Kementan Segera Atasi Anjloknya Harga Cabai

Ilustrasi perkebunan cabai (dok. kementerian pertanian)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Pertanian segera mengambil langkah strategis untuk mengatasi anjloknya harga cabai di tingkat petani di sentra-sentra produksi cabai. Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi mengatakan, pihaknya pada Senin (4/2) lalu telah mengumpulkan petani cabai andalan yang tergabung dalam champion cabai dari 20 dinas pertanian kabupaten sentra utama, dinas-dinas pertanian sentra cabai, KTNA, HKTI dan Satgas Pangan.

“Ini kami lakukan dalam rangka konsolidasi untuk mencari solusi yang cepat, tepat dan bisa dieksekusi agar harga cabai menguntungkan petani,” kata Suwandi, di Jakarta, Selasa (5/2).

Dari hasil konsolidasi tersebut, Suwandi mengatakan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi anjloknya harga cabai. Pertama, mendorong sektor hilir, seperti logistik distribusi, substitusi bahan olahan industri dengan cabai lokal, pengembangan industri olahan skala rumah tangga.

Kedua, membangun koordinasi dengan pihak asosiasi penerbangan Indonesia untuk subsidi biaya kargo dan mendorong pemerintah daerah tetap menginisiasi pasar lelang cabai. Ketiga, membangun sinergitas dengan semua lembaga terkait dan pemangku kepentingan. Sebab untuk menyelesaikan semua masalah tidak bisa sendiri-sendiri, tapi perlu dukungan dari berbagai sektor.

“Bahkan yang terpenting saat ini agar ongkos kargo pesawat untuk mengirim ke luar Jawa lebih murah. Saat ini banyak dikeluhkan naiknya biaya angkut pesawat,” papar Suwandi.

Suwandi memaparkan, dari hasil koordinasi dengan berbagai pihak, juga dihasilkan beberapa solusi yang bersifat jangka pendek, menengah dan panjang. Jangka pendek yang bisa dilakukan antara lain melakukan evaluasi impor cabe olahan, menjalin kemitraan dengan industri makanan, mencari alternatif angkutan yang lebih murah.

“Untuk jangka menengah meningkatkan provitas untuk menekan BEP dan pengembangan industri olahan. Sedangkan untuk jangka panjang bisa dilakukan dengan penumbuhan unit pengolahan atau BUMD dengan dukungan logistik modern,” tutur Suwandi.

Suwandi juga meminta petani mengikuti 10 jurus stabilisasi pasokan dan harga stabil. Pertama, gunakan benih unggul sehingga produksi dan provitas naik. Kedua, ikuti anjuran manajemen pola tanam, diversifikasi tanam dan tumpang sari dari petani champion. Ketiga, pupuk organik ramah lingkungan dibuat sendiri sehingga efisien biaya.

Keempat, pestisida hayati ramah lingkungan dibuat sendiri. Kelima, terapkan cara pasca panen yang baik. Keenam, hirilisasi olahan pasta, goreng dan lainnya dengan skala rumah tangga dan usaha kecil.

Ketujuh, lanjutnya, membangun kemitraan dengan usaha olahan dan pasar. Kedelapan, membentuk koperasi sehingga terkoordinir, teknologinya seragam dan hasil pasarnya bersama-sama. Kesembilan, membentuk pasar lelang di level farmgate sehingga petani peroleh harga tertinggi, cash and carry dan tercipta one region produk bersama champion. Kesepuluh membangun sistem logistik dan coldstorage untuk menyimpan produk dalam jumlah besar untuk memasok antar pulau maupun ekspor.

Suwandi menambahkan, Kementan bersama Pemda dan Penyuluh membina petani untuk efisiensi input dengan cara memproduksi sendiri pupuk organik dan pestisida hayati ramah lingkungan, memfasilitasi benih unggul sarana pasca panen sesuai skala prioritas. “Kesepuluh jurus tersebut sebagian merupakan solusi jangka pendek dan sebagian solusi jangka menengah dan panjang,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ismal Wahab mengatakan, beberapa solusi yang sifatnya mendasar dalam menjaga stabilisasi harga. Yakni harus hitung dulu berapa tingkat kebutuhan perwilayahan. “Baru kita hitung berapa yang harus kita tanam,” kata Ismail.

Menurut Ismail, penanaman cabai pun harus tetap berbasis kawasan, namun harus dihitung berdasarkan kapasitas kebutuhan di masing-masing daerah. “Kuncinya satu, tingkat kepatuhan manajemen pola tanamnya harus dikawal ketat,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid menegaskan pelaku usaha cabai Indonesia harus mampu mengembangkan diri baik teknologi maupun pemasaran. Hasilnya, banyak permasalahan cabai yang bisa dielesaikan dan minimal dapat mengurangi resiko kerugian akibat harga fluktuatif.

“Yang jadi masalah sebenarnya bukan harga yang murah saja, tetapi biaya produksi kita yang mahal. Nah kita harus bisa mengurangi biaya usaha tani agar cabai dan petani kita bisa tetap eksis,” jelasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *