Kerja Sinergis untuk Implementasi UU Desa

Pembangunan jalan desa untuk meningkatkan konektivitas desa (jeparakab.go.id)
Pembangunan jalan desa untuk meningkatkan konektivitas desa (jeparakab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kemandirian desa adalah merupakan amanan terpenting dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Untuk mewujudkannya, sangat dibutuhkan kerja sinergis antara semua elemen bangsa. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar mengatakan, salah satu upaya untuk mengimplementasikan UU Desa adalah dengan menerbitkan lima aturan teknis berupa peraturan menteri desa (Permen Desa) sebagai panduan dalam mengawal implementasi UU Desa.

Kelima aturan teknis itu adalah pertama Permen Desa No.1/2015 tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa. Kedua, Permen Desa No.2/2015 tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa. Ketiga, Permen Desa No.3/2015 tentang Pendampingan Desa. Keempat, Permen Desa No. 4/2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa. Kelima, dan Permen Desa No.5/2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015.

Penerbitan kelima aturan teknis itu, kata Marwan, hanyalah bagian dari proses panjang untuk memajukan desa secara hakiki. “Butuh kerja bersama dan sinergis antar elemen Pemerintah, perguruan tinggi, jajaran Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, dan organisasi masyarakat sipil,” kata Marwan, seperti dikutip kemendesa.go.id, Sabtu (27/12).

Marwan menegaskan, Gerakan nasional Desa Membangun bisa terjebak pada jalan buntu jika program untuk desa dijalankan dengan pendekatan yang parsial. Apalagi jika semua pihak bekerja sendiri-sendiri dengan mengedepankan ego sektoral masing-masing.

“Kita harus menyadari bahwa implementasi UU Desa merupakan agenda besar yang kompleks dan penuh tantangan. Kita membutuhkan kerja sama yang sinergis antar berbagai elemen Pemerintah, perguruan tinggi, jajaran Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, dan organisasi masyarakat sipil,” lanjut Marwan.

Kementerian Desa PDTT, kata Marwan, telah memetakan berbagai problem yang harus diatasi dalam implementasi UU Desa. Dia mengungkapkan, sedikitnya ada enam tantangan besar dalam implementasi UU Desa. Pertama, adanya fragmentasi penafsiran UU Desa di tingkat elit yang berimplikasi pada proses implementasi dan pencapaian mandat yang tidak utuh, bahkan mengarah pada pembelokan terhadap mandat UU Desa.

UU Desa, kata Marwan, tidak hanya mengamanatkan pengaturan tentang keuangan Desa yang salah satunya diwujudkan dalam bentuk Dana Desa. Tetapi juga meliputi pengakuan terhadap kewenangan Desa, kerja sama antar Desa, penguatan lembaga kemasyarakatan Desa, penetapan dan pemberdayaan Desa adat, partisipasi masyarakat Desa, dan lain-lain.

“Semua ini mesti diimplementasikan secara utuh, sehingga amanat UU Desa dapat terlaksana secara komprehensif,” tegasnya.

Kedua, di tingkat pemerintahan Desa terjadi pragmatisme yang mengarah pada hilangnya kreativitas dalam menggali sumber daya lokal di desa. Di satu sisi Dana Desa menjadi berkah bagi Desa yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Desa. Namun di sisi lain Dana Desa belum digunakan secara optimal untuk menggali sumber pendapatan baru melalui investasi produktif yang dijalankan oleh masyarakat.

“Akibat itu semua, Dana Desa terkesan menimbulkan ketergantungan baru, karena belum digunakan untuk kegiatan yang dapat menopang perekonomian masyarakat setempat serta meningkatkan pendapatan asli Desa. Dan yang lebih parah lagi adalah penggunaan Dana Desa masih melakukan replikasi atas ‘village project’ sebelumnya yang bias pembangunan infrastruktur,” urai Marwan.

Ketiga, demokratisasi Desa masih menghadapi kendala praktek serba administratif. Aparatus Pemerintah Daerah cenderung melakukan tindakan kepatuhan dari ‘Pusat’ untuk mengendalikan Pemerintah Desa, termasuk dalam hal penggunaan Dana Desa. Padahal UU Desa telah mengakui kewenangan yang dimiliki oleh Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan hak asal-usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya secara demokratis dan partisipatif.

“Di sisi lain, demokratisasi Desa juga masih terkendala oleh lemahnya tingkat partisipasi yang substantif dan konstruksif dari masyarakat Desa. Pada dimensi inilah pemerintah dan pemerintah daerah seharusnya berperan aktif untuk membina dan memberdayakan masyarakat Desa dalam rangka meningkatkan kualitas partisipasi mereka,” kata Marwan.

Keempat, proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa berhadapan dengan realitas masyarakat perdesaan yang didominasi oleh masyarakat miskin yang salah satu penyebabnya karena struktur penguasaan dan pemilikan sumber-sumber agraria yang timpang. Masalah penguasaan rakyat atas tanah dan sumber daya alam belum terintegrasi dan menjadi basis dari proses pembangunan dan pemberdayaan desa.

“Masalah-masalah struktural seperti konflik agraria, kepastian hak Desa atas wilayahnya dan kedaulatan dalam mengatur ruang Desa belum tercermin dalam kebijakan pembangunan dan pemberdayaan Desa,” ujarnya.

Kelima, partisipasi perempuan dalam musyawarah Desa belum tersebar luas di Desa. Praktik pelaksanaan Musyawarah Desa cenderung patriarki, peran perempuan mengalami marjinalisasi ketika mereka menyampaikan usulan yang berkaitan dengan kepentingan tubuh, nalar, dan keberlangsungan hidupnya.

Keenam, tata ruang kawasan perdesaan yang harus tunduk dengan tata ruang ala ‘Pemda/Dinas PU’ cenderung tidak sebangun dengan aspirasi Desa-desa. Agregat dari pembangunan Desa skala lokal terkendala dengan pola kebijakan Tata Ruang Perdesaan yang berpola ‘top-down’.

Hal ini tidak jarang menyebabkan Desa kehilangan akses sumber daya akibat kebijakan tata ruang yang belum mengakomodir aspirasi Desa. “Kompleksitas masalah dan tantangan itu mengharuskan kita semua segera berbenah diri dan mengambil tindakan konkret untuk menyelesaikannya. Dibutuhkan koordinasi dan konsolidasi nasional guna menyatukan berbagai aspirasi pihak yang ikut mengimplementasikan UU Desa,” pungkas Marwan.

Sementara itu, salah satu hal lain yang juga mendapatkan perhatian penting dalam upaya mewujudkan kemandirian desa adalah penyaluran dana desa yang untuk tahun ini dianggarkan sebesar Rp20,7 triliun. Tahun depan, anggaran itu bahkan dinaikkan menjadi Rp47 triliun.

Dengan peningkatan itu, maka setiap desa tahun depan diharapkan akan mendapatkan dana desa mendekati angka Rp1 miliar. Hanya saja seperti diingatkan Presiden Joko Widodo, para kepala desa harus mengarahkan dana desa khususnya tahun depan untuk sektor produktif.

Sektor yang mendapatkan perhatian khusus Jokowi adalah pembangunan irigasi dan pembangunan jalan desa. Irigasi, menurut Presiden Jokowi, sangat penting untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya beras. Sementara, jalan desa penting untuk enunjang distribusi hasil panen.

Jokowi juga menegaskan, penggunaan dana desa lebih baik diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur yang swakelola. “Penggunaan dana desa dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan monitoring yang baik dengan cara mengajak masyarakat untuk rembug desa,” kata Jokowi saat melakukan saresehan dengan para Kepala Desa dan Perangkat Desa seluruh Indonesia di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Sabtu (26/12) kemarin.

Jokowi menekankan, niat pemerintah menaikkan dana desa hingga mencapai hampir Rp1 miliar per desa adalah juga untuk menigkatkan jumlah peredaran uang di desa. Karena itu dia mengingatkan agar uang yang sudah ditransfer ke desa itu agar tidak keluar lagi dari desa.

Untuk mencegah hal itu, kata Presiden, masyarakat desa harus mengurangi pembelian material pembangunan dari kota. Misalnya bangun jalan atau irigasi, batu dan pasir cari yang ada. Tinggal semen yang bisa dibeli di kota,” kata Presiden Jokowi.

Demikian pula dengan tenaga kerja yang digunakan, menurut Jokowi, harus berasal dari desa. “Tenaga kerja sebanyak 20 hingga 30 persen berasal dari desa karena dana desa diarahkan untuk padat karya. Semakin banyak orang bekerja maka penggunaan dana desa semakin baik, semakin terdistribusi,” pungkas Presiden. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *