Kementan Dorong Petani Bawang Merah Dari Biji | Villagerspost.com

Kementan Dorong Petani Bawang Merah Dari Biji

Hamparan tanaman bawang merah yang ditanam dari biji di NTT ( villagerspost.com/yulius tondu tay)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Pertanian mendorong petani bawang merah untuk menanam bawang merah dari biji atau true shallot seed (TSS). Selama ini, petani bawang umumnya menanam bawang dari umbi sebagai benih.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan, menanam bawang dari biji lebih efisien dan menguntungkan. Selain faktor harga yang terjangkau, produktivitasnya juga lebih bagus ketimbang umbi.

“Memang butuh upaya ekstra dibanding menggunakan benih umbi. Waktunya relatif lebih panjang kurang lebih 1,5-2 bulan, lebih panjang dari budidaya menggunakan umbi,” kata Prihasto, dalam diskusi virtual Gedor Horti in Action, Kamis (26/6).

Prihasto menambahkan, keunggulan lainnya menanam bawang merah penggunaan benih TSS ini produksinya lebih tinggi dibanding menggunakan umbi. Prihasto lantas mencontohkan budidaya bawang merah benih TSS di Kabupaten Malaka.

Di sana, kata dia, belum pernah ada petani yang menanam bawang merah. Mereka kemudian mencoba mengimplementasikan benih TSS. Cara penanamannya masih sangat sederhana sekali, jadi benihnya hanya ditabur tanpa disemaikan dulu.

“Karena tanahnya subur, hanya menggunakan pupuk kandang sekitar 7-10 ton itu bisa menghasilkan sekitar 20 ton per hektare dan hasilnya besar-besar. Sampai saya bawa sampelnya ke kantor,” urai Prihasto.

Dari kisah sukses tersebut, papar Prihasto, petani bisa mengambil pelajaran bahwa sekalipun waktunya lebih lama, tapi produksinya cukup tinggi. Dari segi biaya, jauh lebih rendah, memang semua ada plus minusnya.

Dia menyadari bahwa salah satu tantangan dari pengembangan TSS adalah mendorong para petani untuk membuat penangkaran. Menurutnya, tak sedikit petani ingin lebih cara instan dengan menggunakan umbi.

“Solusinya, ketika petani memang tak mau membuat penangkaran, ya harus memperbanyak penangkar-penangkar di tiap daerah. Mereka nantinya yang mengcover kebutuhan petani,” kata Prihasto.

Terkait ini, dia menilai, teknologi soyblok sider semasa dirinya bertugas sebagai Kepala BPTP Provinsi Jawa Tengah, dinilai mampu memberikan solusi. “Menurut saya itu teknologi yang sangat sederhana, cepat. Kan kita ingin namanya suatu inovasi itu lebih mudah, lebih cepat, dan lebih baik,” ujarnya.

Dengan soyblok sider atau semacam alat cetak media tanam, setiap hari persemaian bisa menghasilkan antara 26-30 ribu persemaian setiap hari. Tenaga kerja cukup tiga orang. Ada yang mencetak, ada yang memasukkan benih, ada yang menyiapkan olahannya.

“Untuk bawang merah, satu hektarenya kurang lebih membutuhkan 18 ribu umbi per hektare. Itu tenaga kerja hanya dengan tiga orang dalam waktu satu hari,” ungkap Prihasto.

Dia berharap adanya teknologi yang tepat guna bisa dengan mudah diaplikasikan. “Kita hitung tingkat kegagalannya juga lebih rendah, di bawah dua persen,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha mengatakan, pihaknya terus memacu produksi bawang merah terutama di bulan-bulan yang diprediksi mengalami neraca defisit. Salah satu caranya budidaya bawang merah dengan TSS.

“Berdasarkan Early Warning System, secara kumulatif produksi nasional bawang merah mencukupi kebutuhan selama setahun. Hanya di bulan-bulan tertentu, pasokannya perlu diantisipasi sejak dini, terutama di Bulan Oktober hingga Desember 2020 nanti,” ujarnya.

Karena itu, ujar Tommy, perlu intervensi teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas. Salah satu caranya, dengan mengalihkan petani menggunakan benih atau menanam bawang merah dari biji.

Kementan bakal fokus untuk seluruh kawasan bawang merah yang difasilitasi APBN tahun ini seluas lebih dari 1.000 hektare untuk menggunakan benih biji. Terlebih saat ini harga benih umbi khususnya jenis Bima Brebes dinilai sangat tinggi hingga mencapai lebih dari Rp70 ribu per kilogram.

“Jika benih segitu maka akan berimbas ke tingginya biaya produksi dan tentu berdampak ke harga jualnya nanti,” ujar Tommy.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *