Kementan Dorong Ekspor Produk Olahan

Bawang merah asal Brebes siap diekspor ke Thailand (dok. kemendag.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Pertanian mendorong para pengusaha mengekspor produk olahan. “Kami mendorong para eksportir agar tidak lagi mengekspor komoditas mentah ke luar negeri. Olah dahulu minimal menjadi barang setengah jadi agar komoditas pertanian tersebut memiliki nilai tambah,” ujar Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat melepas ekspor di kantor Karantina Pertanian Surabaya, Rabu (16/7).

Dalam kesempatan itu, Kementan melepas komoditas pertanian olahan asal Jawa Timur, senilai Rp2,98 miliar. Komoditas pertanian olahan yang diekspor hari ini adalah 23,52 ton singkong beku dengan nilai ekspor Rp320 juta tujuan Inggris, 15,12 ton porang chips senilai Rp365 juta tujuan China dan 302,4 ton minyak goreng beku (shortening) senilai Rp2 miliar. Kemudian 5,17 ton kopi olahan senilai Rp229 juta tujuan Saudi Arabia dan 200 kg bakso senilai Rp64 juta tujuan Hongkong.

Jamil menjelaskan lima komoditas ekspor tersebut, sudah mengalami proses pengolahan, sehingga memiliki daya simpan lebih lama yang berdampak pada naiknya nilai tambah komoditas sehingga dapat menembus pasar ekspor. Harga porang segar di pasar menurut situs harga.web.id mencapai Rp4.000 per kilogram. Namun setelah dilakukan proses pengolahan pengeringan, porang chips memiliki nilai ekspor mencapai Rp14.000/kg.

Begitu juga dengan singkong segar yang awalnya hanya memiliki harga jual Rp1.750/kg, setelah diolah menjadi singkong beku memiliki daya tembus ekspor dengan harga yang meningkat menjadi Rp13.500/kg. “Seperti inilah contoh terobosan ekspor yang kami harapkan, kita tidak mengekspor komoditas mentah lagi, tapi ekspor komoditas yang telah di olah tentu mendatangkan nilai tambah yang lebih tinggi,” tambah Jamil.

Awalnya tidak ada yang menduga bahwa singkong dan porang dua komoditas yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat umum mempunyai nilai ekonomi tinggi dan banyak diminati luar negeri. Manfaat singkong bagi kesehatan adalah mencegah anemia, melindungi dan memperbaiki jaringan tubuh, menurunkan risiko penyakit jantung dan bahkan mencegah kanker.

Sementara umbi porang (Amorphophallus Muelleri Blume) banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

Beragam manfaat yang dimiliki singkong dan porang membuat kedua komoditas tersebut mampu merambah pasar internasional selain kelor dari Pasuruan dan Madura yang ditasbihkan sebagai tanaman dengan sejuta manfaat.

Menurut Jamil, ini merupakan salah satu implementasi strategi percepatan ekspor yang dicanangkan Kementerian Pertanian yaitu mendorong ekspor komoditas olahan dan menambah diversifikasi komoditas. Selain strategi lainnya yaitu: meningkatkan volume ekspor dan membuka akses pasar negara baru.

Strategi tersebut diwujudkan dalam terobosan dan inovasi Barantan berupa tindakan pemeriksaan karantina di gudang pemilik, inline inspection agar proses bisnis ekspor lebih terjamin juga lebih cepat; memberikan layanan prioritas bagi pelaku eksportir yang patuh karantina ; memperluas akses pasar melalui protokol karantina, manajement risk analysis (MRA), kerja sama bilateral dan multilateral lainnya.

Selanjutnya Barantan juga telah menerapkan sertifikat elektronik, e-Cert ke negara tujuan ekspor yang telah memiliki kesiapan sistem ini. “Dengan e-cert kita akan mengetahui apakah produk yang dieskpor dijamin diterima atau tidak sebelum komoditas eskpor tiba,” jelasnya.

“Barantan sebagai salah satu instrumen perdagangan internasional bertugas untuk mengawal komoditas pertanian yang di ekspor. Ini merupakan salah satu langkah nyata untuk mewujudkan mimpi kita bersama menjadikan Indonesia Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045,” tandas Jamil.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Surabaya Musyaffak Fauzi menyampaikan, dari data sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST diwilayah kerjanya, data ekspor porang chips dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Tahun 2017 ada 4,3 ton ekspor porang chip senilai Rp61 miliar. Di tahun 2018 ada 5,5 ton senilai Rp77 miliar. Sementara pada semester pertama tahun 2019 ekspor porang chips sudah mencapai 3,7 ton dengan nilai Rp51 miliar, sudah melebihi nilai ekspor di semester pertama 2018 yang mencapai Rp40 miliar.

“Sertifikasi yang dilakukan setiap hari rata-rata mencapai 113 sertifikat dan semakin meningkat dengan dibukanya konter layanan khusus inline inspection di kantor utama Karantina Pertanian Surabaya selain di pelabuhan Tanjung Perak,” tambah Musayaffak.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *