Kementan Dorong Bone Jadi Pioner Produsen Benih Jagung Hibrida | Villagerspost.com

Kementan Dorong Bone Jadi Pioner Produsen Benih Jagung Hibrida

Jagung untuk bahan baku pakan ternak. (dok. kemendagri.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Takdir Mulyadi mengatakan, pihak Kementan tengah mendorong Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya Kabupaten Bone menjadi pioner produsen benih jagung hibrida di kawasan timur. “Target kita adalah meningkatkan kapasitas petani agar pintar membuat benih jagung hibrida secara mandiri. Nantinya akan dikelola dalam bentuk korporasi,” kata Takdir, dalam siaran persnya, Jumat (4/10).

Untuk itu, Kementan menggelar Program Pengembangan Kawasan Penangkaran Benih Jagung Berbasis Korporasi Petani. “Hal ini sesuai dengan program Gubernur yang ingin menjadikan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai Provinsi Mandiri Benih Jagung Hibrida,” tambahnya.

Takdir menyebutkan, Kabupaten Bone merupakan salah satu contoh sentra pertanaman jagung sekaligus sebagai daerah penangkaran benih jagung hibrida. Sudah tidak asing lagi sejak beberapa tahun ini kelompok tani di desa Tajong, Kecamatan Tellu Siattinge, Bone telah bekerjasama dengan BPTP dan Balitser sebagai penangkar benih jagung hibrida. “Benih hasil akan dibantu dipasarkan oleh perusahaan nasional yang bergerak di pertanian,” ujarnya.

Dalam tiga tahun terakhir, sasaran tanam jagung di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan dari tahun 2016-2018 berturut-turut, seluas 412.621 hektare (ha), 416.026 ha dan 417.154 ha tahun 2018. Meningkatnya sasaran tanam tersebut, tentunya menyebabkan kebutuhan benih jagung hibrida juga semakin meningkat.

“Namun demikian, penyediaan benihnya sebagian besar masih didatangkan dari luar provinsi. Berawal dari kondisi tersebut untuk memenuhi kebutuhan benih jagung hibrida yang meningkat setiap tahun, Gubernur Sulawesi Selatan mencanangkan ‘Sulawesi Selatan menjadi Provinsi Mandiri Benih Jagung Hibrida,” paparnya.

Lebih lanjut Takdir mengungkapkan harapanya ke depan agar penangkar benih di Sulawesi Selatan bisa membuat benih sendiri dan dapat memenuhi kebutuhan insitu. Selain itu mempunyai nilai tambah, menghemat biaya produksi berupa benih serta membentuk kelembagaan korporasi tani dalam usahataninya.

“Kami ingin Sulawesi Selatan bisa memenuhi kebutuhan benih wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Sulawesi Tenggara, bahkan bisa ekspor ke luar Indonesia untuk menambah devisa Negara,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) dan Perkebunan Kabupaten Bone Sunardi Nurdin mengatakan sebagai tindaklanjutnya Kementan sudah menandatangani kontrak MoU kerjasama dengan petani penerima bantuan Pilot Project Pengembangan Kawasan Jagung Berbasis Korporasi Petani.

Guna menjamin akses pasar juga dilakukan kerjasama MoU antara PT Benindo Perkasa Utama dengan poktan. “Dengan kerjasama ini, kami akan serius mendukung pengembangan penangkaran benih jagung hibrida di Kabupaten Bone,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan, Fitriani menyambut baik terkait program bantuan yang dilakukan Kementan. Dengan adanya kegiatan ini sangat berguna untuk pemberdayaan kelompok tani/gabungan kelompok tani. “Disamping itu juga untuk proses pembelajaran bagi petani dalam membuat benih secara mandiri,” katanya.

Fitriani menambahkan, Kementan berkomitmen untuk memberikan bantuan fasilitas sarana produksi berupa benih tetua, pupuk, pestisida, insektisida, dan bantuan herbisida kepada poktan/gapoktan. Dari dana yang ada di APBD pun mendukung untuk kegiatan ini.

“Ada teknologi irigasi tetes, teknologi perbenihan, pendampingan dan pengawalan Balitser dan BPTPH, sampai dengan dryer pengeringan yang kami berikan untuk petani,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Usman, Ketua kelompok Tani Awang Pulu Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone mengungkapkan siap menjadi penangkar benih jagung hibrida yang andal. “Bantuan ini nantinya dapat dirasakan manfaatnya kepada petani sekitar untuk meningkatkan nilai tambah,” katanya.

Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya, Kementan, Heny Rayhani menegaskan untuk mendukung program ini perlu pengawalan dan pendampingan baik dari Dinas Pertanian, Litbang, PPL, BPSB dan POPT. “Sedangkan di hilirnya harus ada pengokup benihnya untuk mendukung program pemerintah maupun dijual free market,” ungkap Heny.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *