Kementan Prediksi Tahun Ini Produksi Beras Berlimpah

Petani menebar pupuk di sawah. Pemerintah yakin tahun 2016 produksi beras berlimpah (dok. distanak.bantenprov.go.id)
Petani menebar pupuk di sawah. Pemerintah yakin tahun 2016 produksi beras berlimpah (dok. distanak.bantenprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Pertanian meyakini produksi beras tahun 2016 akan berlimpah. Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan, ada beberapa alasan pihaknya optimis dengan prediksi tersebut.

Pertama adalah kondisi pertanaman padi periode Oktober-Desember 2015 yang dinilai telah memberikan prospek produksi pada Januari-Maret 2016. Kedua adalah adanya berbagai program pemerintah di 2015 yang melakukan antisipasi dini dan penanganan kekeringan secara masif diantaranya penyaluran pompa dan alat mesin pertanian, rehabilitasi embung, long-storage, rehab jaringan irigasi, hujan buatan dan lainnya.

Ketiga adalah adnya Gerakan Percepatan Tanam Padi November 2015 hingga kini telah menunjukkan prospek yang menggembirakan. Suwandi mengatakan, berkat program-program tersebut telah menunjukkan kinerja luas tanam Oktober-Desember 2015.

“Berdasarkan realisasi tanam tersebut, maka bulan Februari 2016 diperkirakan akan dipanen 5 juta ton gabah setara 3,1 juta ton beras dan pada Maret 2016 akan dipanen 12,6 juta ton gabah setara 7,9 juta ton beras. Produksi tersebut cukup guna memenuhi kebutuhan konsumsi beras penduduk sekitar 2,6 juta ton per bulan,” ujarnya, Rabu (27/1).

Selain berbagai program di 2015, di tahun ini pemerintah juga tetap meneruskan program seperti penyedian alsintan dan brigade tanam, membangun embung dan long-storage, irigasi rawa, cetak sawah, perluasan lahan kering, rehab irigasi, optimasi lahan, pola tanam jajar legowo, dan bantuan benih unggul. Program ini dilakukan dengan alokasi yang lebih besar dibandingkan 2015.

Selain itu pemerintah juga meluncurkan program pendampingan petani secara masif oleh kerja keras penyuluh, Babinsa, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), dosen/mahasiswa dan lainnya yang diyakini berdampak pada produksi 2016. “Jenis program diarahkan pada penyelesaian masalah utama dan output-nya dapat dirasakan langsung petani serta berdampak pada perekonomian, Kementan telah melakukan refocusing program 2016 sebesar Rp4,3 triliun,” papar Suwandi.

Dia mengklaim, berbagai kebijakan 2015 telah terbukti dan terlihat hasilnya di lapangan. Pengadaan dengan pola penunjukan langsung berdampak pada penyaluran benih dan pupuk secara tepat waktu/musim. Kebijakan bantuan benih tidak di lokasi existing akan berdampak pada luas tambah tanam, perbaikan irigasi berdampak meningkatkan Indeks Pertanaman, Alsintan mempercepat olah tanam, waktu tanam, panen dan pasca panen, efisiensi biaya dan mengurangi lossis. Pola tanam jajar legowo dan benih unggul meningkatkan produktivitas.

“Dengan demikian pada tahun 2016 optimis produksi padi lebih tinggi dari 2015 berkat program nyata dari Pemerintah. Bahkan prospek 2016 akan tertinggi dari produksi selama ini. Kita harus optimis, karena optimis itu memberikan spirit dan doa untuk bekerja keras dan berbuat sesuatu yang lebih baik,” ujar Suwandi.

Suwandi menambahkan, kerja keras semua pihak dalam meningkatkan produksi tahun 2015 pun sudah terbukti. Dengan kondisi El-Nino 2015 yang lebih kuat dibandingkan tahun 1997, para petani mampu meningkatkan produksi 74,99 juta ton GKG naik 5,85% dibandingkan tahun 2014 (data BPS Angka Ramalan-II 2015).

“Bila dibandingkan kekeringan tahun 1997 Indonesia mengimpor beras 1998 sebesar 7,1 juta ton untuk memenuhi konsumsi pangan, maka tahun 2015 penduduk belum mengonsumi beras medium dari impor,” pungkasnya.

Beras Impor Belum Masuk Pasar

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman telah mengklaim beras impor sebanyak 900 ribu ton yang sudah masuk ke tanah air sampai saat ini masih tersimpan di gudang belum dijual ke pasar. “Hingga saat ini, 900 ribu ton beras impor masih di gudang Bulog. Bukti bahwa impor beras yang dilakukan Pemerintah benar-benar hanya sebagai cadangan nasional saja,” kata Amran di Gedung DPR, Jakarta, Senin (25/1).

Amran menjelaskan, saat ini kebutuhan beras nasional mencapai 2,6 juta ton per bulan. Sejauh ini, produksi beras nasional masih bisa mencukupinya. “Hingga hari ini, penduduk Indonesia belum mengkonsumsi beras impor. Konsumsi beras sebesar 2,6 juta ton per bulan bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri,” ujarnya.

Kementan memang mengacu pada data BPS pada 2 November 2015, yang menetapkan Angka Ramalan (Aram)-II 2015, produksi padi sebanyak 74,99 juta ton gabah kering giling (GKG). Atau naik 5,84% di banding produksi 2014.

Produksi itu setara beras 43,61 juta ton. Sementara konsumsi beras nasional sebesar 33,35 juta ton. Artinya, ada surplus 10,25 juta ton, tersebar di produsen, penggilingan, pedagang, industri, rumah makan, restoran, konsumen dan di Perum Bulog.

Sementara, persediaan beras untuk Januari hingga Maret 2016, dipastikan melimpah. Mengingat, Februari nanti bakal dilakukan panen sebanyak 5 juta ton gabah atau setara 3,1 juta ton beras. Sedangkan Maret 2016 ada tambahan dari panen sebanyak 12,56 juta ton gabah, setara 7,9 juta ton beras.

Pihak Kementan mengatakan, kalau prediksi tidak meleset, maka akan ada tambahan beras sebanyak 11 juta ton dari dua bulan itu. Angka itu diklaim sangat mencukupi karena konsumsi beras nasional hanya 2,6 juta ton per bulan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *