Kementan Luncurkan Program “Bekerja” di Jawa Timur | Villagerspost.com

Kementan Luncurkan Program “Bekerja” di Jawa Timur

Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan panen padi hibrida di Ngawi, Jawa Timur (dok. kementerian pertanian)

Jakarta, Villagerspost.com – Sejak diluncurkan pada April lalu, Kementerian Pertanian mulai menggalakkan pelaksanaan program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) untuk mengentaskan kemiskinan di desa-desa. Setelah melakukan bedah kemiskinan di Kabupaten Cianjur, Magetan dan Purbalingga, Program Bekerja kini menyentuh Provinsi Jawa Timur.

Terdapat tiga kabupaten yang menjadi lokasi peluncuran Program Bekerja yaitu Bondowoso, Jember dan Lumajang. Selasa (22/5) kemarin, Amran Sulaiman meluncurkan Program Bekerja di Bondowoso, pada Rabu (23/5) hari ini, Amran meluncurkan program tersebut di Jember. Kemudian pada Kamis (24/5) akan dilaksanakan di Kabupaten Lumajang.

Ketiga kabupaten itu menjadi sasaran karena berdasarkan data Kementerian Sosial dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di ketiga wilayah tersebut terdapat jumlah rumah tangga miskin (RTM) yang cukup signifikan. Di Bondowoso tercatat sejumlah 152.348 RTM, Jember 295.291 RTM, dan Lumajang 132.696 RTM.

Amran menegaskan, Program Bekerja merupakan pengejewantahan arahan langsung dari Presiden Joko Widodo agar program kementerian harus fokus pada upaya peningkatan pendapatan dan daya beli mayoritas rumah tangga miskin yang bekerja di sektor pertanian maupun informal di pedesaan. Program pengentasan kemiskinan ini bersinergi dengan Kemensos, BUMN, Kemendes, BKKBN dan pemerintah daerah.

“Kita sinergi atas perintah Presiden. Ini adalah solusi permanen untuk saudara kita yang miskin di desa supaya pendapatannya naik, tidak lagi miskin. Kita siapkan bantuan untuk 1.000 desa dari 100 kabupaten dan 10 provinsi,” ujar Amran pada peluncuran Program Bekerja di Sukogidri, Kecamatan Ledok Ombo, Jember, Rabu (23/5).

Amran menjelaskan bantuan dari pemerintah ini bersifat jangka pendek hingga panjang. Artinya melalui bantuan yang diberikan hendaknya bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin agar pendapatan ekonomi keluarga meningkat secara signifikan asal dikelola dengan baik.

“Dengan kita kerja, kerja, kerja, pendapatan pasti naik. Sesuai arahan Bapak Presiden Jokowi, bantuan jangan disalahgunakan. Kita yakin ke depan rakyat miskin pasti bisa dituntaskan,” ujarnya.

Disamping pemberian bantuan dari program “Bekerja” di Desa Sukogidri Kecamatan Ledok Ombo Kabupaten Jember yang diberikan kepada Rumah Tangga Miskin (RTM) sebanyak 33 KK, Mentan Amran Sulaiman juga meninjau langsung Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPA) yang telah digelontorkan oleh pemerintah berupa alat mesin pertanian di Desa Mayang, Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

Mobilisasi alat mesin pertanian (alsintan) guna menunjang percepatan tanam di Kabupaten Jember dioptimalkan dengan baik. Total bantuan alsintan yang diterima di Kabupaten Jember sebanyak 626 traktor roda 2 (TR2), 2 traktor roda 4 (TR4), 42 combine harvester kecil (CHK), 79 combine harvester sedang (CHS), 10 combine harvester besar (CHB) dan 217 pompa air (PA).

Dengan memanfaatkan alsintan, kata Amran, Indeks Pertanaman meningkat karena sejak pengolahan hingga panen waktunya lebih singkat, seperti yang dilaksanakan di Kabupaten Jember. “Alsintan juga mendorong generasi muda terjun ke sektor pertanian. Dan dapat dipastikan melalui OPA kegiatan pertanian akan lebih mudah, murah dan hemat biaya,” tuturnya.

Amran mengungkapkan bantuan dalam Program Bekerja komoditasnya diarahkan berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing daerah yang menghasilkan nilai ekonomis tinggi. Sasarannya difokuskan pada satu wilayah penduduk miskin yang dikelompokkan dalam 3 klaster.

Setiap klaster, penduduk miskin berjumlah 5 hingga 10 ribu. Solusi jangka pendek dan menengahnya melalui bantuan sayur-sayuran dan bibit ayam petelur berumur dua bulan beserta kandang dan pakan.

“Untuk ayam, bantuan yang diberikan 50 ekor per rumah tangga prasejahtera. Saat usia enam bulan menghasilkan 50 butir per hari dengan masa produktif dua tahun. Sehingga pendapatan Rp 2 juta sampai Rp2,5 juta per bulan,” ungkap Amran.

Sementara solusi jangka panjangnya melalui bantuan tanaman perkebunan sesuai dengan kondisi agro-klimat masing-masing daerah. Misal, Bondowoso yang dikenal sebagai Republik Kopi, bantuan diberikan bibit kopi sebanyak 500 ribu pohon.

“Kita kejar agar kopi Indonesia menjadi nomor satu di dunia, sehingga tidak ada lagi rakyat miskin di Bondowoso. Ada 12.900 rumah tangga miskin di Bondowoso. Jadi nanti dengan ternak ayam dan berkembangnya industri kopi, pendapatan masyarakat naik, tidak ada lagi yang miskin,” ujarnya.

Untuk Jember, lanjut Amran, target lokasi Program Bekerja akan menjangkau pada 21.941 RTM. Selain bantuan ayam dan kambing, pohon mangga dan paket aneka sayuran, sedangkan untuk perkebunan berupa bibit kopi dan pupuk serta pengembangan pekarangan.

“Dengan bantuan ini, Jember harus lepas dari kemiskinan. Pesan Bapak Presiden Jokowi, bantuan jangan disalahgunakan. Jadi mari kita bersama-sama melepaskan rakyat dari kemiskinan,” ucapnya.

Bupati Jember, Hj. Faidah mengungkapkan masyarakat Jember sangat senang menerima bantuan Kementan berupa ternak dan sayuran. Pasalnya, berbagai bantuan sangat cocok dengan aktivitas perekonomian masyarakat petani.

“Saya yakin Program Bekerja sangat tepat dan efektif. Program ini tidak sekedar memberi bantaun, tapi disertai pendampingan. Dengan bantuan ini akan dihasilkan telur 11.800 kg per tahun,”

Dia berharap, Program Bekerja tidak membuat pemerintah pusat kecewa. “Kita buktikan program ini nyata mensejahterakan masyarakat. Yang punya anak, harus mensekolahkan anaknya minimal lulus SMA bila perlu sukses ke perguruan tinggi. Jangan sampai ada anak yang putus sekolah karena alasan biaya,” sambung Faidah.

Hal senada dari Bupati Bondowoso Amin Said Husni. Dia mengatakan, hadirnya Program Bekerja sangat tepat mengentaskan masyarakat miskin di Bondowoso. Ia menilai program ini mampu melakukan akselerasi penurunan angka kemiskinan.

“Kami optimis berbagai bantuan pada program pengentasan kemiskinan ini pasti bisa melakukan akserasi pembangunan pertanian di pedesaan, sehingga pendapatan petani makin meningkat dan angka kemiskinan terus ditekan,” tegasnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), total penduduk miskin Indonesia di desa tahun 2017 mencapai 16,31 juta orang. Angka ini turun dibanding tahun sebelumnya 17,10 juta orang. Penurunan angka kemiskinan tersebut dipengaruhi kemajuan pembangunan pertanian yang mampu menyediakan pendapatan untuk petani dan bahan pangan untuk masyarakat dengan harga stabil.

Untuk semakin menekan angka kemiskinan di desa inilah Kementan kemudian meluncurkan Program Bekerja untuk mengentaskan kemiskinan di tanah air berbasis pertanian. Progam ini dibagi dalam tiga tahapan yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Pada tahun 2018 saat ini Kementan menargetkan Program Bekerja dapat dilaksanakan di 10 provinsi, 776 desa dan 200.000 Rumah Tangga Miskin (RTM).

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *