Kementan: Pemerintah Jamin Keamanan dan Kualitas Telur Konsumsi

Telur ayam di pasaran (dok. pemprov jabar)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan, pemerintah memberikan jaminan atas keamanan dan kualitas produk telur yang dikonsumsi oleh masyarakat. Pemerintah memberikan jaminan berupa Nomor Kontrol Veteriner (NKV).

“Sertifikat NKV adalah sertifikat sebagai bukti tertulis yang sah, telah dipenuhinya persyaratan higienis dan sanitasi sebagai jaminan keamanan produk hewan pada unit usaha produk,” ujar Ketut, dalam siaran persnya, Minggu (14/6).

Hal tersebut ditegaskan Ketut menanggapi isu beredarnya telur-telur tertunas atau telur HE (hatched egg) dan telur infertil. Peredaran telur-telur yang seharusnya untuk pembibitan ayam namun dijual untuk konsumsi ini meresahkan masyarakat dan juga peternak ayam petelur.

Pasalnya, peredaran telur-telur ini membuat pasaran harga telur anjlok sehingga membuat pengusaha ayam petelur merugi. Ketut menegaskan, Ditjen PKH juga telah mengedarkan surat edaran soal pelarangan penjualan telur tertunas atau telur HE dan telur infertil kepada seluruh pimpinan perusahaan pembibitan ayam ras per tanggal 29 April 2020 lalu.

Kementan sendiri sebenarnya telah mengeluarkan larangan menjual telur ayam HE atau telur infertil melalui Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Terkait jaminan keamanan atas telur, Ketut menegaskan, NKV wajib dimiliki oleh semua unit usaha produk hewan termasuk unit usaha budidaya ayam petelur dan unit usaha pengumpulan, pengemasan dan pelabelan telur konsumsi sesuai dengan Permentan No. 11 Tahun 2020 tentang Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner pada unit usaha produk hewan.

Sanksi juga diatur secara tegas. Sanksi bagi unit usaha yang tidak mengajukan sertifikasi NKV atau unit usaha yang belum memenuhi persyaratan teknis (dalam pembinaan maksimal 5 tahun) yaitu mulai dari sanksi administrasi berupa Peringatan Tertulis dan atau Penghentian sementara dari kegiatan produksi hingga pencabutan izin usaha.

“Setiap produk hewan yang diedarkan untuk konsumsi, wajib berasal dari unit usaha yang memiliki NKV,” tegas Ketut.

“Kami semua memahami bahwa persyaratan NKV adalah persyaratan yang ideal yang harus dipenuhi oleh produsen telur untuk menjamin bahwa telur tersebut aman di konsumsi oleh publik,” tambahnya.

Peredaran telur infertil di pasar-pasar sendiri telah meresahkan para peternak dan konsumen. Para konsumen yang tidak mengetahui beda telur dari ayam petelur dan telur infertil yang seharusnya ditetaskan untuk produksi ayam pedaging kerap terkecoh dan membeli telur infertil yang mudah membusuk. Jika membusuk dan dikonsumsi, maka akan berbahaya bagi konsumen.

Sementara bagi peternak ayam petelur, peredaran telur infertil membuat produk mereka terancam karena harga telur infertil yang murah. Bahkan seorang peternak unggas bernama Sukarman sampai berkirim sirat kepada Presiden Joko Widodo terkait masalah ini.

Dalam surat tertanggal 13 Mei 2020 tersebut, Sukarman memohon kepada pemerintah untuk menindak tegas oknum di balik peredaran telur infertil. “Sehari setelah kirim surat, banyak penjual telur infertil yang ditangkapi, di Jawa Tengah, di Bogor,” kata Sukarman yang juga Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera ini.

Peredaran telur infertil sempat mengacaukan pasaran karena harganya bisa mencapai Rp13 ribu per kilogram. Jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah yang menetapkan harga telur di angka Rp19 ribu-Rp21 ribu. Namun, Sukarman menjelaskan, kini harga telur di pasaran yang mulai normal kembali sesuai HPP.

Terkait hal ini, Ketut Diarmita memastikan, pihaknya terus berupaya mendorong kepedulian publik bersama stakeholder, agar petani ternak bisa memperhatikan prinsip-prinsip biosecurity dan biosafety dalam beternak. Untuk itu, penegakan persyaratan NKV ini akan dilaksanakan secara bertahap dan memiliki skala prioritas.

Dalam hal ini diprioritaskan terlebih dahulu terhadap produsen telur, unit usaha atau perusahaan telur yang berskala bisnis dan melayani kebutuhan telur untuk publik. “Konsumen diharapkan cerdas, tidak tergiur dengan harga yang murah. Belilah telur yang memang diperuntukan untuk konsumsi dan berlabel NKV, karena telah dijamin keamanan dan kualitasnya oleh pemerintah,” papar Ketut.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *