Kementan: Generasi Muda Penentu Kemajuan Pertanian | Villagerspost.com

Kementan: Generasi Muda Penentu Kemajuan Pertanian

anak muda terlibat dalam pertanian (dok.istimewa)

Jakarta, Villagerspost.com – Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP) Momon Rusmono mengatakan, generasi muda saat ini menjadi penentu kemajuan pertanian di masa depan. “Pemuda mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian,” kata Momon,dalam acara 1st Millenial Indonesian Agropreneurs (MIA) di Botani Square Mall Bogor Jawa Barat pada Jumat (19/4).

Acara itu digelar selama empat hari pada 18 – 21 April. Harapannya, acara itu akan berkelanjutan dan tahun depan berlangsung dalam skala lebih besar, khususnya peserta dari kalangan agribisnis milenial.

Momon menegaskan,pihaknya mengapresiasi Kepala Pusdiktan atas keberaniannya mengadakan gebrakan untuk menyelenggarakan 1st Millenial Indonesian Agropreneurs. Sebab ada kesadaran tentang visi dan misi BPPSDMP bahwa kunci sukses pembangunan pertanian menuju lumbung pangan dunia 2045 adalah pengembangan SDM profesional.

“Mereka harus siap berkompetisi menghadapi perkembangan dan tantangan di luar,” kata Momon Rusmono.

Kegiatan MIA akan mengundang lebih banyak pengusaha agribisnis muda khususnya ┬┤alumnus sukses┬┤ dari program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian [PWMP] sehingga dapat memikat perhatian kaum muda untuk mengenal dan mengetahui potensi sektor pertanian sebagai peluang bisnis dan kesempatan kerja dari pameran produk hasil pertanian dan produk olahannya di MIA 2019.

“Eksibisi MIA 2019 di Botani Square Mall di Bogor diharapkan membuka mata publik khususnya generasi milenial untuk mengembangkan potensi bisnis dan kesempatan kerja di sektor pertanian, khususnya pengembangan PWMP oleh generasi muda,” kata Momon.

Kementan khususnya BPPSDMP menyadari peran kalangan milenial sebagai generasi yang akan bertanggung jawab pada masa depan pertanian Indonesia. Momon juga menegaskan, petani sudah saatnya di re-branding melalui generasi millenial untuk menjadi petani agribisnis modern di masa depan.

Jika dilihat kondisi saat ini, petani hanya didominasi oleh lulusan SD (74 persen) bahkan sebagiannya tidak tamat SD. “Kalau yang sampai perguruan tinggi, hanya 1 persen. Jumlah petani 34 juta jiwa misalnya, berarti hanya 34 ribu petani yang jadi petani berpendidikan tinggi,” ujar Momon.

Karena itu, perlu upaya rebranding profesi petani melalui berbagai strategi yang telah ditempuh Kementerian Pertanian. Pertama, Transformasi dan Revitalisasi Pendidikan Vokasi Pertanian, terutama kurikulum yang berbasis pada dunia usaha dan dunia industri (Dudi).

Pihaknya mengaku sudah melakukan transformasi enam Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yakni Polbangtan Medan, Polbangtan Bogor, Polbangtan Yogyakarta-Magelang, Polbangtan Malang, Polbangtan Gowa dan Polbangtan Manokwari.

“Selain itu 3 SMK-PP di bawah BPPSDMP pun sedang dalam proses menjadi Polbangtan ditambah satu Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI). BPPSDMP juga membina 78 SMK Pertanian di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Pendidikan tinggi vokasi memiliki peran strategis dan berada di garda terdepan untuk penanganan usia angkatan kerja dan mendidik mereka menjadi tenaga-tenaga terampil, profesional dan memiliki daya kompetitif tinggi yang akan meningkatkan daya saing bangsa.

Kedua, Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian. Kini sudah ada 1018 unit kelompok wirausaha muda pertanian secara nasional. “Dengan menjadi wirausaha, anak muda tidak berpenghasilan tetap, tetapi tetap berpenghasilan,” tuturnya.

Ketiga, Penumbuhan Kelompok Usaha Bersama (KUB) khususnya di wilayah Pondok Pesantren (ponpes) dengan pendampingan langsung. Keempat, Pendampingan mahasiswa dan alumni untuk pengembangan pertanian. Setiap tahunnya kurang lebih ada 1500 orang dengan tujuan utama peningkatan minat berusaha dalam bidang pertanian.

Kelima, Penumbuhan kelembagaan petani melalui korporasi petani anak muda. Sehingga tidak hanya menguasai di tingkat huli tetapi juga hingga ke hilir. “Millenial agribisnis harus menguasai semua rantainya mulai dari mencari bahan baku, mengolah dan memasarkan atau mencari pasar,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Pusdiktan Idha WA mengatakan agenda kegiatan MIA yang didukung 30 both dari para pelaku PWMP sukses yang ditata menarik berdasarkan produknya seperti Agro Mekanika Zone (alat, mesin dan contoh hasil proses olahan pangan), Coffee plus Zone (aneka produk perkebunan, hortikultura dan lainnya), hingga Momo plus Zone (aneka produk hasil unggas daging dan telur).

Kegiatan MIA yang berlangsung empat hari, 18 – 21 April 2019, memberi peluang bagi kalangan milenial mengetahui ide dan peluang bisnis serta peluang kerja melalui Millenial Talkshow, Millenial Vlog, Cooking Specialty, MIA Awards, Millenial Meet Bussiness, Millenial Innova tentang bimbingan teknis aneka kopi dan penyeduh kopi atau barista), Music Creative dan Millenial Debate.

“Banyak kegiatan menarik yang digelar MIA 2019, akan hadir beberapa pembicara utama seperti politisi muda Wanda Hamidah dan pendiri Bukalapak, Achmad Zaky, Teddy K Somantri pendiri Kopi Javanero, dan Rici Solihin, salah satu duta petani muda,” kata Idha.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *