Kementan Kembangkan Lahan Kering di Banten

Pertanian di lahan kering (dok. pertanian.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pengembangan lahan kering menjadi areal pertanian untuk mewujudkan target swasembada pangan. Salah satunya adalah di Provinsi Banten, yang mengembangkan lahan kering lewat program Sistem Usaha Pertanian (SUP) Inovatif. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Kementan telah mengidentifkasi potensi luasan lahan kering di Banten yang mencapai 157.546 hektare.

Kepala BBP2TP, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementan Haris Syahbuddin mengatakan, saat ini pihaknya telah berhasil mengembangkan pemanfaatan lahan kering di Kecamatan Cikeusal Kabupaten Serang. Sebagai target utama di wilayah Banten, kecamatan ini memiliki total lahan kering seluas 2.683 hektare. “Kita dorong melalui Sistem Usaha Pertanian Inovatif,” kata Haris, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (3/9).

Haris menyatakan, SUP Inovatif adalah sistem usaha pertanian yang berbasis teknologi, yakni: penerapan mekanisasi pertanian sesuai kebutuhan dan mudah diterapkan. Lalu, pengelolaan lahan dan air yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan iklim, serta dirancang dengan sistim yang dinamis.

Desa Cilayang merupakan satu dari lima belas desa di Kecamatan Cikeusal yang menjadi fokus pengembangan SUP Inovatif dengan sasaran utama adalah Kelompok Tani Tunas Harapan I. “SUP Inovatif yang dikembangkan di lokasi tersebut sarat dengan pengenalan teknologi, antara lain teknologi embung, pompanisasi dan geo-membran, dan teknologi budidaya khususnya budidaya tanaman hortikultura. Selain itu dilakukan pula pendampingan dan bimbingan teknis, hingga bagaimana membangun jaringan bisnis,” terang Haris.

Kurniawan (26), salah satu anggota kelompok tani Tunas Harapan I mengaku, merasakan berbagai manfaat dari kegiatan ini. Pria yang telah mengikuti program SUP Inovatif sejak tahun 2017 ini menambahkan, budidaya sayuran yang digelutinya bersama dengan anggota kelompok tani lainnya telah ada saluran pemasarannya.

Kurniawan menerangkan produksi anggota kelompok tani itu ditampung dan kemudian dipasarkan ke beberapa tempat bahkan tembus ke Pasar Induk Kramat Jati Jakarta dan Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang. “Lahan menjadi produktif, produk berkualitas, dan pemasaran produk juga mudah,” kata Kurniawan.

Haris selaku penanggungjawab kegiatan program berharap, SUP Inovatif dapat menjadi wadah interaksi yang lebih intensif antara Kementan selaku penyedia teknologi, penyuluh sebagai saluran diseminasi serta petani sebagai pengguna teknologi. Kemanfaatan yang dirasakan masyarakat selain mewujudkan peningkatan produksi, juga menciptakan penumbuhan usaha Kelompok Tani serta pengembangan sumberdaya manusia (SDM) Petani.

“Kami minta juga kepada kelompok tani agar selalu semangat untuk belajar mengimplementasikan teknologi dan menerapkannya secara berkelanjutan,” pinta Haris.

Sebagai informasi, Kementan melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian mengidentifikasi seluas 24 juta hektare lahan kering yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman pangan. Lahan kering seluas itu tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Di Pulau Jawa, yang dikenal subur pun terdapat beberapa daerah berlahan kering yang berpotensi untuk dimanfaatkan. Dengan adanya BPTP di tiap provinsi, maka diharapkan bisa bahu membahu bersama penyuluh setempat dalam mengedukasi serta mendampingi kelompok tani dalam penerapannya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *