Ketika Dunia tak Peduli Nasib Gaza

Anak-anak Palestina di Gaza (dok. oxfam.org.uk)
Anak-anak Palestina di Gaza (dok. oxfam.org.uk)

Jakarta, Villagerspost.com – Komunitas internasional didesak untuk segera mengubah sudut pandang pendekatannya terkait masalah Gaza. Negara-negara di dunia juga didesak untuk segera mewujudkan janjinya untuk mengucurkan bantuan untuk merekonstruksi kawasan Gaza yang hancur lebur akibat pemboman yang dilakukan tentara Israel.

Desakan itu disampaikan 46 agensi bantuan internasional diantaranya Oxfam, Save The Children, ActionAid, CARE International, Council for Arab-British Understanding, Secours Islamique France dan Secours Catholique-Caritas France. Ke-46 lembaga itu mengatakan, enam bulan setelah negara donor menjanjikan bantuan sebesar US$3,5 miliar ke Gaza untuk pemulihan, keadaan penduduk Gaza masih sangat buruk. Juga tak satupun dari 19.000 rumah yang hancur, dibangun kembali. Sejumlah 100,000 orang masih tak memiliki tempat tinggil dan tinggal di kamp-kamp penampungan atau sekolah.

Dalam laporannya yang berjudul “Charting a New Course: Overcoming the stalemate in Gaza,” atau menentukan arah baru, mengatasi kebuntuan di Gaza, ke-46 lembaga itu mengingatkan, konflik lebih jauh tak bisa dihindari. Demikian pula juga lingkaran penghancuran dan dana donor untuk rekonstruksi, kecuali pemimpin dunia menerapkan pendekatan baru yang menekankan pada penyelesaian dari penyebab utama terjadinya konflik.

Negara-negara donor harus menekankan pada terjadinya gencatan senjata secara permanen, menuntut pertanggungjawaban dari seluruh pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hukum internasional dan mengakhiri blokade atas Gaza yang memerangkan 1,8 juta warga Palestina di Gaza dan terus membuat mereka terpisah dari kawasan Tepi Barat. Ketimbang mempersoalkan blokade, laporan itu menemukan, kebanyakan pemberi bantuan menerima jalan untuk bekerja di wilayah itu.

Direktur Eksekutif Oxfam Winnie Byanyima, mengatakan, janji-janji negara donor yang diucapkan pada konferensi negara donor hanya menjadi janji kosong. “Hanya sedikit terjadi pembangunan kembali, tidak ada gencatan senjata secara permanen dan tidak ada rencana untuk menghentikan blokade. Komunitas internasional berjalan berjalan dengan mata terbuka untuk konflik berikut yang bisa dihindari dengan menegakkan status quo yang mereka katakan sendiri harus diubah,” katanya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (14/4).

Sementara itu, William Bell dari Christian Aid mengatakan, dunia harus meyakinkan konflik terkini dan paling menghancurkan haruslah menjadi yang terakhir. “Pasti akan ada konsekuensi ketika pelanggaran terus terjadi. dengan memfasilitasi budaya pengampunan, dunia internasional berkomitmen pada diri sendiri secara tanpa batas untuk sekadar hanya memunguti potongan-potongan,” katanya.

Hanya 26,8 persen dari dana yang dijanjikan negara donor enam bulan lalu telah dikucurkan sejauh ini. Banhkan ketika ada dana pun, banyak proyek rekonstruksi tidak bisa dimulai karena adanya keterbatasan bahan material akibat terjadinya blokade. Kebanyakan dari 81 klinik kesehatan dan rumah sakit yang mengalami kerusakan juga kekurangan dana untuk melakukan rekonstruksi. Tetapi sedikit dana yang sudah dikucurkan juga tak bisa dibelikan bahan bangunan.

Tony Laurance, CEO dari MAP UK mengatakan, dunia telah menutup mata dan telinganya atas penduduk Gaza saat mereka sangat membutuhkannya. “Rekonstruksi tidak akan bisa dilakukan tanpa danam tetapi hanya bantuan uang saja juga tidak akan cukup. Dengan adanya blokade, kita hanya merekonstruksi kehidupan yang penuh penderitaan, kemiskinan dan keputusasaan,” ujarnya.

Sejak adanya gencatan senjata sementara, pelanggaran atas warga sipil terus berlanjut, dengan terjadinya 400 lebih insiden dimana tentara Israel menembaki wilayah Gaza dan empat roket ditembakkan dari Gaza ke Israel sebagai aksi balasan.

Laporan itu mengimbau ke seluruh pihak untuk melakukan negosiasi gencatan senjata jangka panjang. Laporan itu juga mendesak Israel untuk menghentikan blokade dan kebijakan memisahkan Gaza dari Tepi Barat dan untuk para aktor politik Palestina juga didesak untuk segera berekonsiliasi dan memprioritaskan rekonstruksi. Laporan tersebut juga mendesak Mesir untuk membuka perbatasannya untuk mengizinkan bantuan internasional memasuki Gaza.

Baru-baru ini, negara donor berhasil meningkatkan aliran masuk barang-barang material, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dan dampaknya masih sangat kecil sementara blokade atas Gaza masih berlangsung. laporan tersebut menegaskan beberapa rekomendasi kepada komunitas internasional untuk mendobrak lingkaran penghancuran dan konflik.

Rekomendasi tersebut pertama, mempercepat upaya rekonstruksi dengan mengirimkan bantuan yang dijanjikan dan mengirimkan bantuan material yang penting dalam kerangkan hukum internasional. Kedua, meyakinkan semua pihak untuk menegakkan hukum atas terjadinya pelanggaran hukum internasional, termasuk dengan mempertimbangkan berlakunya Traktar Perdagangan Senjata atas senjata yang digunakan untuk melukai penduduk sipil dan meminta kompensasi atas proyek bantuan yang dirusak.

Ketiga, mengakhiri blokade dan merahibilitasi ekonomi Gaza yang hancur. Blokade telah membuat Gaza sangat tergantung pada bantuan dengan 80 persen populasi menerima bantuan internasional dan 63 persen anak mudanya menganggur. Ekspor dari kawasan Gaza hanya kurang dari dua persen dari tgingkat saat sebelum dilakukannya blokade dan aliran manusia dan barang antara Gaza dan Tepi Barat sama sekali tak ada.

Keempat, mendukung pembentukan pemerintah Palestina bersatu. Kepemimpinan Palestina untuk masalah rekonstruksi saat ini sangat lemah dan tak terkoordinir dan juga menjadi sangat rumit akibat adanya pembatasan dari Israel atas perjalanan pejabat resmi Palestina. Membiarkan Gaza terpisah dari kawasan Tepi Barat memperdalam masalah adanya pemisahan antara Fatah dan Hamas dengan dampak yang negatif terhadap pengiriman bantuan dan layanan untuk Gaza. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *