam pengaturan supply-demand ayam. Kesepakatan itu diantarnya yakni penyerpaan livebird atau ayam hidup akan dilakukan mulai minggu ke empat di bulan Juli 2020. Penyerapan dengan mekanisme pembelian dilebihkan Rp2.000 per kilogram (kg) di atas harga pasaran sesuai dengan ukurannya.

Selain itu, pelaksanaan penyerapan livebird external farm dilaksanakan hingga mencapai harga rata-rata Rp17.500 per kg untuk ayam ukuran 1,6-1,8 kg. Hasil laporan pelaksanaan penyeralan livebird berkoordinasi dengan asosiasi perunggasan yakni GOPAN dan Pinsar dengan melampirkan foto timbang.

Ketua PPRN, Alvino Antonio, mengatakan, regulasi yang digunakan pemerintah dalam bisnis perunggasan saat ini dinilai tidak adil. Terutama terkait Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 yang membuat persaingan tidak sehat antara bisnis perunggasan peternak mandiri dan perusahaan terintegrasi.

Dia mengatakan, perusahaan integrator kini dapat menjual livebird atau ayam hidup ke pasar bebas sehingga bersaing dengan para peternak mandiri. Menurut dia, itu membuat suplai berlebih. Otomatis peternak dengan biaya produksi yang lebih besar harus menelan kerugian lantaran harga yang jatuh.

“Peternak akan selalu menghadapi masalah kalau regulasi tidak adil. Bukan hanya soal harga saja, pasar dari hulu ke hilir jadi berantakan,” kata Alvino.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi mengatakan, upaya penyerapan ayam peternak yang sebelumnya telah dilakukan para perusahaan integrator dan Badan Usaha Milik Negara tak banyak membantu dalam menaikkan harga. Saat ini, penyerapan sudah tidak dilakukan dan akan direncanakan untuk dilakukan kembali.

Namun, Sugeng menilai, perlu ada upaya radikal dari pemerintah demi membenahi bisnis perunggasan dari hulu ke hilir. Sekaligus mengatur sistem yang adil antara produsen ayam skala perusahaan dengan para peternak mandiri yang tidak bermitra dengan perusahaan.

“Sebelum tahun 2003 ke bawah, pasar tradisional ini dikuasai rakyat. Sekarang, mestinya integrator yang sudah punya teknologi harusnya siapkan di hilir (produk jadi). Ini tidak disiapkan, akhirnya terjadi penumpukan di tempat yang sama, ironisnya pasar tradisional,” kata Sugeng.

Sugeng menegaskan, peternak tetap meminta agar integrator tidak lagi diperbolehkan menjual ayam hidup di pasar tradisional. Menurutnya, integrator sebaiknya fokus sebagai produsen DOC (day old chicken) atau bibit ayam dan dibeli oleh para peternak.

Selain itu, perusahaan dapat fokus dalam memproduksi produk olahan ayam yang dipasarkan di hilir. “Langsung saja ke olahan. Biarlah budidaya ayam ini diserahkan kepada rakyat,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *